
Arven sedikit ragu saat dia memasuki Perusahaan yang sudah lama tidak dia datangi ini. Semua karyawan masih bersikap hormat padanya, setiap ada karyawan yang berpapasan dengannya, maka mereka langsung menganggukan kepalanya dengan hormat pada Arven.
Selepas dari apa masalah antara keluarga Arven ini. Semuanya hanya tetap bersikap hormat padanya, karena semua karyawan dilarang menggosip atau ikut campur tentang urusan si pemilik Perusahaan ini. Arven segera naik lift dan menuju lantai paling atas gedung ini. Tempat petinggi Perusahaan berada.
Ketika saat ini Arven sudah berada di depan ruangan Ayahnya. Dia sedikit ragu untuk masuk, namun ingat jika dia sudah terlanjur berada disini. Jadi rasanya tidak mungkin jika harus mengurungkan niat sebelumnya.
Tanpa mengetuk pintu, Arven langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan Ayahnya ini. Melihat pria paruh baya yang sedang memeriksa beberapa berkas di atas meja kerjanya dengan kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya. Sejenak Arven sedikit merindukan sosok itu.
"Kenapa tidak ketuk pintu dulu, sekrtar..."
Papa langsung terdiam saat dia melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya ini. Masih tidak menyangka kalau anaknya yang akan datang. Segera dia lepas kacamata baca itu dan menyimpannya di atas meja. Duduk bersandar dengan tatapan penuh kemenangan pada anaknya itu. Tentu saja, karena dia berpikir Arven datang untuk meminta bantuannya, dan hal itu jelas memperlihatkan jika dia akan menang dari anaknya yang keras kepala ini.
"Sudah Papa duga kalau kamu akan segera datang menemui Papa. Pasti tidak kuat 'kan hidup tanpa pekerjaan dan uang. Ayolah Arven, turuti saja keinginan Papa maka kamu akan hidup tenang dan bahagia. Tidak perlu hidup susah lagi"
Arven menarik kursi di depan meja kerja Ayahnya dan duduk disana, saling berhadapan dengan Papa. "Seharusnya kalau Papa tidak ingin aku hidup susah lagi, kenapa tidak membiarkan aku mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlianku. Kenapa harus selalu menghalangi setiap langkahku"
Papa tersenyum tipis, dia menatap anaknya dengan lekat. "Masalah itu, kamu yang harus berpikir sendiri. Papa sudah memberikan sebuah pilihan, tapi kamu malah memilih untuk tetap bersama dengan gadis itu. Padahal jelas sudah ada Katlyn yang lebih cocok untuk kamu"
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau meninggalkan Freya, apapun yang terjadi. Asal Papa tahu, dia adalah penyelamat dalam hidupku" tekan Arven.
"Penyelamat apa? Jelas sekarang dia malah membuat kamu terjebak seperti ini. Kamu yang sekarang sengsara karena lebih memilih dia, apanya yang bisa di sebut penyelamat?"
"Dia pendonor ginjal untuk aku!" Teriak Arven, sudah tidak tahan lagi dengan Ayahnya yang terus menerus menjelekan istrinya.
"A-apa?" Papa terdiam dengan penuh keterkejutan. Sungguh dia tidak tahu dan tidak mengerti kenapa sekarang bisa seperti ini. Sama sekali tidak menyangka kalau dia akan mendengar hal ini dari Arven.
__ADS_1
"Ya, dia adalah malaikat penyelamat yang di kirim Tuhan untukku. Aku tidak akan bisa sembuh seperti sekarang ini kalau tidak ada Freya yang mendonorkan ginjalnya untukku. Dan sekarang apa Papa masih ingin membenci seseorang yang jelas sudah menyelamatkan anak Papa ini?"
Papa terdiam mendengar ucapan Arven barusan. Dia juga tidak mengerti sekarang kenapa dirinya sampai tidak tahu soal ini. Salahnya yang tidak pernah mau menyelidiki tentang pendonor itu.
"Kenapa kau baru bilang sekarang?"
Arven tersenyum tipis melihat ekspresi Ayahnya yang begitu terkejut dengan ucapannya itu. "Karena Freya yang melarang aku, dia tidak mau kalau sampai Papa menjadi menerimanya hanya karena Papa merasa berhutang budi atas apa yang dilakukan Freya. Pa, seharusnya Papa bisa melihat ketulusan istriku itu. Dia tidak pernah memandangku hanya karena Papa dan kekayaan. Bahkan disaat sekarang aku hanya menjadi pria pengangguran saja, dia masih setia menemaniku. Apa Papa tidak bisa melihat ketulusan hatinya?"
Papa terdiam, sepertinya memang dia sudah banyak melakukan kesalahan yang besar. Bagaimana dia yang sudah menghancurkan kehidupan anaknya hanya karena sebuah keegoisannya sendiri. Hingga mata dan hatinya tertutup untuk melihat sebuah ketulusan dari gadis biasa yang mencintainya.
"Maafkan Papa Arven, sepertinya memang Papa sudah banyak melakukan kesalahan padamu dan istrimu itu. Papa minta maaf"
Entah sebuah perasaan apa, namun Papa merasa dadanya sangat sesak sampai sulit untuk bernafas. Kenyataan ini masih terlalu mengejutkan, apalagi ketika dia mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Freya selama ini.
*******
"Ah, aku telepon suamiku dulu sepertinya. Dia sedang ada urusan dimana ya sebenarnya? Kenapa bisa lama sekali, jam segini belum pulang"
Freya mengambil ponsel di dalam tasnya, segera menghubungi Arven untuk menanyakan keberadaannya sekarang. "Hallo Sayang, kamu dimana?"
"Sayang, maaf aku belum memberi kamu kabar. Aku sedang berada di rumah sakit"
Deg,, Freya langsung bangun seketika dengan tubuh yang bergetar. Takut jika suaminya kenapa-napa. "Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja 'kan?"
"Aku tidak papa Sayang, aku hanya sedang menemani Mama. Papa masuk rumah sakit terkena serangan jantung"
__ADS_1
Freya menghela nafas pelan, dia kira suaminya sakit lagi. Freya sangat takut kehilangan sampai dia tidak akan mampu untuk bertahan jika Arven kenapa-napa lagi.
"Bagaimana keadaannya sekarang? Di rumah sakit mana? Biar aku susul kesana"
Arven menyebutkan nama sebuah rumah sakit di kota ini. Tapi dia langsung berpikir istrinya akan datang menggunakan apa keisni. "Sayang, kalau mau kesini pakai taksi"
"Iya"
Freya mematikan sambungan telepon, menyimpan ponsel di atas meja. "Kenapa juga harus menggunakan taksi, kan ada motor. Menghindari kemacetan juga"
Freya langsung berlalu ke kamarnya dan bersiap untuk datang menjenguk mertuanya. Meski sebenarnya dia sedikit gugup karena takut dengan sikap Papa nanti saat bertemu lagi dengannya. Sudah tahu kalau Papa itu tidak suka padanya sejak dulu.
Freya mengendarai motornya menuju rumah sakit yang tadi disebutkan oleh Arven. Diperjalanan dia berhenti sejenak dan membawakan makanan untuk suaminya dan mertuanya. Membelikan buah untuk Papa yang sedang sakit.
Sampai di rumah sakit, Freya langsung menelepon suaminya agar menjemputnya ke parkiran rumah sakit karena Freya tidak tahu dimana ruangan Papa dirawat sekarang ini.
"Sayang, kamu sudah datang" Arven langsung menghampiri istrinya itu.
Freya mengangguk, dia memeluk suaminya. Pasti suaminya sangat khawatir dengan keadaan Ayahnya saat ini. "Bagaimana keadaan Papa kamu sekarang?"
Arven menghela nafas pelan. "Sudah lebih baik, kamu datang kesini pakai taksi?"
"Tidak, aku bawa motor sendiri. Tuh" tunjuk Freya pada motornya yang terparkir.
"Sayang ih, malam-malam begini kamu berkendara motor sendiri. Selalu saja buat aku cemas.."
__ADS_1
Dan omelan panjang lebar dari Arven berlanjut sampai mereka berada di depan ruangan Papa.
Bersambung