
Pagi ini setelah mengantar orang tuanya ke Bandara untuk kembali ke tanah air, Arven langsung meminta Hendrick untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Dia ingin menemui Freya yang bahkan belum bisa pulang. Mungkin karena keadaannya yang belum memungkinkan untuk diizinkan untuk pulang oleh Dokter.
Namun, sebelum ke ruangan Freya, dia memilih untuk pergi dulu ke ruangan Dokter yang menanganinya. Sudah membuat janji temu dari semalam, agar tidak perlu menunggu.
"Jadi ada keluhan apa sampai kamu ingin bertemu dengan saya hari ini?" tanya Dokter, dia melihat keadaan Arven yang baik-baik saja dan semakin baik.
"Bagaimana dengan keadaan Freya, apa dia akan tetap baik-baik saja dengan satu ginjal dalam tubuhnya?" tanya Arven.
Dokter langsung terlihat sangat terkejut dengan pertanyaan Arven barusan. Karena jelas dirinya tidak memberi tahukan tentang identitas si pendonor atas keinginan si pendonor itu sendiri. Tapi sekarang tiba-tiba saja Arven mengetahui tentang si pendonor itu. Tentu saja membuat Dokter sangat terkejut.
"Anda tidak perlu takut Dok, aku tidak sengaja bertemu dengannya di taman kemarin pagi. Dan aku juga mengenalnya, sekarang aku hanya ingin tahu bagaimana kondisinya sekarang" ucap Arven yang mengerti dengan keterkejutan Dokter barusan.
Orang dengan satu ginjal, masih bisa beraktivitas normal seperti biasanya. Tapi mungkin harus menghindari kegiatan berat yang akan membuatnya kecapean. Misalnya tidak boleh olahraga berat, harus minum teratur, diet diatur. Supaya tetap sehat. Tentunya satu dan dua ginjal itu ada risiko untuk terjadi suatu gangguan kemudian hari," ujarnya.
"Namun, hidup dengan satu ginjal juga tidak selalu berisiko akan sakit. Sebab, saat ada dua ginjal dan satu ginjal sakit, maka ginjal satunya yang sehat bisa memenuhi kebutuhan ginjal lainnya" jelas Dokter.
"Hanya saja ada risiko. Kalau satu ginjal ada masalah seperti batu, ya tidak bisa meminta tolong kepada partner (Ginjal) lainnya karena sudah tidak ada," jelasnya.
"Tapi masih bisa hidup normal, tidak ada masalah. Pastinya tidak boleh kecapekan, tapi masih bisa hidup normal. Tidak papa olahraga tapi tidak olahraga yang terlalu berat"
Penjelasan panjang lebar dari Dokter itu cukup membuat Arven tenang, meski dia takut kemungkinan buruk yang dibicarakan Dokter akan terjadi pada Freya. Seperti gangguan ginjal yang nantinya terjadi pada Freya, maka akan berakibat fatal. Tapi Dokter juga mengatakan kalau keadaan dan kondisi Freya tetap di jaga kesehatannya, maka akan baik-baik saja.
__ADS_1
Arven melihat ada Haura dan Sinta di dalam ruangan Freya, dia melihat dari kaca transparan di bagian atas pintu ruang rawat ini. Bersyukur karena Freya bisa dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan tulus padanya.
Saat Arven masuk ke dalam ruangan itu, pandangan semua orang yang ada di dalam sana langsung tertuju pada Arven. Freya juga tidak menyangka kalau Arven akan datang kembali menemuinya. Saat kemarin dia dengar dari Dokter kalau Arven sudah bisa pulang, sungguh membuat Freya ikut senang.
"Mau apa kau datang kesini? Belum puas juga membuat Freya menderita sampai sejauh ini. Oh, sekarang kau sudah sembuh ya berkat ginjal dari Freya" ketus Sinta saat melihat Arven yang datang.
"Sin, jangan bicara seperti itu ah" ucap Freya yang memegang tangan Sinta agar berhenti memaki Arven seperti itu.
Sinta langsung menatap Freya dengan tidak percaya, sepupunya ini selalu saja membela Arven meski dia yang terus terluka karena pria itu.
"Kenapa si Frey, bahkan dulu aku dan Ibu hampir saja celaka karena Ayahnya dia. Kamu sendiri yang memutuskan dia karena tidak ingin aku dan Ibu semakin menjadi korban dari Ayahnya itu 'kan?" ucap Sinta dengan menggebu-gebu.
"Sinta.." Freya benar-benar tidak bisa menghentikan sepupunya ini yang terus berbicara. Freya melirik Arven yang terlihat sangat terkejut dengan ucapan Sinta barusan.
"Ya, Papa kamu yang tidak pernah setuju dengan hubungan kalian. Sampai dia mengancam Freya agar mau meninggalkanmu, bahkan sampai hampir membuat aku dan Ibuku celaka. Makanya Freya memilih meninggalkan kamu. Tapi sekarang dia malah kembali datang menemui kamu hanya untuk menjadi pendonor untuk kamu agar kamu sembuh" ucap Sinta dengan sedikit kesal, seolah ingin meluapkan bagaimana sakit dan menderitanya sepupunya itu.
Tubuh Arven hampir saja limbung dan jatuh ke atas lantai saat mendengar ucapan Sinta barusan. Beruntung karena dia berpegangan ke pinggir ranjang pasien. Semuanya masih terlalu mengejutkan baginya, hal yang baru dia ketahui dibalik semua yang Freya lakukan untuk meninggalkannya waktu itu.
"Jadi kamu memutuskan hubungan kita ini karena Papa aku? Karena ancamannya? Kenapa kamu tidak bilang Freya, kenapa?" ucap Arven dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Freya tidak menjawab, dia tidak tahu harus berkata seperti apa saat ini. Semuanya sudah terlanjur diketahui oleh Arven. Jadi pastinya Freya tidak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
Arven berjalan gontai mendekati Freya, dia memegang kedua bahu Freya yang sedang duduk di atas ranjang pasien itu. Menatapnya lekat dengan mata yang berair.
"Kenapa kamu tidak bilang soal ini? Padahal aku sudah sangat marah dan salah faham padamu" ucap Arven, segala penyesalannya semakin terasa ketika dia ingat kata-kata dan perlakuan kasar yang pernah dia ucapkan pada Freya. Pastinya akan membuat hati gadis itu begitu terluka.
Freya menunduk dengan tangisan yang pecah, dia juga tidak tahu harus bicara apa saat ini. Namun, dia tidak ingin membuat hubungan Ayah dan anak ini hancur karena dirinya. Makanya dia tidak pernah berniat untuk menjelaskan semuanya yang pernah terjadi. Tapi sekarang semuanya juga sudah terlanjur diketahui oleh Arven, jadi tidak ada lagi yang bisa disembunyikan oleh Freya.
"Ak-aku hanya tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Kalau aku bilang sama kamu, pastinya kamu juga tidak akan percaya. Dan aku juga tidak mau merusak hubungan diantara kamu dan Papa kamu itu" ucao Freya dengan suara bergetar.
Arven mengusap wajah kasar, rasanya dia tidak mengerti kenapa harus serumit ini kisahnya bersama Freya. Padahal mereka berdua saling mencintai, tapi dunia seolah belum mau mengizinkan untuk bisa bersatu.
"Maafkan aku karena tidak tahu apa-apa soal ini, pastinya kamu akan sangat menderita selama ini. Maaf" lirih Arven yang langsung memeluk Freya, dan tangisan Freya langsung pecah begitu saja.
Sinta dan Haura saling melempar pandangan, lalu Sinta mendekati Haura dan berbisik padanya. "Kenapa mereka malah saling mengharukan begini? Bukannya saling berteriak penuh amarah dan bertengkar. Ini aneh sekali"
Haura menggeleng pelan dengan pemikiran Sinta ini yang selalu saja bar-bar. Dia menoyor kepala sahabatnya itu. "Kau pikir mereka akan perang dan saling membunuh gitu. Lihatlah cinta diantara keduanya terlalu besar sampai tidak mungkin saling berteriak penuh emosi. Keduanya malah bisa balikan gara-gara kamu yang beritahu semuanya"
Sinta terdiam, dia menatap sepasang kekasih yang sudah lama terpisah dan sekarang dipertemukan kembali dalam keadaan seperti ini. Namun, keduanya terlihat saling merindukan satu sama lain.
"Cinta memang membutakan dunia ya. Sampai lupa dengan kesedihannya selama 3 tahun ini. Harusnya Freya tampar saja Arven sampai dia puas" ucap Sinta asal.
Lagi, Haura menoyor kepala sahabatnya itu yang selalu saja asal ceplos. "Kau ini!"
__ADS_1
Bersambung