
Di rumahnya, Arven sedang sarapan bersama orang tuanya. Meski suasana di ruang makan ini dilengkapi dengan satu keluarga yang lengkap. Tapi hanya ada keheningan yang terlihat. Arven yang masih tidak mau memulai pembicaraan ketika orang tuanya juga belum memulai pembicaraan dengannya. Sampai Mama yang pertama buka suara.
"Jadi benar kalau kamu dan Freya hanya menjalin pacaran kontrak saja selama ini?" tanya Mama.
Arven langsung mendongak, dia tidak menyangka kalau Mama akan tahu tentang hal ini. Karena Arven memang tidak buka suara tentang pacar kontrak ini. Tapi darimana Ibunya tahu tentang ini?
"Semalam Papa menemui Hendrick dan menekannya untuk mengatakan semuanya. Memang Hendrick tidak berani berkata apapun. Sampai Papa menyuruh orang untuk menggeledah Apartemen kamu dan menemukan sebuah surat kontrak perjanjian diantara kamu dan Freya" ucap Papa.
Arven langsung berdiri dari duduknya dengan kesal. Merasa jika Ayahnya sudah mulai masuk ke dalam kehidupannya dan privasinya. "Pa, kenapa harus melakukan ini? Dan apa maksud Papa yang masuk ke Apartemenku. Argh.. Kenapa mengganggu privasiku"
Padahal jelas jika Apartemennya tidak ada yang tahu kunci sandinya. Namun kenapa Ayahnya bisa masuk. Sepertinya Arven lupa siapa Papa itu. Selalu saja melakukan berbagai cara untuk bisa mengetahui apa yang ingin dia ketahui. Apalagi jika ini tentang anaknya. Sepertinya memang Papa sudah curiga sejak awal tentang pacaran Arven ini.
"Tapi tidak perlu sampai seperti ini Pa, apa Papa tidak menghargai kalau aku juga mempunyai privasiku sendiri" ucap Arven dengan menggebu-gebu.
Brak...
Papa menggebrak meja dengan keras, dia berdiri dan menatap Arven dengan tajam. "Privasi apa maksudmu itu? Tentang kebohonganmu dan gadis itu. Kau yang gila karena sudah berani membohongi kami semua dengan sandiwaramu itu. Sekarang juga kau selesaikan kontrak kerja sama kalian. Dan kau akan menikah dengan gadis pilihan Papa"
Arven langsung menggeleng cepat. "Tidak akan! Aku tidak akan melepaskan Freya begitu saja. Dan aku juga tidak akan pernah mau menikah dengan wanita manapun selain, Frya!"
Arven langsung berlalu begitu saja darisana. Membuat Papa begitu kesal dan marah, dia mengusap wajahnya dengan frustrasi. Kembali duduk dengan helaan nafas berat.
Mama hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat perdebatan diantara suaminya dan juga anaknya. Kedua pria yang sangat dia cintai dan sayangi itu, harus berdebat di depannya sekarang. Membuat Mama sangat sedih.
__ADS_1
"Pa, udah, jangan terlalu menekan Arven untuk saat ini. Biarkan dia tenang dulu" ucap Mama sambil memegang tangan suaminya yang berada di atas meja.
Papa hanya menghela nafas pelan. "Iya Ma"
Sementara Arven langsung pergi keluar dari rumah itu dengan membawa mobil lain yang ada di garasi. Sengaja tidak menyuruh Hendrick menjemput karena memang dia membutuhkan waktu sendiri saat ini. Arven yang sama sekali tidak bisa menuruti keinginan Ayahnya saat ini.
"Aku tidak mungkin melepaskan Freya, karena aku mencintainya"
Perasaan yang jelas sudah Arven sadari sejak beberapa hari terakhir. Mungkin memang dia sudah jatuh cinta pada Freya sejak pertemuan pertama saat ospek mahasiswa baru saat itu. Hingga dia mulai menyadarinya ketika saat ini sering menghabiskan waktu bersama Freya. Membuat Arven semakin sadar dengan perasaannya sendiri.
"Aku memang sudah jatuh cinta padanya"
Freya yang sedang duduk di kursi yang ada di teras depan rumah ini langsung terkejut saat melihat Arven yang berjalan ke halaman rumah. Freya langsung berdiri dan menghampirinya. Tentunya Freya sangat terkejut dengan kehadiran Arven disana.
"Tuan.."
Arven berdiri di depan Freya, menatap gadis itu dengan tatapan tidak suka. "Apa-apaan kau ini, kenapa merubah panggilanmu padaku"
Mendengar itu membuat Freya tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Rasanya Freya sangat senang karena hari ini masih bisa melihat Arven di depannya, setelah kejadian tadi malam yang terlalu menegangkan. Tanpa banyak berkata lagi, Freya langsung memeluk Arven dengan erat. Air matanya menetes begitu saja, nyatanya dia sudah terlanjur nyaman dengan Arven. Membuat dirinya tidak tahu harus melakukan apa jika mungkin saat ini kontrak kerja sama ini harus terpaksa berakhir.
"Kamu tidak papa 'kan?" tanya Arven dengan mengecup puncak kepala Freya.
Freya mengangguk, dia terisak pelan. "Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"
__ADS_1
Arven langsung melerai pelukannya, menatap Freya dengan kening berkerut. Dia menangkup wajah Freya dengan lembut, mengusap air mata di pippinya menggunakan jempolnya.
"Kenapa menangis?"
Freya menggeleng pelan dengan isak tangisnya yang belum bisa berhenti. "Aku hanya takut kalau sampai aku membuat kamu kesulitan dengan masalah yang semalam terjadi"
Arven mengelus pipi Freya dengan lembut, lalu dia mengecup keningnya. "Tenang saja, aku akan menyelesaikan semua urusanku dengan Mama dan Papa. Kamu hanya perlu untuk tetap disampingku"
Freya langsung menatap Arven dengan bingung, merasa belum bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang dijalani diantara dirinya dan Arven. Tentang kisah pacar kontrak ini yang belum jelas akan seperti apa akhirnya.
"Maksudnya bagaimana? Bukankah setelah ini kita akan berakhir, selama ini kita pacaran hanya sebatas kontrak saja 'kan?" ucap Freya yang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya dengan apa yang sebenarnya akan terjadi selanjutnya tentang pacar kontrak ini.
Arven menatap Freya dengan lekat, dia mengelus pipinya dengan lembut. Jempolnya beralih ke arah bibir Freya dan mengelusnya dengan pelan. Lalu perlahan dia mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling beradu.
Freya terbelalak kaget ketika Arven yang mencium bibirnya. Sungguh tidak menyangka jika Arven akan melakukan hal ini. Namun perlahan Freya mulai rileks dan mulai menikmati ciuman yang diberikan oleh Arven. Dia mengalungkan tangannya di leher Arven. Memejamkan matanya untuk menikmati ciuman yang diberikan oleh Arven..
Hingga setelah cukup puas, Arven langsung melepaskan tautan bibir mereka. Dia menyatukan keningnya dengan kening Freya dengan nafas yang cukup tidak beraturan.
"Freya, kisah kita yang awalnya adalah sebuah kontrak perjanjian. Tapi sekarang aku sadar, kalau ternyata aku begitu mencintiamu. Aku telah jatuh cinta padamu, Freya. Jadi, kau akan tetap menjadi kekasihku, apapun yang terjadi nantinya" ucap Arven.
Freya langsung mundur beberapa langkah, merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Arven barusan. Sungguh Freya yang masih tidak mengerti dan juga tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Arven barusan.
"Jangan bercanda, mana mungkin kamu mencintaiku" ucap Freya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Arven tersenyum gemas melihat wajah terkejut Freya dengan pipinya yang memerah. "Freya, apa yang aku katakan memang benar. Aku mencintaimu, apa kau tidak merasakan hal itu selama ini?"
Bersambung