Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#50# Tidak Bisa Melupakan Perasaanku Padamu


__ADS_3

"Kenapa kau tidak marah Freya? Kesedihan selama 3 tahun ini kau lupakan begitu saja ya" ucap Sinta, masih kesal dengan sikap sepupunya itu.


Freya hanya tersenyum saja melihat kelakuan sepupunya itu. "Karena kejadian 3 tahun lalu juga bukan karena Arven yang salah. Jelas aku yang terlalu memaksakan diri, di saat aku tahu kalau keluarganya tidak menyukaiku"


Arven menggenggam tangan Freya sejak tadi, namun kali ini genggamannya terasa semakin erat saat dia mendengar ucapan Freya barusan. Sungguh dia akan sulit memaafkan Papanya akan hal yang sudah dia lakukan pada Freya.


Arven menatap Sinta yang terlihat tidak suka padanya. "Aku janji kalau hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Aku juga tidak akan sampai membuat kamu dan Bibi terancam bahaya karena Freya kembali bersamaku"


Sinta hanya mendengus kesal, dia masih ingat bagaimana Freya yang menangis setiap malamnya sambil menatap foto mereka berdua. Sangat sulit untuk Freya melalui masa tersulit dalam hidupnya itu.


"Emm, Haura, Sinta, apa kalian bisa biarkan aku bicara berdua dengan Arven. Ada hal yang harus aku bicarakan dengannya" ucap Freya.


"Baiklah, selesaikan masalah diantara kalian selama ini" ucap Haura.


"Aku harap, kamu tidak menerimanya kembali ya Freya" teriak Sinta yang tubuhnya di dorong keluar oleh Haura.


Freya hanya tersenyum dan menggeleng pelan melihat kelakuan Sinta itu. "Maaf ya, dia memang seperti itu"


Arven menggeleng pelan, dia menatap Freya yang tersenyum sambil menatap pintu ruangan yang tertutup. "Kenapa kamu tidak pernah bilang jika Papa mengancam kamu"


Freya langsung menoleh pada Arven, dia tersenyum tipis. "Karena tidak ada kesempatan untuk berbicara denganmu. Kalau aku berani mengadu padamu, maka Sinta dan Bibi akan semakin menjadi korbannya. Saat itu, mereka hampir mati tertabrak dan aku mendapatkan pesan dari Papa kamu. Jadi, sudah tidak ada pilihan lagi bagiku. Mau bagaimana pun, Bibi dan Sinta adalah keluarga yang masih aku punya sekarang"


Arven mengecup punggung tangan Freya, lalu dia menatap gadis itu dengan lekat. "Sekarang kau tidak perlu takut lagi. Aku akan menjagamu setiap saat"

__ADS_1


Freya menggeleng pelan, dia tersenyum sambil menatap Arven. "Kita tidak akan bisa bersama lagi Arven. Aku datang kesini hanya untuk membantumu saja. Sekarang kamu sudah sembuh, dan kita bisa jalani hidup kita masing-masing lagi seperti 3 tahun ini"


Arven langsung berdiri dari duduknya, dia menatap Freya dengan lekat tanpa sedikit pun melepaskan genggaman tangannya. "Gak! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Sekarang kamu sudah bersamaku, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi"


"Tapi Arven, kita tidak bisa melanjutkan hubungan yang sudah berakhir ini memang sebaiknya tetap berakhir. Kamu jangan egois, sekarang kamu sudah bersama Katlyn, dan tidak mungkin kembali bersama denganku" ucap Freya dengan suara bergetar.


Hatinya sakit, hatinya terluka saat dia mengucapkan hal itu. Seolah menyadarkan dirinya sendiri kalau sekarang Arven sudah menjadi milik orang lain. Tidak ada lagi harapan untuk Freya bisa memilikinya lagi.


Arven menggeleng pelan, matanya sudah berkaca-kaca. Sangat takut kalau sampai Freya kembali meninggalkannya, cukup sekali saja Arven hancur karena hampir kehilangan Freya. Saat ini dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.


"Masalah Katlyn, dia mengetahui jelas tentang perasaanku yang sebenarnya. Tentang kamu, dia juga tahu semuanya. Aku hanya menuruti keinginan Papa saja untuk bertunangan dengannya, tapi Katlyn sendiri tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Tidak ada yang aku tutup-tutupi dari dia" ucap Arven.


Freya terdiam mendengar hal itu, dia tidak menyangka kalau Arven bahkan memberi tahu tunangannya tentang hubungannya dengan Freya yang sudah kandas ini.


Arven duduk di pinggir ranjang, mengecup beberapa kali tangan Freya yang berada dalam genggamannya. "Karena selama tiga tahun berlalu sama sekali tidak dapat merubah apapun dalam hidupku. Termasuk perasaanku padamu yang tidak bisa berubah dan tidak bisa aku lupakan. Hanya kamu yang ada dihatiku, meski sudah berusaha sekuat hati untuk membiarkan Katlyn masuk ke dalam hatiku untuk menggantikanmu. Tapi tidak bisa"


Freya bahkan tidak menyangka jika dia masih memiliki hati Arven setelah dulu dia memutuskan hubungan dengan begitu menyakitkan. Sengaja Freya melakukannya saat itu, hanya karena memang dia ingin Arven membencinya dan segera melupakannya. Tapi ternyata dugaannya salah.


"Aku sama sekali tidak bisa melupakan kamu dan tentang perasaanku padamu" ucap Arven yang mengerti dengan tatapan Freya.


"Tapi...." Rasanya sangat sulit untuk Freya mengeluarkan kata-kata lagi saat ini. Bagaimana Arven yang menjelaskan jika perasaannya masih sama seperti dulu padanya.


Arven langsung meraih tubuh Freya ke dalam pelukannya, air matanya yang menetes begitu saja yang langsung Arven usap kasar dengan punggung tangannya.

__ADS_1


"Maafkan aku karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai aku sempat menyalahkanmu dan mengeluarkan kata-kata yang begitu kasar padamu. Aku minta maaf Sayang" ucap Arven.


Tubuh Freya sedikit bergetar mendengar panggilan itu lagi dari Arven untuknya. Setelah tiga tahun lamanya, akhirnya dia kembali mendengar panggilan itu lagi untuknya dari pria yang masih menjadi pemilik hatinya.


"Lalu sekarang kita akan bagaimana?" tanya Freya yang bingung dengan hubungan mereka yang entah bagaimana kejelasannya.


Arven melerai pelukannya, menatap Freya dengan lekat. "Kita akan kembali bersama, aku akan segera menikahimu"


Deg,, seketika mata Freya langsung terbelalak mendengar ucapan Arven barusan. "Me-menikah?"


"Ya, kita akan menikah setelah keadaan kamu benar-benar pulih" ucap Arven tanpa ada keraguan sedikit pun.


Freya malah diam saja seperti orang linglung, dia memang masih belum percaya dengan apa yang barusan dia dengar dari Arven. Menikah? Memang itu tujuan semua orang, termasuk Freya. Menikah dengan orang yang dicintai adalah impian semua orang. Tapi apa secepat ini? Setelah apa yang dilaluinya dengan Arven.


Gemas sendiri dengan wajah kebingungan Freya itu membuat Arven langsung mencium bibirnya. Tentu saja membuat Freya terkejut dengan tindakan Arven ini. Namun tidak bisa membohongi jika dirinya juga merindukan ciuman ini.


Perlahan tangan Freya mengalung di leher Arven, menikmati setiap sentuhan lembut bibir Arven di bibirnya dengan mata yang mulai terpejam. Setelah sekian lama, akhirnya keduanya bisa melepaskan rindu dengan memberikan ciuman penuh kerindukan ini.


Setelah merasa puas dan Freya yang sedikit tersengal, Arven melepaskan tautan bibir mereka. Saling menyatukan kening dengan nafas yang terengah-engah.


"Freya, aku mencintaimu. Mulai sekarang kita akan hadapi semua masalah bersama-sama" ucap Arven.


Freya hanya tersenyum dan mengangguk saja, karena tidak bisa dibohongi jika hatinya juga ingin kembali bersama Arven. Meski kemungkinannya akan sedikit rumit dan sulit.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2