
Freya mengusap kasar air matanya, dia terus menunduk saja saat berjalan keluar dari gedung ini. Banyak orang yang menatapnya dengan tatapan menghina. Membuat Freya tidak bisa melakukan apapun, hingga dia hanya bisa menunduk dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Saat sudah berada di dalam mobil, Freya mencoba menghentikan tangisannya. Dia mengambil ponselnya yang berbunyi notifikasi. Freya membuka pesan dari Arven.
Jangan takut, pulanglah bersama Hendrick dan istirahat. Aku akan menyelesaikan semua ini. Kau tidak perlu memikirkan apapun.
Mendengar itu membuat Freya sedikit tenang, Arven yang masih memberikan perhatian padanya. Sungguh Freya merasa hatinya menghangat saat Arven mengirimnya pesan seperti itu.
"Tenanglah Nona, Tuan Muda akan menyelesaikan semua ini, termasuk dengan Nona Renjani yang membuat masalah ini" ucap Hendrick.
Freya hanya diam saja, dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan menatap keluar jendela mobil. Masih terlalu bingung dan shock dengan apa yang telah terjadi saat ini.
*******
"Duduk!" tekan Papa saat sudah sampai di rumah.
Arven tidak banyak bicara, dia langsung duduk di kursi tunggal yang ada di ruang tengah itu. Hanya duduk diam dan akan mendengarkan ucapan Papa dulu, baru dia akan menjelaskan semuanya.
"Jadi apa yang kamu lakukan saat ini? Kau sengaja berbohong tentang identitas pacarmu itu?" ucap Papa dengan suara rendah dan tatapan yang begitu dingin.
Arven menghembuskan nafas kasar, dia menatap Papa dan Mama secara bergantian. "Karena aku tahu kalau sampai kalian tahu sejak awal tentang identitas Freya, maka kalian semua tidak akan pernah menyetujui hubunganku dengannya"
"Tentu saja, apalagi sekarang kita tahu kalau wanita yang kamu pacari itu hanya seorang pembohong" tekan Papa.
Mendengar itu membuat Arven sedikit tidak terima dengan ucapan Papa barusan. "Dia tidak akan berbohong jika aku tidak menyuruhnya. Karena memang aku yang memintanya. Jadi kalau mau menyalahkan, salahkan saja aku. Freya sama sekali tidak salah" ucap Arven.
Papa bertepuk tangan dengan tatapan mengejek. "Hebat sekali kau sampai membela wanita itu. Ingat Arven, sampai kapan pun Papa tidak akan pernah setuju dengan hubungan kalian. Segera akhiri hubungan kalian berdua itu"
__ADS_1
"Tidak Pa, aku tidak akan pernah mengakhiri hubungan ini" tekan Arven yang tidak kalah keras kepalanya dengan Ayahnya.
"Kau!" Papa sudah berdiri dan hampir melayangkan tamparan keras di wajah Arven, namun Mama segera menahannya.
"Jangan sakiti anak kita Pa, biar nanti kita bicarakan lagi saat pikiran kita sudah tenang" ucap Mama.
Papa mengangguk, memang kemarahannya akan cepat mereda jika Mama yang menenangkan. Mama segera membawa Papa ke kamar, membiarkan Arven juga menenangkan pirkirannya saat ini.
Arven mengusap wajah kasar saat mengingat ucapan Papa barusan. Tentunya dia tidak akan pernah bisa membuat Papa dan Mama menerima begitu saja antara hubungannya dan Freya. Sementara mereka sudah tahu siapa Freya sebenarnya.
"Sial, sepertinya wanita itu sedang ingin membuat masalah denganku"
Arven meraih ponselnya dan menghubungi Hendrick dengan segera. Dia harus tahu bagaimana kabar Freya saat ini.
"Bagaimana dengannya, Hen?" Langsung bertanya ke intinya saja.
Hal itu membuat Arven langsung menghembuskan nafas pelan. Dia memutuskan sambungan telepon tanpa banyak berbicara lagi. Sekarang ini dia hanya sedang memikirkan Freya bagaimana.
"Semoga saja dia tidak sampai sakit karena memikirkan hal ini" gumam Arven.
*********
Freya terbangun pagi ini dengan perasaan dan pikiran yang tidak baik-baik saja. Tentu saja karena kejadian kemarin malam, membuatnya jadi kepikiran sekarang. Bagaimana keadaan Arven ketika kedua orang tuanya mngetetahui tentang statusnya yang sebenarnya. Padahal jelas Freya hanya mengkhawatirkan Aven, dan dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Meski sudah semalaman dia hanya menangis untuk memikirkan kejadian ini.
"Kenapa kau?" tanya Sinta yang melihat Freya yang melamun sambil memotong sayuran di atas meja.
"Aww..." Karena sedang melamun dan tidak fokus membuat pisau yang di pegangnya tidak sengaja mengenai jari telunjuknya.
__ADS_1
Sinta langsung mengambil tisu dan menari tangan Freya, menutup luka Freya dengan tisu. "Kau ini sedang memikirkan apa? Kenapa sampai tidak fokus begini?"
Freya hanya menghela nafas pelan, dia menekan tisu di jari telunjuknya itu. Darah segar yang masih merembas di jarinya yang luka. "Aku sedang ada masalah Sin, aku juga bingung sekarang harus melakukan apa"
Sinta menatap Freya dengan lekat, menarik kursi meja makan sederhana itu dan duduk disana. "Ada masalah apa? Apa ini tentang Tuan Arven? Hubungan kalian baik-baik saja 'kan?"
Freya menghembuskan nafas kasar dengan tatapan lurus ke depan. Tentunya dirinya juga bingung harus melakukan apa saat ini. Namun yang lebih menjadi pikirannya adalah bagaimana keadaan Arven setelah orang tuanya tahu tentang identitas Freya yang asli. Tentunya kedua orang tuanya akan merasa sangat di bohongi.
"Sebenarnya aku dan Arven tidak benar-benar pacaran seperti yang kalian ketahui"
Sinta langsung mnegerutkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Freya barusan. "Apa maksudmu? Bukannya dia sendiri yang sudah mengakui kalau kau itu adalah pacarnya"
Freya tersenyum tipis, dia juga merasa sangat senang dan bingung dengan sikap Arven itu. Bagaimana dirinya yang mengakui Freya sebagai kekasihnya di depan Bibi dan Sinta dan juga banyak orang lainnya. Tentunya perasaan Freya mulai tersentuh, karena memang dia juga tidak pernah menyangka kalau Arven akan memberikan pengakuan seperti itu tentang hubungannya, belum lagi dengan sikap Arven akhir-akhir ini yang begitu penuh perhatian.
"Kamu hanya melakukan kontrak kerja sama untuk pacaran ini. Tapi sekarang aku juga bingung harus bagaimana, karena orang tua Arven sudah mengetahui semuanya..." Terlanjur bercerita, membuat Freya jadi menceritakan semuanya pada Sinta.
Sinta menghela nafas pelan, dia melihat jelas kesedihan yang dirasakan oleh Freya saat ini. Membuat dia langsung menepuk bahunya sebagai penyemangat.
"Apa kau mencintainya?"
Freya langsung terdiam mendengar ucapan Sinta barusan. Bohong! Jika dia bilang kalau dia tidak merasakan apapun saat bersama Arven selama ini.Karena nyatanya memang dia merasakan kenyamanan saat bersama dengan pria itu. Apalagi selama 2 bulan lebih ini, semua perhatian Arven dan sikapnya yang terkadang terlalu aneh, tapi malah membuat Freya berdebar senang. Hatinya memberikan reaksi yang jelas atas perasaannya ini.
Sinta menghela nafas pelan melihat keerdiaman Freya, dia meraih tangan Freya di atas meja. "Kalau memang kamu mencintainya, kamu hanya perlu cari tahu apa dia juga mempunyai perasaan yang sama padamu. Kalau memang kalian mempunyai perasaan yang sama, maka coba untuk perjuangan perasaan kalian itu. Meski mungkin restu orang tua yang akan menjadi penghalang terbesar"
Freya tidak lagi menjawab, dia hanya diam mendengar ucapan Sinta barsan. Menghembuskan nafas berat, lalu dia segera melanjutkan masaknya. Sebelum itu, terlebih dahulu membungkus luka di jarinya dengan plester.
Bersambung
__ADS_1