Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#32# Harus Meninggalkan Arven!


__ADS_3

Freya menunduk dengan tangan saling meremas. Sungguh dia idak akan pernah bisa melawan Papa, namun dirinya juga tidak akan bisa melawan Papa seterusnya.


Freya langsung keluar dari dalam mobil itu, menatap mobil itu yang melaju kencang. Freya kembali ke motornya dan mengendarai motornya menuju rumah dengan pikiran yang semakin kacau.


Freya yang sekarang saja bingung harus melakukan apa, dia juga tidak mengerti harus melakukan apa. Tidak mungkin dia tiba-tiba meninggalkan Arven, karena memang sejatinya dia tahu kalau Arven akan sangat terluka jika dirinya tinggalkan begitu saja. Freya hanya tidak ingin menghancurkan kehidupan pria yang dicintainya.


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Freya yang kebingungan sendiri harus melakukan apa saat ini. Ketika orang tua Arven yang datang sendiri padanya dan meminta dirinya untuk pergi meninggalkan Arven. Sementara dirinya yang memang tidak mau berpisah dengan pria yang dia cintai. Entah apa yang harus dilakukan sekarang ini.


*******


Beberapa hari berlalu, Freya yang baru saja pulang kuliah sore ini. Dikejutkan dengan banyaknya orang di teras rumah Bibi. Segera Freya menghampiri mereka dan bertanya ada apa mereka sampai berkumpul di depan rumah Bibi seperti ini.


"Bibi kamu dan sepupu kamu kecelakaan bersamaan Freya, dia baru saja diantar kesini oleh warga setelah dari rumah sakit"


Deg,, mendengar hal itu membuat tubuh Freya mematung. Merasa bingung karena tiba-tiba Bibi dan Sinta mengalami kecelakaan bersamaan seperti ini. Freya segera berlari masuk ke dalam rumah, melihat Bibi dan Sinta yang sedang duduk di kursi dengan luka-luka di tangan dan kakinya.


"Bi, Sinta, kenapa kalian bisa seperti ini?" tanya Freya dengan cemas.


"Aku gak tahu, tadi pas aku lagi mau nyebrang jalan, tiba-tiba ada motor yang nyerempet aku" ucap Sinta.


"Ya, Bibi juga. Saat baru mau pulang belanja dari pasar dan mau naik angkutan umum, malah ada motor yang nyerempet BIbi"


Penjelasan keduanya membuat Freya merasa bingung. Sampai suara notifikasi pesan membuat Freya langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Membuka pesan dari nomor tidak dikenal itu yang masuk ke dalam ponselnya itu.

__ADS_1


Bagaimana? Apa masih harus di paksa untuk pergi dari kehidupan Arven, atau mau pergi sendiri? Saya bisa saja melakukan lebih dari ini, jika kamu tidak mau meninggalkan Arven secepatnya.


Ponsel Freya jatuh begitu saja ke atas lantai, membentur kakinya sendiri. Tubuhnya membeku saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya, belum lagi keadaan BIbi dan Sinta sekarang ini yang jelas kalau mereka berdua kecelakaan bersamaan seperti ini karena memang disengaja, bukan murni kecelakaan.


"Bibi, Sinta aku minta maaf" ucap Freya dengan tangisan yang pecah begitu saja. "...Gara-gara aku kalian jadi seperti ini"


"Kamu ini kenapa Freya? Bibi memang kesal sama kamu, tapi Bibi juga tidak akan menyalahkan kamu dengan apa yang memang bukan kesalahan kamu" ucap Bibi yang bingung dengan sikap Freya kali ini.


Freya tidak menjawab, dia langsung memeluk Bibi. Sebenarnya Freya tahu kalau Bibi juga sayang padanya, hanya saja memang dia masih mempunyai rasa kesal karena dulu, Paman juga harus meninggal karena terlalu banyak beban. Terbebani dengan hutang yang ditinggalkan oleh Ayahnya dan Freya yang juga masih menjadi bebannya.


Namun dibalik sikap ketus Bibi padanya, Freya juga sadar kalau Bibi menyayanginya juga. Bibi juga selalu memberikan perhatian padanya, meski tidak benar-benar menunjukan perhatiannya itu.


"Maafkan Freya Bi, sekarang Freya janji tidak akan memaksakan kehendakan hanya keegoisan Freya saja. Sekarang aku akan mengalah untuk semuanya" ucap Freya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Ini hanya sebuah kecelakaan kecil, kenapa kamu yang meminta maaf?" ucap Sinta, dia juga ikut bingung dengan Freya  saat ini.


Freya tidak menjawab, dia hanya terdiam dengan kepala menunduk dan isak tangis yang semakin kencang. Mungkin memang dirinya yang harus pergi mulai sekarang, tidak mau lagi membuat semuanya kacau dan membahayangkan keselamatan orang-orang yang disayanginya.


Maafkan aku Arven.


*******


Malam ini, Arven begitu senang karena mendapat pesan dari Freya jika dirinya sudah menunggu Arven di Apartemennya. Tentu saja membuat Arven sangat senang. Karena sudah beberapa hari ini dirinya tidak bisa bertemu dengan Freya karena memang dirinya yang cukup sibuk dengan beberapa pekerjaan.


Sampai di Apartemen, Arven yang baru saja keluar dari lift, langsung berjalan menuju Apartemennnya. Melihat Freya yang sudah menunggunya di depan Apartemen, membuat Arven tersenyum senang.

__ADS_1


"Sayang, aku minta maaf karena sudah membuat kamu menunggu. Harusnya aku memberikan acces card sama kamu" ucap Arven.


Freya hanya tersenyum mendengar itu, namun matanya berkaca-kaca. "Tidak papa, bagaimana pekerjaan kamu?"


Arven langsung meraih tubuh Freya dan memeluknya dengan lembut. Memberikan beberapa kali kecupan di puncak kepalanya. "Masih cukup banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Butuh semangat dari kamu"


Freya hanya terkekeh pelan mendengar ucapan manja Arven padanya. Tangannya segera mengusap air matanya yang menetes begitu saja di pipinya. Freya semakin mengeratkan pelukannya, seolah dirinya sangat takut kehilangan Arven. Namun sepertinya akan Arven yang kehilangan dirinya.


"Aku akan berikan kamu semangat untuk malam ini. Biar besok kamu bisa menerima kenyataan dengan lapang" ucap Freya.


Arven sedikit merasa aneh dan heran dengan ucapan Freya dan nada bicaranya itu. Namun dia tidak terlalu memikirkannya. Memilih untuk mengabaikannya saja. Arven segera membawa Freya untuk masuk ke dalam Apartemennya.


"Mau aku masakin untuk makan malam ini?" ucap Freya.


Arven langsung mengangguk, dia duduk di sofa dan menarik tangan Freya untuk duduk di atas pangkuannya. Memeluk tubuh Freya dengan erat. Beberapa kali mengecup bahu kekasihnya itu dengan lembut.


"Sudah lama juga aku tidak makan masakan kamu. Sekarang boleh masakin buat kita makan malam, aku juga belum makan malam" ucap Arven.


Ferya mengangguk, lagi-lagi mencoba untuk menahan air matanya untuk tidak lagi menetes di depan Arven. Karena tahu kalau Arven pastinya akan sangat khawatir padanya ketika melihat Freya menangis.


"Yaudah, kalau gitu aku langsung pergi ke dapur untuk masak ya. Ada bahan makanan apa saja di dapur?" Tanya Ferya, dia ingin segera berdiri dari atas pangkuan Arven, tapi tangan pria itu langsung menahannya.


"Kau lihat saja sendiri disana, aku 'kan gak sering belanja. Hanya belanja kalau bersama kamu saja" ucap Arven.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2