
Bibi mengerti tentang hal itu, dia tahu bagaimana perasaan Freya yang begitu sulit saat ini. Bagaimana dirinya yang tidak akan pernah bisa melakukan apapun dengan keadaan saat ini.
"Kalau memang sudah seperti itu keputusan kamu, maka coba untuk bangkit lagi dan jangan terus terpuruk dengan keadaan yang ada. Karena jika nanti kamu dan Arven adalah jodoh, maka kalian akan tetap bersama meski banyak rintangan dan penghalang. Tuhan tidak akan sulit untuk menyatukan kalian kembali, jika memang kalian jodoh"
Freya mengangguk, dia senang mendapatkan sebuah nasihat dari Bibi. Karena memang sekarang ini dirinya juga tidak mungkin bisa untuk memaksakan kehendak agar bisa tetap bersama dengan Arven, sementara dirinya tahu jika hubungan mereka ini terhalang restu.
********
Suasana di ruang makan yang mewah ini, terasa sangat hening. Padahal anggota keluarga ini sedang menikmati makan malam mereka. Tidak ada sama sekali percakapan diantara mereka.
Arven yang bahkan baru keluar kamar sekarang. Sarapan dan makan siang saja diantarkan ke kamarnya. Dia masih begitu terpuruk atas apa yang terjadi kemarin. Bagaimana dirinya yang sekarang bahkan tidak bisa memaksakan takdir lagi, karena kenyataannya Freya yang tidak pernah mencintainya selama ini.
"Arven, apa kamu baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak biasanya kamu mabuk parah seperti semalam" ucap Mama yang merasa bingung dengan keadaan putranya ini.
Arven mendongak, dia menatap dingin kedua orang tuanya. Sepertinya atas kepergian Freya ini, berhasil mengubah sosok Arven menjadi lebih dingin lagi dari sebelumnya. Seolah dunianya yang sudah hancur dan sekarang hanya ada kesunyian dan juga kesepian dalam hidupnya ini.
"Aku dan Freya sudah berakhir, bukankah itu yang kalian inginkan. Jadi sekarang kalian tidak perlu lagi memintaku untuk berpisah dengan Freya"
Mama terdiam, dia cukup terkejut saat mendengar ucapan anaknya itu. Karena memang dirinya yang tidak pernah terlalu menekan Arven untuk berpisah, jika saja Freya tidak pernah membohongi mereka semua.
"Baguslah kalau kamu sudah sadar jika perempuan itu memang tidak baik untuk kamu. Lihatlah, bahkan dia yang mengakhiri semuanya. Jadi, kau tidak perlu untuk terus memikirkan tentang perempuan itu lagi" ucap Papa.
Arven tidak menjawab lagi, dia berdiri dan langsung pergi dari ruang makan itu. Kembali lagi ke dalam kamar untuk menenangkan dirinya yang masih terlalu kacau dalam keadaan ini.
__ADS_1
Di ruang makan, Mama langsung menatap suaminya dengan lekat. "Bukan Papa 'kan yang sudah membuat semua ini terjadi?"
"Apa maksud Mama? Lagian untuk apa juga Papa memaksa semua ini terjadi, toh lambat laun juga akan terlihat bagaimana sikap asli gadis pembohong itu. Sekarang kita mulai fokus saja pada perjodohan Arven dan Katlyn"
Mama hanya diam saja, dia juga tidak akan menyangka jika suaminya sampai melakukan hal itu pada hubungan Arven dan Freya. Jadi, Mama percaya saja dengan ucapan Papa barusan.
"Jangan terburu-buru Pa, kita harus biarkan dulu Arven yang sedang patah hati itu sembuh. Karena memang dia tidak akan bisa kita jodohkan secepat itu jika memang tidak ingin Arven murka" ucap Mama.
Papa hanya mengangguk saja, dia tersenyum tipis. Akhirnya anaknya itu bisa terbebas dari gadis pembohong yang menurutnya tidak baik untuk Arven dan kehidupannya kedepannya nanti.
Di dalam kamar, Arven hanya duduk diam di atas sofa dekat jendela. Dia masih merasa jika hari ini hanyalah sebuah mimpi saja. Tapi ternyata memang benar apa yang dia dengar kemarin, adalah sebuah kenyataan.
"Kenapa dia tega sekali padaku, sampai menghancurkan hidupku sampai seperti ini"
"Apa karena dari awal kisah ini dimulai karena sebuah kontrak kerjasama, hingga sekarang harus berakhir seperti ini?"
Sungguh, Arven memang sedang dalam keadaan yang sangat kacau saat ini. Dirinya yang bahkan tidak pernah bisa melupakan ucapan Freya kemarin malam yang begitu menusuk ke hatinya. Kata-kata dia yang mengatakan jika dia tidak pernah mencintai Arven. Sungguh sangat menusuk sampai ke relung hatinya.
"Aku benci kamu, Freya!"
Rasanya memang Arven ingin sekali membenci Freya atas apa yang dia lakukan. Meski hatinya tidak bisa menuruti pemikirannya itu.
#######
__ADS_1
Hari-hari terus berlalu, meski kesedihan dan rasa sakit masih belum juga hilang. Namun, nyatanya tidak semuanya harus terhenti karena hal itu. Freya tetap harus menjalani hidupnya seperti biasa. Kuliah, dan bahkan sekarang ini dia sudah krmbali bekerja di Restaurant milik keluarga Haura.
Beruntung karena sahabatnya itu bisa menerima kembali Freya untuk bekerja disana, sampai Freya bisa lulus kuliah dan akan mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.
Hembusan nafas kasar terdengar begitu keras dari Freya yang baru saja selesai dengan jam kerjanya. Dia memakai jaket, dan mengambil tasnya di dalam loker.
"Frey, aku ingin bicara sebentar"
Freya langsung menoleh saat dia mendengar suara Haura barusan. Freya mengangguk saja untuk ucapan Haura barusan. Mereka duduk di sebuah kursi kayu yang berada di ruang ganti karyawan itu. Suasana sudah sepi, karena yang lainnya juga sudah pulang.
"Frey, jadi ada apa sebenarnya? Bukannya aku tidak menerima kamu lagi bekerja disini, tapi aku hanya heran saja kenapa tiba-tiba kamu meminta kembali bekerja disini? Bukannya kamu dilarang untuk bekerja oleh Tuan Muda? Dan akhir-akhir ini, kenapa pacarmu itu tidak pernah datang kesini untuk menemui kamu. Apa ada masalah?" tanya Haura.
Freya menghela nafas pelan, entah harus bagaimana dirinya sekarang menceritakan semua ini. Namun hanya pada sahabatnya ini dia bisa menceritakan keluh kesahnya.
"Aku sudah putus dengan Arven"
Sungguh, dadanya sangat sesak saat Freya mengatakan hal itu. Entah harus bagaimana sekarang, tapi sudah hampir tiga minggu sejak kata menyakitkan yang Freya katakan pada Arven, selama itu juga hari-harinya tidak pernah terlewatkan tanpa air mata. Setiap malam, disaat waktu sendiri, maka tangisan Freya akan pecah begitu saja.
"Frey, kamu bercanda 'kan? Ayolah, kamu mencintainya 'kan? Kenapa harus berpisah?" ucap Haura yang sedikit tidak percaya dengan ucapan sahabatnya ini.
Freya menunduk, dia menggeleng pelan. Dirinya juga ingin sekali membantah semuanya, ingin jika semua ini hanya sebuah mimpi buruk. Dan ketika dia terbangun, maka hanya ada keindahan dan kebahagiaan yang akan menyambutnya. Bukan lagi kesedihan yang ada.
"Seandainya ini hanya mimpi, aku akan sangat bersyukur Haura. Tapi sayangnya, semua ini nyata. Aku sendiri yang memutuskan semua ini" ucap Freya dengan isak tangis yang mulai terdengar.
__ADS_1
Bersambung