Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#44# Menemui Arven


__ADS_3

Freya menyandar di dinding samping pintu ruang rawat Arven. Mengelus dadanya dengan hembusan nafas lega. "Ya ampun, kenapa dia bisa melihat ke arahku si. Semoga saja dia tidak melihat aku yang tadi sedang mengintip"


Freya terkejut sendiri ketika tatapan Arven yang tiba-tiba tertuju padanya. Sungguh dia sangat takut sekali untuk menatap ke arah Arven saat itu. Karena tahu kalau dirinya akan membuat Arven kembali terluka jika Freya berada di hadapannya.


"Semoga kamu akan sembuh dan baik-baik saja, Sayang. Aku sungguh tidak bisa melihatmu terbaring lemah seperti itu"


Air mata yang menetes begitu saja, sampai saat ini Freya tidak akan bisa melupakan Arven. Pria yang dia cintai selama ini, meski memang dirinya yang mengakhiri semuanya. Namun, cintanya yang begitu besar pada Arven. Freya yang rapuh atas hidup yang dijalani, apalagi ketika orang tuanya yang tidak ada. Dan saat itu Arven datang dengan perhatiannya yang begitu tulus. Hidup Freya yang banyak perubahan saat bersama dengan Arven.


Freya kembali menatap lewat kaca di pintu ruangan itu. Melihat anggota keluarga Arven yang begitu bahagia karena akhirnya bisa menemukan titik terang atas penyakit yang Arven alami saat ini. Tangan Freya terangkat menyentuh kaca, membayangkan jika dia sedang mengelus pipi Arven.


Masih terasa begitu menyakitkan ketika dirinya hanya bisa melihat Arven sebagai bayang-bayang saja, karena dia tidak akan pernah bisa bertemu dengannya secara langsung. Freya takut hanya akan membuatnya semakin merasa terluka dan mengingat kembali luka yang diciptakan oleh Freya.


"Freya?"


Deg,, tubuh Freya langsung membeku ketika mendengar seseorang yang memanggil namanya itu. Ketika dia menoleh, Freya semakin terkejut lagi ketika melihat sosok yang berdiri di depannya ini.


"Tu-tuan"


#######


Akhirnya setelah dari rumah sakit, saat ini Freya kembali ke sebuah hotel yang dia pesan selama dia tinggal di negara ini. Baru saja selesai mandi dan sekarang dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan hembusan nafas lega. Bibirnya tersenyum penuh kemenangan.


"Akhirnya aku bisa melihat wajahnya lagi, meski aku tidak bisa menemuinya secara langsung. Tapi tidak apa, karena aku hanya ingin melihat wajahnya, yang sekarang ini terlihat lebih tirus"

__ADS_1


Freya merasa sedih ketika melihat wajah Arven yang begitu tirus, karena sakitnya  yang cukup menggerogoti tubuhnya. Apalagi terus berada di rumah sakit, pastinya akan membuatnya bosan dan stres.


Freya bangun terduduk di atas tempat tidur, meraih tasnya di atas nakas. Lalu dia mengeluarkan sebuah figura foto yang selalu dia bawa kemanapun. Menatap figura foto itu dengan tersenyum, jempolnya mengusap bagian foto Arven disana.


"Kamu tahu, sudah banyak pria yang aku temui untuk kencan buta, tapi tidak ada yang berhasil masuk ke dalam hatiku, seperti kamu yang begitu mudah untuk masuk ke dalam hatiku dan kehidupanku"


Freya tersenyum sendiri dengan dirinya yang memang terlihat sangat bodoh. Dia yang hanya terpatri pada satu hati dan satu cinta saja. Padahal banyak juga pria yang datang ingin menjalani hidup bersama dengannya. Namun, Freya tetap tidak bisa membuka hati untuk pria lain. Memang sebenarnya Freya ini sangat mencintai Arven dan mustahil untuk berpaling.


Freya kembali merebahkan tubuhnya sambil memeluk figura foto di tangannya itu. Terlelap dengan memeluk foto mereka berdua. Sampai ketika pagi ini dia terbangun dan siap untuk langsung pergi ke rumah sakit. Hanya ingin melihat Arven meski dari jauh saja. Setelah itu Freya akan pergi ke beberapa tempat, ingin sengaja jelajah kuliner disini, karena dia sudah lama tidak memanjakan dirinya sendiri. Selama ini dia hanya memikirkan tentang pekerjaan saja.


"Ayo Freya, saatnya untuk menikmati hidup kamu"


Freya keluar dari kamar hotel setelah menghabiskan sarapan yang diantarkan oleh pekerja hotel. Freya terlihat lebih cerah, dia berjalan dengan bersenandung ria. Merasa hidupnya sedang merdeka saat ini, karena dia tidak bekerja dan bisa berlibur.


"Ah, ternyata bisa menikmati liburan seperti ini memang menyenangkan"


Freya sampai di rumah sakit, mengintip pada ruangan Arven yang terlihat sepi pagi ini. Mungkin orang-orang yang menjaganya sedang pergi membeli sarapan. Freya yang memang datang terlalu pagi. Perlahan Freya masuk ke dalam ruangan, berjalan mendekat pada ranjang pasien.


Air matanya tidak tertahankan lagi ketika dia bisa melihat Arven yang begitu lemah saat ini. Freya mengangkat tangannya, dia langsung mengelus lembut pipi Arven. Menundukan tubuhnya dan memberikan kecupan di kening Arven, sampai air matanya menetes begitu saja di kening Arven.


"Aku mencintaimu"


Freya langsung keluar dari ruangan Arven, karena dia takut kalau sampai Arven bangun dan melihatnya. Pastinya pria itu akan marah ketika melihat Freya yang berada disana. Apalagi sekarang Arven juga sudah mempunyai tunangan, Freya berpikir kalau hidup Arven memang sudah bahagia dan senang karena sudah menemukan pengganti Freya yang jelas lebih baik, pastinya.

__ADS_1


Arven mengerjap pelan, dia merasakan sentuhan yang begitu lembut di pipinya dan keningnya. Arven meraba keningnya dan merasakan sesuatu basah disana. Membuat dia bingung, menatap ke arah pintu yang tertutup.


"Siapa yang datang barusan? Kenapa aku malah merasa jika itu adalah Freya"


Hatinya seolah menghangat ketika dia mengingat kalau itu adalah Freya. Entah kenapa membuat Arven merasa jika memang Freya yang datang kesini. Tapi dia tidak melihat gadis itu berada disini sekarang.


"Lagi, hanya dia yang selalu ada dipikiranku. Apa sesulit ini untuk bisa melupakannya"


Bahkan Arven sendiri merasa bingung kenapa sekarang dia tidak bisa membayangkan orang lain. Karena selalu Freya yang berada di ingatannya.


"Selamat pagi Kak Arven" Katlyn yang baru saja datang dengan wajahnya yang begitu ceria.


Arven tersenyum, dia tahu sekarang kenapa dia merasa ada seseorang yang datang dan masuk ke dalam ruangannya. Jelas tidak mungkin Freya, tapi dia adalah Katlyn yang memang sudah terbiasa datang.


"Kemana yang lainnya, Kak? Kok sepi banget" ucap Katlyn sambil menarik kursi di samping ranjang pasien dan duduk disana.


"Mungkin pergi cari sarapan"


Katlyn mengangguk mengerti, dia mengelus kening Arven dengan lembut. "Bagaimana keadaan Kakak? Besok sudah akan operasi, jadi haru semangat ya. Karena setelah itu akan segera sembuh"


Arven hanya tersenyum mendengar itu, tentu saja kalau dirinya sembuh dia berencana untuk kembali ke tanah air dan fokus bekerja disana saja.


"Nanti setelah sembuh, aku akan kembali ke Indonesia saja" ucap Arven.

__ADS_1


Katlyn mengangguk mengerti. "Aku juga akan membantu Kakak kembali pada cinta pertama Kakak itu"


Bersambung


__ADS_2