
Freya langsung merasa ragu saat dia sudah berada di depan pintu ruang rawat Papa itu. Menoleh dan menatap suaminya dengan sedikit ragu. "Sayang, Papa kamu tidak akan marah 'kan kalau aku masuk dan menjenguknya?"
Arven merangkul bahu istrinya, dia memberikan kecupan di pipi Freya dengan lembut. "Ada aku disamping kamu, tidak akan ada yang bisa memarahi kamu ketika aku disamping kamu"
Freya tersenyum, tapi tetap saja dia merasa gugup. Tahu sendiri jika mertuanya itu sangat tidak suka padanya. Jadi meski sekarang Freya berniat baik untuk menjenguknya yang sedang sakit. Pastinya akan tetap terlihat jelek di mata Papa, karena memang sejatinya dia tidak pernah suka pada Freya.
"Yuk masuk, kamu tenang saja. Kalau sampai Papa tidak suka sama kamu atau bersikap kurang baik padamu, aku akan selalu ada di sampingmu"
Dan akhirnya Freya memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan itu. Berjalan perlahan dengan sedikit ragu. Tapi Arven yang terus menggandeng tangannya membuat Freya sedikit tenang. Freya melihat Papa yang terbaring di atas ranjang pasien, dia menatap ke arahnya. Membuat Freya langsung menundukan wajahnya.
"Freya"
Deg,, panggilan lembut dari Papa itu baru saja Freya dengar. Dia langsung mendongak dengan tatapan tidak percaya saat dia melihat tatapan lembut dari Ayah mertuanya yang dulu selalu menatap tidak suka padanya.
Papa mencoba bangun dan langsung dibantu oleh Mama. Duduk bersandar, dia menatap Freya dengan matanya yang berkaca-kaca. Perlahan tangannya terulur pada Freya, ingin memegang tangan menantunya itu.
Freya menatap suaminya dengan bingung dan penuh tanya. Karena dia tidak pernah melihat Papa yang seperti ini. Arven hanya menganggukan kepalanya, dia mengizinkan Freya untuk memegang tangan Papa. Dan akhirnya Freya melakukan itu, memegang tangan Papa yang terulur.
"Maafkan Papa, Nak" lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat itu membuat Freya diam dan langsung melirik ke arah suaminya. Masih merasa bingung kenapa mertuanya tiba-tiba seperti ini. Padahal jelas sebelumnya Papa membencinya.
"Freya..." Mama langsung menghampiri Freya, dia memeluk menantunya itu dengan tangisan yang pecah. "...Maafkan kami karena sempat tidak melihat ketulusanmu itu. Terima kasih sudah mencintai Arven dengan tulus"
Freya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat dia melihat mertuanya seperti ini. Bahkan dia tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Merasa sangat tidak percaya dengan sikap Papa ini.
"Mulai saat ini, Papa akan menerima kamu sebagai menantu kita. Arven juga sudah boleh kembali ke Perusahaan" ucap Mama.
__ADS_1
Dan air mata Freya langsung menetes begitu saja, bahkan dia tidak pernah menyangka kalau saat ini akan tiba juga. Bagaimana dia yang melihat mertuanya yang bisa menerima kehadirannya ini sebagai istri dari Arven.
"Terima kasih ya Ma dan Pa-papa" ucap Freya sedikit gugup saat dia menatap Papa.
Papa mengangguk, dia tersenyum pada Freya. Mata hatinya mulai terbuka, dia bisa melihat bagaimana tatapan Arven pada istrinya yang selalu penuh cinta. Mungkin memang cinta diantara mereka tidak akan bisa dihilangkan dengan hal apapun.
"Oh iya, Freya membawakan ini untuk Papa. Ada makanan juga untuk kita makan malam disini" ucap Freya.
Mama tersenyum, dia mengelus pipi menantunya dengan lembut. "Terima kasih ya Nak. Kamu sudah menjadi seorang istri dan menantu yang baik"
Freya hanya tersenyum saja, dia bersyukur sekali karena sekarang dia bisa mendapatkan restu dari orang tua suaminya. Rasanya terlalu mengejutkan saat bisa mendapatkan restu dari mereka yang tidak pernah dia duga.
Terima kasih ya Tuhan, akhirnya aku bisa mendapatkan restu dari keduanya.
Mereka semua makan malam bersama di dalam ruang rawat Papa. Setelah selesai makan, Freya membantu mengupaskan buah untuk Papa. Dia memberikannya pada Papa.
"Dimakan buahnya ya, Pa. Semoga cepat sembuh" ucap Freya, masih sedikit canggung.
Dan entah kenapa Freya masih tidak menyangka kalau dia bisa mendapatkan restu dari Papa.
*******
Freya dan Arven pergi ke taman rumah sakit, membiarkan Papa istirahat yang di jaga oleh Mama. Freya merangkul lengan suaminya. "Sayang, aku masih tidak menyangka kalau Papa sudah merestui kita"
Arven tersenyum, dia senang melihat kebahagian istrinya. Dia mengecup puncak kepala istrinya. "Karena akhirnya Papa bisa melihat ketulusan kamu padaku"
"Sayang, sekarang kamu menunggu disini 'kan temani Mama. Aku pulang saja ya, besok juga harus kerja besok" ucap Freya.
__ADS_1
Arven langsung berbalik dan menatap istrinya dengan lekat. "Biar aku antar kalau kamu ingin pulang"
Freya langsung menangkup wajah suaminya dan menatapnya dengan lembut. "Sayang, aku pulang sendiri saja. Kan aku bawa motor juga, kamu disini saja temani Mama untuk menjaga Papa"
Arven menggeleng tegas, tentu saja dia tidak akan membiarkan Freya pergi sendirian di malam hari seperti ini. "Kamu itu perempuan, masa malam-malam begini akan pulang sendirian. Biar aku antar saja dulu"
"Terus motor aku gimana?"
"Sayang, kamu tidak perlu memikirkan itu. Besok aku minta orang untuk antarkan motor kamu. Tapi kamu berangkat kerja pakai taksi saja, jangan bawa motor sendiri" tekan Arven di akhir kalimatnya.
Freya langsung mencebikan bibirnya. "Sayang kenapa si, padahal aku sudah bertahun-tahun bawa motor sendiri. Kenapa sekarang malah melarangnya"
"Jangan membuat aku khawatir Sayang, aku tidak akan tenang menunggu disini kalau kamu masih berkendara sendiri" ucap Arven.
Freya akhirnya hanya mengangguk saja dan tidak akan pernah bisa membantah suaminya ini. "Baiklah, sekarang ayo antarkan aku pulang. Sudah terlalu malam"
Mereka pun berpamitan pada Mama dan Papa sebelum pulang. Arven mengantarkan istrinya untuk pulang.
"Sayang, kamu hubungi Haura atau Sinta, minta mereka menginap saja di rumah. Aku tidak tenang kalau meninggalkan kamu sendirian" ucap Arven.
Freya langsung menoleh, dia tersenyum saja mendengar ucapan Arven barusan. "Aku sudah biasa di rumah sendirian, kamu tenang saja Sayang. Aku tidak akan kenapa-napa"
"Sekarang beda lagi, aku tidak akan tenang kalau kamu tinggal di rumah sendirian" ucap Arven.
Dan akhirnya Freya juga tidak bisa membantah lagi soal ini. Dia memilih untuk menghubungi Haura dan Sinta untuk bisa menginap di rumahnya. Tapi Sinta tidak bisa, karena dia ada kesibukan. Entah kesibukan apa.
"Haura akan datang, kamu tenang saja. Aku tidak akan sendirian di rumah"
__ADS_1
Arven mengangguk, setidaknya dia tidak terlalu cemas kalau istrinya ada yang menemani.
Bersambung