
"Pak Direktur ya" sinis Arven saat mereka sudah duduk di sebuah bangku di ujung ruangan, tepatnya dekat dengan jendela.
Freya mendongak dan menatap suaminya yang memalingkan wajahnya ke arah jendela. Fryea menghela nafas pelan. "Sayang, aku 'kan sudah jelaskan semuanya. Aku juga udah minta maaf sama kamu. Lagian aku juga tidak menyangka kalau ternyata dia itu adalah teman sekolah aku dulu"
"Kenapa harus berbicara lama sekali dengannya. Bahkan berbohong padaku kalau dia adalah teman kencan yang gagal itu" ketus Arven, masih menatap keluar jendela.
Mendengar itu, membuat Freya hanya menghembuskan nafas pelan. "Aku tidak berbohong kok, hanya belum bilang saja sama kamu"
Arven menatap istrinya dengan tajam, masih saja kesal karena melihat istrinya yang berbicara bersama pria lain. Apalagi ketika dia tahu kalau pria itu adalah orang yang pernah akan berkencan denganĀ istrinya.
"Apa bedanya? Kamu jelas sudah menikah, kenapa kamu tidak bilang saja pada dia kalau kau itu sudah menikah" tekan Arven.
"Kan sudah Sayang, aku sudah menjelaskan kalau aku sudah menikah. Lagian aku juga tidak mungkin mengkhianati kamu. Selama tiga tahun saja, aku tidak pernah bisa berpaling dari kamu" jelas Freya.
Arven menatap istrinya dengan lembut, mungkin memang istrinya yang tidak pernah mengkhianatinya. Tapi tetap saja dia takut kalau istrinya akan tergoda oleh pria lain. Apalagi sekarang yang keadaan Arven yang sudah tidak seperti dulu. Karena dirinya yang sudah tidak mempunyai pekerjaan, meski tentu saja tabungannya masih cukup untuk hidup mereka beberapa tahun ke depan. Tapi saat mendengar jabatan pria yang tadi berbicara dengan Freya, membuatnya sedikit insecure.
"Sayang, kamu tidak tahu bagaimana perasaan aku saat ini. Karena aku sedang tidak mempunyai pekerjaan, aku takut kamu akan beralih pada pria lain"
Freya menghela nafas pelan, dia tidak tahu kalau suaminya itu bisa berpikir seperti itu sekarang. Tidak percaya kalau seorang Arven akan merasa tidak percaya diri juga. Freya meraih tangan Arven di atas meja, dia menggenggamnya dengan lembut. Lalu mengecup punggung tangan itu.
"Sayang, memangnya kamu pernah melihat aku berpaling? Atau melihat aku yang bisa berubah pikiran hanya karena sebuah harta dan jabatan?" ucap Freya.
Arven menggeleng pelan, memang tidak pernah dirinya melihat sosok istrinya yang seperti itu. Karena sebenarnya dia juga tidak mengerti kenapa dirinya bisa sampai seperti ini. Padahal dulu saja Arven selalu menjadi sosok pria yang sangat percaya diri dalam hal apapun.
__ADS_1
"Sayang, aku hanya takut kamu akan berpaling. Tahu sendiri kalau aku tidak bisa lagi kehilangan kamu untuk kedua kalinya"
Freya menggeleng pelan, dia tidak mungkin juga meninggalkan Arven. Karena selama ini dirinya sangat mencintai Arven sampai tidak bisa lagi berpaling pada orang lain. Meski sudah tiga tahun lamanya mereka pernah berpisah, tapi sama sekali hatinya tidak bisa berpaling.
"Aku tidak mungkin berpaling Sayang, kamu harus percaya sama aku. Lagian selama tiga tahun ini kita berpisah, bukannya kamu yang malah berpaling pada Katlyn. Bahkan sampai bertunangan"
Arven terdiam, kenapa semuanya malah terasa berbalik. Merasa jika sekarang malah Freya yang menyudutkannya. "Itukan kamu juga tahu kalau aku hanya menuruti keinginan orang tuaku"
Freya mendengusa pelan, dia melepaskan genggaman tangannya dan melengos kesal. "Kalau memang kamu benar mencintaiku. Tidak mungkin kamu bertunangan dengan dia, meski alasannya hanya karena orang tua. Sudah jelas 'kan kalau sebenarnya disini yang tidak setia itu, kamu. Bukan aku"
Arven terbelalak mendengar itu, dia langsung gelagapan. Ingin meraih kembali tangan Freya, tapi istrinya itu langsung menjauhkan tangannya itu dari jangkauan Arven.
"Sayang, aku benar-benar hanya mencintaimu. Mana mungkin kalau aku berpaling, meski aku bertunangan dengannya, tapi hatiku tetap milik kamu Sayang" ucap Arven dengan sedikit cemas melihat wajah Freya yang kesal.
"Sudahlah, nyatanya memang kamu gampang sekali berpaling. Nanti kalau aku sudah mati suatu saat nanti, pasti kamu akan mudah menikah lagi dengan wanita lain. Iya 'kan?"
Arven menatap Freya dengan lekat, masih belum melepaskan tangannya di dagu Freya. Menatapnya dengan lekat. "Aku paling tidak suka kau membahas kematian seperti itu. Dan yang perlu kau ingat, jika selamanya hanya kamu yang akan menjadi pemilik hatiku. Faham!"
Freya mengangguk, dia seolah terhipnotis dengan tatapan Arven dan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Jelas sekali disana bukan hanya mereka berdua saja, tapi Arven sama sekali tidak ragu untuk melakukan itu.
"I-iya Sayang" ucap Freya.
Arven tersenyum, dia kembali mengecup bibir istrinya sebelum melepaskan tangannya dari dagu Freya, lalu kembali duduk kembali di tempatnya.
__ADS_1
"Sekarang makanlah, dari tadi makanannya mungkin sudah hampir dingin" ucap Arven sambil menatap makanan di atas meja.
Lagi, Freya masih seperti terhipnotis oleh suaminya hingga dia hanya mengangguk saja. Lalu dia memejamkan matanya saat menyadari banyaknya pasang mata yang menatap ke arah mereka.
"Sayang kamu benar-benar ya, kenapa melakukan hal itu di tempat umum seperti ini. Kan jadi malu dilihatin banyak orang" kesal Freya.
Sepertinya Freya baru tersadar dari keterkejutannya dengan apa yang dilakukan oleh Arven. Hal itu membuat Arven terkekeh lucu dengan sikap istrinya ini.
"Tidak masalah, aku hanya ingin memberi tahu mereka kalau kamu itu adalah milikku" ucap Arven santai.
Freya hanya menghela nafas pelan, memang suaminya ini tidak pernah sedikit saja merasa malu ketika melakukan kemesraan dengan Freya di depan banyak orang seperti ini. Malah seperti sedang pamer kemesraan pada banyak orang.
"Memangnya aku milik siapa lagi kalau bukan milikmu" ucap Freya sambil menggeleng pelan, dia mulai memakan makanannya.
Arven hanya tersenyum saja mendengar itu. "Kalau pria tadi menemuimu lagi, langsung beritahu aku karena aku ingin memberikan penegasan padanya kalau kau itu adalah milikku"
"Sudahlah, jangan membahas dia lagi. Buktinya kamu saja dulu pernah berpaling pada Katlyn, bahkan sampai bertunangan" ucap Freya dengan nada penuh sindiran pada suaminya.
"Sayang..." Arven mulai merengek, hingga membuat Freya tidak kuasa menahan senyumnya melihat mimik wajah suaminya itu. "...Kamu jangan membahas tentang itu lagi. Meski aku pernah bertunangan dengan Katlyn, tapi hati dan cinta aku hanya untuk kamu. Buktinya sekarang kita menikah"
Freya hanya tersenyum mendengar itu, dia tahu jika takdir mereka berdua adalah untuk kembali bersama seperti ini. Karena rasanya tidak akan mudah bagi Arven untuk menentang orang tuanya saat itu. Hanya saat ini saja Arven berani menentang Papa hanya agar dia bisa kembali bersama dengan Freya.
"Sayang, aku percaya itu. Tapi aku tetap tidak suka kalau sampai kamu masih ada kontak komunikasi dengan Katlyn" ucap Freya dengan nada manja.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, nomor ponsel aku langsung ganti saat pindah kembali ke Indonesia, dan dia tidak tahu"
Bersambung