Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#35# Jangan Sampai Membenciku!


__ADS_3

Menjelang pagi, Mama dan Papa terbangun saat mendengar suara sedikit ribut di lantai bawah. Dan saat mereka turun ke lantai bawah rumah ini, dia melihat Hendrick yang sedang memapah Arven yang sepertinya sudah sangat mabuk.


"Ya ampun, apa yang terjadi?" tanya Mama dengan panik, jelas dia mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh Arven. "...Cepat bawa ke kamarnya saja, Hen"


Papa juga ikut membantu Hendrick memapah anaknya ini. Menatap wajah Arven yang terlihat begitu frustrasi, hingga dia mabuk parah seperti ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Arven bisa sampai seperti ini?" tanya Papa.


Hendrick membaringkan tubuh Arven di atas tempat tidur, Papa juga segera membuka sepatu anaknya itu.


"Saya juga tidak tahu, tadi saya mendapat telepon dari nomor ponselnya. Namun yang berbicara adalah waiters club malam yang mengatakan jika Tuan Muda mabuk parah dan meminta saya untuk menjemputnya" jelas Hendrick.


"Ya ampun, kenapa sebenarnya Arven ini. Tidak biasanya dia seperti ini, dia adalah anak yang selalu mementingkan kesehatannya. Kenapa sekarang malah mabuk-mabukan seperti ini" ucap Mama.


"Saya juga tidak mengerti"


Hendrick juga sangat terkejut saat melihat kondisi Arven yang seperti ini. Karena dirinya tahu jika Arven tidak akan sengaja minum dan datang ke tempat seperti itu, jika bukan di sebuah penjamua bisnis saja. Itu saja dirinya selalu minum dengan aturan agar tidak sampai benar-benar mabuk. Arven selalu menjaga kesehatannya dengan sebisa mungkin. Tapi, sekarang kenapa tiba-tiba dia jadi seperti ini.


Mama melepaskan kancing kemeja yang dipakai oleh anaknya. Mengambil lap basah yang diberikan pelayan dan mulai mengelap tubuh anaknya itu, lalu mengganti bajunya yang bau alkohol itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Nak?" ucap Mama  sambil mengelus kepala anaknya dengan lembut.


"Freya, tolong jangan tinggalkan aku"

__ADS_1


Semuanya langsung saling pandang ketika mendengar gumaman Arven yang cukup jelas terdengar di telinga. Dan seterusnya Arven terus bergumam tentang Freya.


Papa hanya diam, dia merasa jika apa yang sudah dia lakukan telah berhasil membuat Freya meninggalkan anaknya. Dan sekarang anaknya itu sedang mengalami frustrasi karena ditinggalkan oleh kekasihnya.


Sabar Arven, ini hanya sementara kok. Nanti kamu juga akan kembali pulih dan bisa menemukan cinta yang baru. Biasanya juga akan seperti itu.


Keegoisan dalam diri Papa memang terlalu besar, hingga dia belum sadar jika apa yang telah dia lakukan akan membuat anaknya itu hancur.


Sementara, ditempat yang berbeda Freya juga tidak bisa tidur malam ini. Hampir semalaman dia terus menangisi perbuatannya sendiri. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena nyatanya memang hal ini yang harus dia lakukan demi kebaikan semuanya.


Matanya sudah bengkak karena terus menangis. Wajahnya yang pucat, bahkan keadaan Freya ini terlihat sangat kacau dan memprihatinkan. Dia hanya bisa menangis dan menangis, atas apa yang dia lakukan dan keputusan yang telah dia ambil. Karena nyatanya, memang Freya tidak mempunyai pilihan lain. DIrinya tidak diberikan pilihan.


Fryea menatap sebuah foto di layar ponselnya, foto yang di ambil di beberapa waktu saat dirinya bersama dengan Arven. "Semoga kamu baik-baik saja dan tidak benar-benar membenciku"


"Maafkan aku Sayang, maaf karena sudah membuat kamu terluka dan kecewa padaku. Tapi, aku benar-benar tidak mempunyai pilihan lain"


Rasanya ingin menangis dan menjerit sekuat tenaga. Freya yang tidak pernah bisa membayangkan jika suatu saat nanti dirinya akan bertemu lagi dengan Arven dan pria itu akan menatapnya dengan begitu benci.


Aku tidak akan sanggup jika harus mendapatkan kebecian darimu. Lebih baik aku mendapatkan kemarahan darimu saja.


Namun, Arven membencinya itu jelas akan lebih memungkinkan setelah apa yang Freya perbuat padanya. Sungguh, dia tidak akan siap jika Arven akan membencinya. Tapi semuanya memang sudah menjadi konsekuensi ketika Freya mengambil keputusan ini.


#######

__ADS_1


Seharian ini Freya bahkan tidak keluar kamar. Dia hanya berdiam diri di dalam kamar dengan suasana hati yang kacau. Bahkan melewatkan waktu sarapan, dia hanya ingin menenangkan dirinya sendiri di dalam kamar ini.


Sampai Bibi yang sengaja pulang dulu karena mengkhawatirkan Freya, dan benar saja jika keponakannya itu masih belum keluar kamar sampai sekarang. Bibi segera masuk ke dalam kamar Freya dan melihat gadis itu yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan keadaan yang kacau.


Rambut kusut, wajah pucat dengan kelopak mata yang bengkak. Sungguh keadaan Freya saat ini begitu memprihatinkan.


"Frey, apa kamu belum makan?" tanya Bibi yang menghampirinya dan duduk di tempat tidur Freya.


Freya menoleh pada Bibi, dia tersenyum meski di balik senyuman itu terlihat jelas kepalsuan. "Aku tidak lapar Bi, sekarang hanya ingin tidur lagi saja"


Berpikir jika tidur akan lebih membuatnya tenang dan tidak terus memikirkan tentang Arven.


"Kalau memang kamu tidak kuat, kenapa kamu harus melakukan hal ini. Kamu mencintainya dan dia pun juga, tapi kenapa kamu tidak mencoba bertahan?" ucap Bibi, dia sudah mendengar semuanya dari Sinta semalam.


Freya hanya tersenyum, dia memeluk Bibi dengan lembut. Sudah cukup lama dia tidak merasakan pelukan seorang Ibu, mungkin meski sikap Bibi terkadang ketus padanya. Tapi Freya juga bisa merasakan kasih sayang Bibi yang tulus padanya. Hanya saja, mungkin Bibi masih sering teringat tentang suaminya yang meninggal dunia karena terlalu banyak beban yang dia tanggung setelah meninggalnya Ayah Freya.


"Saat ini aku hanya punya Bibi dan Sinta, kalian adalah keluarga yang aku punya saat ini. Aku tidak mau kalau sampai kalian celaka hanya karena keegoisan aku selama ini. Sudah jelas jika kemarin yang terjadi pada kalian memang disengaja, sebagai bentuk peringatan padaku karena sudah memaksakan diri untuk tetap bertahan bersama dengan Arven"


Bibi mengelus kepala Freya, dia tahu kalau Freya tidak akan pernah mengorbankan keluarganya sendiri. "Kamu memang berbeda sekali dengan ibu kamu, Frey. Kamu tidak rela mengorbankan keluarga kamu sendiri saat kamu juga sedang kesulitan"


Freya hanya diam saja, mungkin karena dia sudah melihat bagaimana Ibunya yang meninggalkannya disaat keadaan yang begitu sulit. Freya bisa merasakan bagaimana dikorbankan oleh Ibunya sendiri hanya demi keegoisannya sendiri.


"Sekarang yang Freya punya adalah Bibi dan Sinta, jadi aku tidak mungkin meninggalkan kalian hanya demi kesenangan aku sendiri. Dan jelas aku juga tidak akan bisa bahagia jika menjalani hubungan tanpa restu. Kedepannya akan selalu ada duri diantara kita" ucap Freya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2