
"Besok lusa adalah peresmian proyek kita. Setelah itu kau bisa memutuskan apa yang akan kamu lakukan" ucap Hendrick.
Arven menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, dia memejamkan matanya, merasa penat dengan segala yang dia rasakan selama ini. Sungguh Arven hanya ingin segera kembali pada Freya.
"Segera selesaikan semuanya, Hen. Aku ingin kembali ke Indonesia. Aku hanya ingin memulai semuanya bersama Freya" ucap Arven.
Hendrick menghela nafas pelan, dia duduk di sofa samping Arven. Menatap bagaimana rapuhnya Arven saat ini. Semua kenyataan yang pastinya sangat membuat dia bingung dan terkejut hingga tidak tahu harus bagaimana bersikap. Ketika dia tahu kalau yang menyelamatkannya adalah Freya, dan alasan gadis itu yang memilih untuk mengakhiri hubungannya karena memang dia yang terancam oleh Ayahnya. Kenyataan yang baru saja dia ketahui itu, membuatnya begitu terluka.
"Tapi apa kau yakin jika acara talkshow kemarin tidak akan di tonton orang tuamu? Pastinya mereka akan membuat hal yang sama pada Freya kalau tahu kau kembali padanya?" ucap Hendrick dengan pemikirannya.
"Makanya, aku harus segera kembali dan melihat keadaan Freya. Aku harus menjaganya agar tidak lagi tersentuh oleh Papa"
Hendrick mengangguk saja, dia tidak mengerti bagaimana perasaan Arven saat ini. Karena dia belum merasakan apa yang Arven rasakan. Tentang cinta yang belum Hendrick rasakan.
"Kalau begitu kau harus hubungi Freya, lihatlah bagaimana keadaannya" ucap Hendrick.
Dan Arven tidak banyak berbicara lagi, dia langsung pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya. Arven memang belum menghubungi Freya sejak semalam. Kembalinya dari acara talkshow itu, dia sama sekali belum menghubungi Freya karena dia yang masih merasa kesal pada Katlyn.
"Sayang, ayolah angkat teleponku"
Arven mulai merasa cemas saat teleponnya tidak diangkat oleh Freya, dia sudah mengirimkan pesan, tapi gadisnya itu hanya membacanya saja tanpa membalas pesan dari Arven. Hal itu semakin membuat Arven cemas.
"Apa mungkin dia marah padaku karena perkataan Ktlyn? Tapi apa dia tidak mendengar ucapanku kemarin yang mengakhiri hubungan dengan Katlyn"
Arven berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya itu. Masih merasa tidak tenang saat Freya masih belum juga mengangkat teleponnya. Sampai suara dering ponsel membuat dia langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang telah menghubunginya.
"Hallo Sa..."
__ADS_1
"Arven! Apa yang kau lakukan?!"
Suara Papa dengan penuh penekanan itu membuat Arven tersadar dan langsung melihat ke arah ponselnya. Benar saja jika yang menghubunginya bukan Freya seperti dugaannya, tapi Papa.
"Ada apa Pa? Memangnya apa yang aku lakukan?" Arven berjalan ke arah sofa dan duduk disana, dia terlihat tenang saja ketika akan mendapatkan kemarahan dari Ayahnya itu.
"Kenapa kau memutuskan hubungan dengan Katlyn. Bahkan kau sudah membuat malu keluarganya dan Katlyn sendiri. Apa yang kau lakukan! Apa kau ingin membuat Papa malu" tekan Papa.
Arven menghembuskan nafas pelan. "Karena nyatanya cinta dan hatiku tidak bisa di paksakan. Papa juga tidak bisa memaksa aku untuk terus bersama dengan gadis yang tidak aku cintai"
"Kau benar-benar, wanita mana yang sudah membuatmu berpaling dari Katlyn?"
"Tidak ada. Sama sekali tidak ada perempuan lain, aku juga tidak membahas tentang perempuan lain. Aku hanya membahas tentang perasaanku yang tidak bisa dipaksakan pada Katlyn" ucap Arven.
"Tapi kenapa..."
Dan Arven langsung mematikan sambungan teleponnya bersama Ayahnya itu. Sudah malas terus di atur-atur oleh Ayahnya yang selama ini tidak pernah mendengarkan pendapatnya. Padahal Arven juga mempunyai pendapatnya sendiri.
Arven menyandarkan kepalanya disandaran sofa dengan hembusan nafas berat. Menjadi anak tunggal diantara orang tua yang selalu berharap lebih padanya, membuat dia tidak bisa memutuskan apapun. Bahkan dalam kisah percintaannya pun dia tidak bisa menentukan sendiri. Semuanya harus yang terbaik menurut keluarga, bukan yang membuat Arven bahagia. Dan Arven merasa lelah dengan semua ini.
"Aku memang sudah harusĀ kembali pada Freya dan menjalani hidupku sendiri. Tidak peduli jika harus mendapatkan penolakan dari Papa"
********
Dan setelah peresmian proyek terakhirnya yang bekerja sama dengan perusahaan cukup terkenal di Negara ini. Arven memutuskan untuk langsung pulang ke tempat kelahirannya. Dia tidak bisa menunda lagi, apalagi saat selama itu Freya tidak bisa di hubungi.
Semua pesan darinya hanya di baca saja, dan setiap di telepon maka Freya tidak pernah menjawab telepon darinya. Hal itu membuat Arven begitu khawatir sampai dia tidak bisa menunda-nunda lagi kepulangannya ke Indonesia.
__ADS_1
Sampai di Indonesia hampir tengah malam, Arven tetap ingin segera menemui Freya. "Kau pulang saja dulu ke Apartemen. Aku harus menemuinya dulu"
"Kau yakin? Ini sudah hampir tengah malam, apa tidak akan mengganggunya?" tanya Hendrick dengan tatapan bingung dengan sikap Arven ini.
Arven menggeleng pelan. "Aku tidak bisa menunggu lagi, sudah 4 hari dia tidak bisa aku hubungi. Aku harus menemuinya sekarang"
Dan Hendrick tidak bisa menahannya lagi, dia membiarkan saja Arven pergi sesuai keinginannya. Dengan menggunakan taksi, Arven pergi ke rumah Bibi Freya. Karena yang dia ketahui Freya tinggal disana. Sama sekali belum mengetahui tentang tempat tinggal Freya yang baru.
Mengetuk pintu beberapa kali di depan rumah Bibi yang terlihat sekali banyak perubahan selepas di renovasi sejak Sinta bekerja. Arven menatap ke sekelilingnya, memang banyak perubahan dengan rumah ini.
"Mungkin sudah lama di renovasi, rumahnya jadi bagus dan terlihat lebih nyaman"
Arven kembali mengetuk pintu karena belum ada juga yang keluar dari rumah itu. Wajar saja karena memang sudah hampir tengah malam dan pastinya orang-orang di rumah ini sudah beristirahat.
"Siapa ya?"
Arven menghela nafas lega saat mendengar suara seseorang dari dalam sana. Dia menunggu dengan cemas saat pintu terbuka dan yang membukakan pintu itu adalah Bibi. Terlihat sekali kalau BIbi juga begitu terkejut dengan kehadiran Arven disana.
"Mau apalagi kamu datang kesini?"
Pertanyaan Bibi itu jelas mengandung nada tidak suka. Wajar saja, setelah apa yang dilakukan Papa pada mereka. Tidak heran kalau Bibi tidak suka pada Arven.
"Maaf Bi, saya sudah mengganggu. Tapi sekarang aku hanya ingin bertemu dengan Freya. Tolong izinkan saya bertemu dengannya" ucap Arven dengan sopan.
"Freya tidak ada disini, sebaiknya kau pergi saja. Jangan mengganggu kehidupan kami lagi. Apa tidak puas terus membuat Freya menderita selama ini? Kau sudah banyak menyakiti hatinya. Jadi sebaiknya pergi dan jangan pernah mengganggu kehidupan kami lagi" tegas Bibi yang langsung masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu dengan kasar.
Arven hanya terdiam di depan pintu yang sudah tertutup itu.
__ADS_1
Bersambung