
Saat pintu terbuka, Sinta langsung berlari masuk. Begitupun dengan Arven. Mereka terdiam saat melihat Freya yang terbaring di atas sofa dengan kakinya yang menjuntai ke atas lantai. Matanya terpejam.
Arven langsung menghampiri Freya, mengecek suhu tubuhnya. "Sayang, ini aku. Ayo bangun"
Dan tidak ada reaksi apapun dari Freya, membuat Arven panik. "Badannya demam, Freya tidak sadarkan diri. Kita bawa ke rumah sakit sekarang"
Arven langsung menggendong Freya dan membawanya keluar rumah, Sinta pun segera menyusul dengan membawakan tas dan ponsel milik Freya. Mereka pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Arven dengan Hendrick yang menyetir. Sejak tadi Hendrick hanya diam saja di dalam mobil. Membiarkan Tuannya menyelesaikan masalahnya, tapi sekarang malah seperti ini.
Arven yang duduk dibelakang sambil terus memangku Freya. "Sayang, ayo bangun. Jangan kayak gini"
Sinta hanya diam saja di kursi depan, dia melirik Arven dari kaca spion di atasnya. Jelas melihat kekhawatiran pria itu saat melihat Freya yang seperti ini. Bahkan terlihat beberapa kali Arven mengusap ujung matanya.
Apa dia sampai menangis? Apa setakut itu kehilangan Freya?
Entah kenapa perasaan Sinta mulai tersentuh dengan perlakuan Arven pada Freya saat ini. Pria itu yang terlihat begitu khawatir dan cemas dengan keadaan Freya.
"Kamu harus sembuh agar bisa bebas menghukum aku" bisiknya di telinga Freya. Lagi, Arven mengusap ujung matanya yang berair.
Setelah sampai di rumah sakit, Arven langsung keluar dari mobil dengan menggendong Freya. Membawanya ke ruangan pemeriksaan. Sementara Sinta mendaptarkan dulu Freya sebagai pasien di rumah sakit ini. Setelah itu dia menyusul Arven ke ruangan pemeriksaan.
"Kau harus percaya kalau Tuan Muda itu mencintainya dengan tulus"
Sinta berhenti melangkah saat melihat Hendrick yang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya. "Kau tahu apa, jelas Freya banyak menderita karena dia. Jangan hanya karena dia adalah Tuanmu, sampai kamu terus membelanya"
"Aku tidak membelanya, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Apa kau tidak bisa lihat bagaimana sikap Tuan Muda pada Freya? Dia juga hancur setelah mereka berpisah waktu dulu" ucap Hendrick.
Sinta menatap Hendrick dengan lekat. "Memangnya dia sehancur Freya? Sampai tidak bisa untuk jatuh cinta lagi, sementara dia bis tuh bersama dengan Katlyn dan bahkan bertunangan. Bukannya sekarang juga akan segera menikah"
__ADS_1
Hendrick menghela nafas pelan, ternyata tidak semudah dalam pikirannya saat berbicara dengan gadis keras kepala seperti Sinta. Meluluhkannya memang sulit.
"Kau memang gadis keras kepala, aku tidak kebayang pria yang akan menjadi suamimu nanti akan sebesar apa kesabarannya. Menghadapi gadis keras kepala seperti kau" ucap Hendrick yang melangkah pergi meninggalkan Sinta.
"Apa dia bilang, gadis keras kepala? Hey, bukan kepala namanya kalau tidak keras. Dasar pria kutub" teriak Sinta dengan kesal, lalu dia langsung tersadar kalau sedang berada di rumah sakit. Apalagi lorong rumah sakit ini juga cukup ramai dengan orang-orang dan perawat.
"Jangan teriak-teriak di rumah sakit, Nona"
"Eh, iya maaf ya saya keceplosan barusan"
Sinta langsung berjalan cepat sambil menepuk mulutnya yang terkadang tidak tahu tempat. "Sial, gara-gara si beruang kutub tuh. Aaa.. ngeselin banget si tuh orang"
Sinta jadi mneggerutu sendiri pada Hendrick yang barusan meledeknya sebagai gadis keras kepala.
********
Setelah diperiksa oleh Dokter, ternyata Freya hanya kelelahan dan asam lambungnya kambuh karena dia tidak teratur makan selama beberapa hari. Belum lagi dia yang baru saja melakukan operasi pendonoran ginjal membuat daya tahan tubuhnya sedikit lemah, jadi menyebabkan demam tinggi sampai tidak sadarkan diri.
"Sayang, ayo bangun" ucap Arven.
"Seharusnya kamu tidak perlu memberikan Freya harapan kalau memang pada akhirnya akan menikah juga dengan Katlyn" ketus Sinta, masih saja dia tidak suka pada Arven yang sudah beberapa kali membuat sepupunya menderita karena cinta.
Arven tidak menjawab, dia tidak bisa menjelaskan pada Sinta saja. Sebaiknya dia akan langsung menjelaskan pada Freya saat gadis itu sudah sadar.
"Sudahlah, sebaiknya kau keluar sekarang. Ikut aku!"
Hendrick langsung menarik Sinta untuk keluar dari ruangan itu. Dia tidak mau sampai membuat Arven akan kesulitan menjelaskan semuanya, karena adanya Sinta yang selalu saja mengacau.
__ADS_1
"Ish, kau ini mau apa si?" kesal Sinta yang menghempaskan tangan Hendrick yang memegang lengannya.
"Bisa kalau tidak terus memojokan Tuan Muda? Kau tidak tahu apa yang dia alami selama ini" tekan Hendrick.
Sinta langsung terdiam, dia tidak bisa berkata-kata saat Hendrick menatapnya dengan begitu tajam. Apalagi saat pria itu memojokannya di dinding rumah sakit, mengukung tubuhnya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada tembok dibelakang Sinta. Jarak mereka ini terlalu dekat sekarang.
Sial, kenapa dia menakutkan sekali kalau seperti ini.
"Kau tidak tahu apa yang dialami Tuan Muda, jadi kau tidak bisa menyalahkannya terus menerus. Jadi mulai sekarang diam saja, dan biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri" tekan Hendrick.
Sungguh, Sinta yang biasanya menjadi gadis pemberani dan selalu saja nyerocos. Sekarang berubah menjadi pendiam. Dia tidak mampu berkata-kata lagi ketika melihat tatapan mata Hendrick yang begitu tajam.
"I-iya, aku tidak akan ikut campur lagi urusan mereka berdua" ucap Sinta dengan tergagap.
"Bagus"
Sinta menghembuskan nafasnya ketika Hendrick pergi dari hadapannya. Langsung menarik nafas dalam-dalam, karena selama ada Hendrick di depannya tadi, membuat Sinta bahkan sulit bernafas.
"Ya Tuhan, kenapa dia bisa menyeramkan begitu. Dih, pantas saja jomblo seumur hidup. Kelakuannya kayak gitu, mana ada cewek yang mau sama dia" gerutu Sinta sambil memegang dadanya yang berdebar kencang karena ketakutan.
Hendrick yang berjalan baru beberapa meter dari Sinta, tentu mendengar gerutuan kesal dari gadis itu. Dia hanya tersenyum tipis saja.
Dasar gadis keras kepala.
Hendrick menggeleng pelan ketika dia sadar kalau dirinya tersenyum karena Sinta. Rasanya aneh ketika dia harus tersenyum karena memikirkan wanita. Sangat bukan kepribadiannya.
"Ada apa dengan aku ini, kenapa harus menganggap lucu sampai tersenyum hanya memikirkan gadis keras kepala itu?"
__ADS_1
Pertanyaan yang bahkan dirinya sendiri tidak bisa menjawabnya.
Bersambung