Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#37# Tidak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Haura tertegun mendengar ucapan Freya dan tangisan dari gadis itu yang tiba-tiba pecah. Segera Haura memeluknya dengan erat. Sungguh, Haura jadi ikut sedih dengan keadaan sahabatnya ini.


"Sebenarnya ada apa dengan kamu dan Arven? Bukannya kamu mencintainya" ucap Haura dengan bingung.


Freya mengangguk pelan, isak tangisnya semakin terdengar. "Aku memang sangat mencintainya, namun sekarang apa yang bisa aku lakukan, kalau terus bersamanya akan membuat orang-orang di sekitarku terluka"


Mendengar itu langsung membuat Haura semakin erat memeluknya. "Freya, sebenarnya apa yang terjadi?"


Freya melerai pelukannya, dia menatap Haura dengan air matanya yang tidak mau berhenti mengalir di pipinya. Sekarang dia bahkan tidak bisa menutupi kesedihannya lagi dari sahabatnya ini. Karena Haura juga menyadari sikap Freya yang akhir-akhir ini selalu terlihat sedih dan tidak pernah bersemangat.


"Semuanya demi keluargaku..." Freya mulai menceritakan semuanya pada Haura, dia sudah tidak bisa menyembunyikan semuanya dari Haura lagi.


Mendengar ucapan itu membuat Haura langsung memeluknya dengan erat. Rasanya Haura tidak pernah membayangkan bagaimana keadaan Freya dan perasaannya saat ini. Sungguh sangat tidak bisa membayangkan sesakit apa yang Freya rasakan saat ini.


"Sabar Sayang, kamu sudah mengambil keputusan yang benar. Karena bisa saja kalau tidak pada keluarga kamu, maka bisa saja nyawa kamu yang akan terancam jika terus memaksakan diri dengan dia" ucap Haura, sambil mengelus punggung Freya yang bergetar itu.


Tangisan yang terdengar begitu menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Sungguh sekarang ini, Freya sedang hancur dengan keadaan yang ada. Tidak ada yang bisa dia lakukan ketika semuanya memang sudah menjadi keputusan yang memang seharusnya dia ambil. Jika tidak mau Freya kembali kehilangan keluarganya yang tinggal Bibi dan Sinta.


#######


Arven keluar dari dalam lift dengan wajah datar dan dinginnya. Tidak sama sekali menunjukan keramahannya. Bahkan sosok Arven sekarang lebih sulit untuk di sentuh dari sebelumnya. Dia yang begitu dingin dan membangun benteng tinggi pada orang-orang yang akan mendekatinya. Termasuk orang tuanya sekalipun. Tidak biarkan orang lain masuk ke dalam kehidupannya terlalu jauh.


"Tuan, pertemuan kita siang ini di Restaurant Sakura" ucap Hendrick.

__ADS_1


Langkah kaki Arven langsung terhenti seketika, dia ingin jelas jika Restaurant itu adalah milik sahabat dari Freya. "Pindah ke tempat lain"


"Tidak bisa Tuan, mereka sudah pesan disana dan sekarang mereka sudah sampai disana, menunggu kita" ucap Hendrick, meski dia tahu bagaimana perasaan Arven yang sekarang sangat dingin dan tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan yang namanya Freya. Namun urusan pekerjaan, Hendrick rasa semuanya beda lagi.


Arven hanya mendengus kesal, namun dia juga tidak bisa mengesampingkan pekerjaan hanya karena adanya mantan pacar di tempat pertemuan siang ini. Sekarang ini bahkan sudah hampir satu bulan sejak mereka berpisah. Namun, rasa sakitnya masih membekas begitu nyata.


Sampai di Restaurant, Arven sedikit ragu untuk masuk. Jelas dia sudah tahu kalau Freya memang kembali lagi bekerja di Restaurant itu. Dia menghembuskan nafas pelan, lalu melangkah masuk ke dalam Restaurant itu dengan langkah tegap dan wajah yang datar.


Prankk... Pecahan gelas yang berada di atas nampan yang di pegang oleh Freya yang baru saja akan mengantar pesanan minuman ke meja pelanggan. Tubuhnya langsung mematung ketika melihat sosok yang masuk ke dalam Restaurant ini. Sungguh, Freya tidak pernah menyangka akan bertemu dengan pria ini lagi.


Ya Tuhan, kenapa harus bertemu disini.


Freya langsung menunduk ketika melihat tatapan tajam dari Arven. Dia berjongkok dan memunguti pecahan gelas itu, sampai tidak sadar jika jari tangannya terluka karena pecahan kaca itu. Namun, Freya tidak memperdulikannya. Dia lanjut membersihkan semua itu. Ketika dia berdiri, Arven sudah tidak ada disana. Membuat Freya sedikit menghela nafas lega.


"Sayang maafkan aku" lirih Freya yang memasang plaster di jarinya yang terluka.


Air matanya yang menetes begitu saja, rasanya sangat sakit ketika melihat kembali Arven. Apalagi tatapannya yang begitu tajam pada Freya, seolah menandakan jika memang Arven sangat membencin Freya saat ini.


"Freya, segera antarkan pesanan ke ruangan VVIP. Aku sakit perut, mau ke kamar mandi dulu"


Freya mengusap kasar air matanya, dia menoleh dan melihat teman kerjanya yang berlari ke arah kamar mandi karyawan disana. Freya menghela nafas pelan, segera dia kembali lagi ke tempat kerja dan menunggu pesanan untuk ruangan VVIP selesai, dan dia akan segera mengantarnya.


Freya tetap harus bekerja profesional, meski hatinya sangat hancur dan terluka.

__ADS_1


********


Suara ketukan pintu membuat suasana serius di ruang VVIP Resturant ini langsung berhenti sejenak. Meeting yang sedang berlangsung, terhenti sejenak karena mungkin pesanan makanan sudah datang dan selesai.


"Masuk" Asisten dari rekan kerja Arven yang menjawab.


Dengan tangan yang sedikit bergetar membuat Freya sedikit ragu untuk membuka pintu ruangan itu. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan dengan membawa nampan di tangannya. Freya tidak langsung berjalan ke arah orang-orang di dalam ruangan ini. Dia mematung sejenak saat melihat Arven yang berada disana.


Tentu pria itu juga sangat terkejut saat melihat Freya yang berada disana. Rasanya tidak bisa dia membiarkan dirinya terlihat lemah saat berhadapan dengan Freya. Apalagi setelah apa yang gadis itu lakukan padanya.


Freya mengerjap pelan, dia langsung berjalan ke dalam ruangan dan menatap Arven yang berada disana dengan tatapan penuh rindu. Namun, tatapan tajam dari Arven, dia langsung menunduk karena sangat malu saat Freya masih berharap di perhatikan oleh Arven, padahal dia sudah begitu menyakiti hatinya.


"Makanannya Tuan"


Freya langsung menata di atas meja pesanan makanan dan minuman untuk orang-orang di ruangan VVIP ini. Setelah semuanya tertata rapi, segera dia berpamitan dan pergi darisana. Masih tidak akan sanggup jika berlama-lama bersama dengan Arven diruangan yang sama. Karena hatinya yang masih begitu sakit untuk bersitatap dengan pria itu.


Seteleh dia keluar dari ruangan itu, dia langsung menyandarkan tubuhnya di dinding dan mengelus dadanya dengan perasaan yang begitu sesak. Air matanya menetes begitu saja.


"Ya Tuhan, aku sangat terluka melihatnya saat ini. Bahkan mungkin dia tidak akan pernah mau memaafkan aku yang sudah banyak salah ini padanya. Hatiku sangat sakit"


Freya mengusap air mata kasar, dia masih tidak menyangka jika perasaannya saat ini akan semakin hancur seperti ini. Freya mengalah hanya untuk melindungi keluarganya. Namun ternyata hidupnya tidak akan semudah itu, karena hatinya yang masih begitu mencintainya. Hatinya yang begitu sesak ketika dia tidak bisa memilih untuk tetap bersama, meski dirinya sangat ingin.


"Kerja Freya, kamu tidak boleh lemah begini hanya karena kamu bertemu dengan mantan"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2