
"Aku tetap harus ikut mereka pulang ke Indonesia. Aku tidak mau semakin membuat mereka kecewa" ucap Freya.
Arven menghela nafas pelan, padahal dia sangat ingin lebih lama bersama dengan Freya. Tapi gadisnya itu juga tidak bisa terus egois, apalagi ada sepupu dan juga sahabatnya yang selama ini selalu ada untuknya di saat Freya sedang menderita setelah berpisah dengan Arven.
"Memangnya tidak bisa untuk tinggal beberapa hari lagi? Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan aku disini. Aku juga akan kembali ke Indonesia dan menetap disana lagi setelah proyek terakhir aku ini selesai" ucap Arven yang memeluk Freya dari belakang di atas sofa bed itu.
Freya menyandarkan kepalanya di dada Arven, melirik ke arah jam dinding yang tidak berhenti berdenting sejak tadi. Hari sudah semakin malam, namun keduanya seperti belum mempunyai rasa kantuk sedikit pun.
"Aku mengerti kenapa Sinta dan Haura seperti itu pada kita. Karena mereka hanya tidak ingin kalau sampai aku kembali tersakiti dan menderita seperti yang sudah pernah terjadi di tiga tahun lalu. Memang cukup sulit bagiku untuk kembali bangkit dan mulai kembali hidup yang baru" ucap Freya, tatapannya menerawang menembus pada kejadian di tiga tahun lalu.
Freya yang selalu menangis di dalam kamarnya sambil memeluk sebuah figura foto dirinya dan Arven. Freya yang seolah tidak lagi mempunyai semangat hidup setelah kepergian Arven. Apalagi saat berita Arven yang tersebar, tentang dia yang bertunangan dengan Katlyn. Hati Freya semakin hancur saja.
"Frey, apa kamu tidak mau keluar dan pergi sama kita? Ayo kita makan siang diluar, kita jalan-jalan" Haura yang terus mengetuk pintu kamarnya.
"Iya Frey, sekarang kita harus menikmati hidup kita ini. Kan sudah tidak perlu lagi pusing untuk memikirkan tugas kuliah" teriak Sinta dengan semangat, mereka baru saja lulus dan sudah mendapatkan pekerjaan beberapa bulan ini saat itu.
"Iya Frey, biarkan saja berita itu berlalu. Nantinya juga akan terbiasa sendiri" ucap Haura.
Dan mereka selalu ada untuk Freya, menemani Freya saat dia begitu terpuruk dengan keadaan yang ada. Dan ya, sekarang tidak seharusnya Freya seperti ini. Mereka akan kecewa dengan keputusan yang Freya ambil secara tiba-tiba ini. Meski sebenarnya dia sudah yakin dengan keputusannya ini. Hanya saja, tidak mungkin juga Haura dan Sinta bisa mengerti dengan perasaan cinta Freya yang teramat besar untuk Arven.
Kecupan di puncak kepalanya yang bertubu-tubi itu membuat Freya tersadar dari lamunanya di masa lalu itu. Dia tersenyum melihat tangan Arven yang semakin melingkar di perutnya, tentunya tidak mengenai luka bekas operasi itu.
__ADS_1
"Sayang, aku mengerti perasaanmu dan kebingungan kamu saat ini. Kalau memang kamu ingin kembali lebih dulu bersama dengan sepupu dan sahabat kamu itu. Aku tidak akan melarangnya. Aku akan berusaha cepat untuk menyusul kamu kembali ke Indonesia" ucap Arven.
Freya tersenyum mendengar itu, dia memang harus meyakinkan dulu kedua gadis yang berharga dalam hidupnya itu. Jika Arven memang masih mencintainya, Arven yang pergi juga bukan kesalahannya. Dan dia yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang dilakukan oleh Ayahnya. Jadi seharusnya memang dia tidak perlu menanggung semua kesalahan Papanya.
"Aku akan berusaha untuk membuat Haura dan Sinta mengerti keadaan kita ini. Semoga saja kamu juga bisa yakin dengan keputusan kamu untuk kembali lagi denganku" ucap Freya.
Arven langsung mencium pipi Freya dengan gemas. Dia sangat mecintai gadis ini sampai tidak bisa melupakannya selama mereka berpisah yang cukup lama.
"Tidak ada keraguan dalam diri aku jika memang aku harus kembali denganmu" ucap Arven.
Freya tersenyum, dia menatap figura foto yang terpajang di dinding itu. Masih tidak percaya jika Arven juga melakukan hal yang sama. Karena Freya juga masih memasang figura foto mereka selama ini. Dia yang tidak pernah bisa lepas dari semua bayang-bayang kebersamaan mereka. Karena dia yang tidak pernah membuang apapun yang ada dalam sebuah kenangan itu.
Arven mengecup puncak kepala Freya, dia merasa hidupnya yang selama tiga tahun ini tidak lagi merasa kelengkapan, kini mulai lengkap kembali saat sudah kembali bersama Freya. Meski kisah mereka juga belum tentu akan seperti akhirnya setelah ini. Karena mau bagaimana pun saat ini Freya tidak bisa untuk mengacuhkan Haura dan Sinta yang jelas belum bisa menerima keputusannya. Karena mau bagaimanapun mereka yang selalu ada untuknya selama ini.
"KIta ikuti saja alurnya, akan seperti apa kedepannya ini. Semoga saja kita bisa tetap bersama dan semua orang yang tidak suka dengan hubungan kita ini, perlahan jadi membiarkan begitu saja" ucap Arven.
Ya, mereka hanya perlu untuk tetap bersabar untuk saat ini. Berusaha agar tetap bisa bersama kembali meski banyak yang tidak mendukungnya.
Freya melepaskan lingkaran tangan Arven di tubuhnya, dia berbalik dan menatap Arven dengan lekat. "Aku akan berusaha untuk meyakinkan Sinta dan Haura, aku akan membuat mereka bisa mendukung begitu saja tentang ini"
Arven mengelus pipi Freya dengan lembut, tentu saja dia tidak pernah bisa melepaskan Freya lagi. Sudah saatnya Arven membuat bahagia Freya yang sudah banyak berkorban padanya. Dia tidak akan pernah membuatnya terluka lagi. Meski sebenarnya dia juga tidak pernah berniat untuk melukai perasaan Freya. Semuanya hanya karena Arven yang tidak tahu kalau Ayahnya yang berada di balik semua ini.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi apapun yang terjadi mulai saat ini. Kau harus menjadi milikku selamanya" ucap Arven dengan penuh penekanan.
Freya hanya tersenyum mendengar itu. Tentu dia mengerti kalau sebenarnya Arven juga tidak pernah salah dalam hal ini. Karena perpisahan mereka itu hanya karena ulah Papanya dan Arven tidak tahu tentang itu.
Dan pagi ini, Arven mengantar kembali Freya ke Apartemen Haura. Saat sampai disana Haura dan Sinta sudah siap untuk segera pergi ke Bandara. Freya segera menghampiri mereka.
"Aku akan pulang ke Indonesia bersama kalian" ucap Freya.
Sinta dan Haura langsung saling menatap dengan helaan nafas pelan. Dia melirik ke arah tangan Freya yang sejak tadi terus berada dalam genggaman tangan Arven.
Haura menghela nafas pelan, dia menatap Freya dengan lekat. "Kamu yakin Frey? Bukankah kalian baru saja bertemu dan kembali bersama, apa tidak ingin menghabiskan waktu berdua terlebih dulu disini?"
Freya terdiam mendengar itu, tentunya dia juga tidak mengerti kenapa Haura yang tiba-tiba seperti mendukung kembali hubungannya dan Arven. Padahal kemarin sudah jelas jika Haura memang tidak setuju jika Freya kembali lagi pada Arven.
"Kita hanya menghargai saja keputusan kamu" ucap Haura lagi saat mengerti kebingungan Freya.
Freya tersenyum mendengar itu, dia selalu merasa beruntung ketika bisa mendapatkan sahabat seperti Haura dan sepupu seperti Sinta. Meski dulu hubungannya dan Sinta tidak begitu baik, tapi sekarang semuanya sudah berubah dan dirinya bisa melihat sisi baik dari Sinta.
"Makasih ya karena kalian sudah menghargai keputusan aku. Tapi sepertinya aku tetap ingin kembali bersama kalian" ucap Freya.
Bersambung
__ADS_1