Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#78# Posesifnya Arven


__ADS_3

Malam ini Freya benar-benar ditemani oleh Haura. Sudah lama juga sejak menikah dia tidak bersama dengan sahabatnya ini untuk menginap di rumahnya seperti ini.


"Bisa gitu ya Frey, tapi bersyukur deh karena mertua kamu sudah mau menerima kamu" ucap Haura saat mendengar cerita dari sahabatnya ini barusan.


Freya mengangguk, dia juga masih tidak menyangka kalau Papa akan bisa menerimanya seperti ini. Mungkin memang hanya tinggal menunggu waktu saja untuk bisa mendapatkan restu dari mertuanya.


"Tapi kasihan tahu kemarin Pak Direktur, dia terlihat sangat terpuruk saat kau menolaknya. Ah, aku jadi ingin menjodohkan dia dengan yang lain agar bisa melupakanmu" ucap Haura.


Freya terkekeh mendengar itu, memang temannya ini selalu saja menjadi mak comblang. "Kalau memangnya kamu harus melakukan itu, ya sebaiknya harus seperti itu. Aku juga tidak mungkin bersama dengannya"


"Tapi Frey, apa kamu benar pernah dekat dengannya? Bukannya dia teman sekolah kamu ya?" tanya Haura dengan sangat penasaran.


"Hanya sebatas teman dekat, memang dia baik banget. Jujur dia adalah pria yang paling perhatian dan selalu tulus. Namun aku tidak pernah menyangka kalau dia menyimpan perasaan yang lebih padaku. Kita selalu terlihat biasa saja, meski jujur aku pernah merasa kagum padanya. Ya, karena dia itu baik dan tulus. Berteman tanpa melihat status sosial kita"


Haura mengangguk mengerti, dia juga bisa melihat kalau dia adalah sosok pria yang baik. "Makanya aku kasihan padanya, aku akan mencarikan jodoh pengganti untuknya saja"


"Kamu ini, bukannya sekarang kamu saja jomblo dan belum pernah berpacaran, kenapa bisa-bisanya mau sok-sok'an jadi mak comblang"


Haura hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, memang dia senang saja kalau melihat orang-orang bisa mendapatkan pasangan terbaiknya, seperti Freya saat ini. Setelah cukup banyak pria yang dikenalkan oleh Haura padanya, namun tetap saja yang menjadi pilihan Freya adalah kekasih lamanya.


"Sudahlah, terserah kamu saja. Yang penting kamu bahagia" ucap Freya.


Haura tersenyum mendengar itu, dia merebahkan tubuhnya di atas tepat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan senyuman cerianya.


"Nanti kalau aku bisa mendapatkan jodoh yang terbaik dan saling mencintai dengan sangat besar dan tulus seperti kamu dan Arven" ucap Haura.


Freya ikut merebahkan tubuhnya di samping Haura. "Aku yakin kamu juga akan mendapatkan yang terbaik untuk jodoh kamu nanti. Kamu itu cantik dan baik"

__ADS_1


"Ah, iya dong sayang" ucap Haura dengan cengengesan.


*******


Pagi ini Freya sudah siap untuk berangkat bekerja. Dia sudah mengeluarkan motornya dari dalam garasi. Freya malas memesan taksi yang terkadang suka lama. Jadi memilih untuk mengendarai motor sendiri saja. Haura sudah kembali lebih pagi tadi, katanya ada sebuah masalah di Restaurantnya itu.


"Ah, hanya sebentar saja tidak papa menggunakan motor. Lagian jarak ke Kantor juga tidak terlalu jauh. Suamiku saja yang selalu pernoan"


Akhirnya Freya berangkat dengan menggunakan motornya yang sudah diantarkan oleh orang suruhan Arven saat tadi pagi. Jadi sekarang Freya bisa berangkat menggunakan motornya.


Saat di lampu merah, Freya menunggu lampu merah sambil mengecek ponselnya sekilas. Sampai suara klakson yang mengagetkannya, Freya langsung mendongak dan melihat lampu masih merah. Lalu siapa yang membunyikan klakson saat lampu masih belum berubah.


"Siapa si, orang berisik banget deh"


Freya menoleh ke sampingnya dan dia langsung terdiam saat melihat mobil suaminya berada disampingnya, hanya terhalang oleh satu motor lain. Kaca jendela mobil yang terbuka membuat Freya bisa melihat jelas tatapan tajam suaminya.


Freya tersenyum masam pada suaminya, melihat tatapan tajam suaminya selalu saja membuatnya merinding. Sampai seorang pengendara pria yang berada disampingnya menepuk bahu Freya. Mengingatkan Freya jika lampu sudah berubah dan segera melajukan motornya.


"Aduh, kenapa dia mengikutiku si"


Suara klakson mobil yang terus berbunyi, membuat Freya tahu kalau Arven ingin dia menghentikan motornya sejenak dan berbicara dengannya. Dan tentu Freya tidak bisa melakukan apapun selain menuruti keinginan suaminya ini.


Menghentikan motornya di dekat pohon rindang di pinggir jalan, dan mobil suaminya jua langsung berhenti di depannya. Arven yang langsung turun dari mobil dan menghampiri suaminya dengan tatapan tajam.


"Sayang, kamu mau kemana? Bukannya di rumah sakit ya?" ucap Freya dengan sedikit gugup.


"Mulai nakal ya, melanggar larangan suami. Kamu maunya apa si Sayang? Apa ingin aku terus mencemaskanmu" tekan Arven.

__ADS_1


"Sayang, aku tidak papa kok. Lagian bawa motor saja sudah biasa. Kamu jangan parnoan begitu" ucap Freya.


"Apanya yang biasa? Sayang, aku cuma takut kamu kenapa-napa. Jadi jangan membuat aku khawatir"


Freya cemberut mendengar itu, dia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya dengan lembut. Mengecup punggung tangan suaminya itu. "Yaudah, mau kamu gimana sekarang? Aku udah telat nih Sayang. Ada meeting pagi ini"


Arven langsung menghembuskan nafas pelan, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Aku antar kamu ke Kantor sekarang"


"Sayang, terus motor aku bagaimana?" tanya Freya. "...Sayang, aku beli motor ini nabung loh. Kalau ilang aku gak ridho pokoknya"


"Aku belikan lagi kalau hilang"


Freya menggeleng cepat dengan wajah yang cemberut. "Gak mau, pokoknya ini motor banyak menemani aku selama ini. Jangan sampai ilang"


Arven malah jadi gemas pada istrinya ini, dia memanggil seorang yang tidak sengaja lewat disana. Meminta untuk mengantarkan motor itu pada alamat yang diberikan Arven dengan berjanji akan memberikan dia imbalan saat nanti motornya sudah sampai di rumah.


Dan akhirnya Freya berangkat dengan diantar suaminya ke Kantor hari ini. Entah dia harus senang atau bagaimana, namun memang suaminya ini sedikit berlebihan seolah dia takut kalau Freya akan kenapa-napa dan meninggalkannya.


"Sayang, bagaimana keadaan Papa sekarang?" tanya Freya, memecah keheningan di dalam mobil.


"Sudah membaik, mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang"


"Syukurlah"


Sampai di tempat kerja, Freya langsung berpamitan pada suaminya. Tidak lupa untuk kecupan perpisahan yang tidak pernah boleh terlewatkan jika tidak ingin suaminya marah padanya.


"Aku kerja dulu ya, kamu hati-hati di jalan" ucap Freya.

__ADS_1


Arven hanya mengangguk saja, dia mengecup kening istrinya dengan lembut.


Bersambung


__ADS_2