
Arven membawa Freya ke Apartemennya dulu untuk menenangkan dia. Apalagi saat Haura dan Sinta yang pastinya akan mengacuhkannya, membuat Arven tidak akan tega meninggalkan Freya disana. Namun, ketika sampai di Apartemennya sudah ada Katlyn disana. Membuat Freya langsung melepaskan tangannya yang saling bertaut dengan Arven sejak tadi. Tapi sepertinya Katlyn juga sudah melihatnya.
"Ada apa kesini lagi?" tanya Arven, sedikit dingin dan tidak biasa dalam nada bicaranya. Dia yang merasa terganggu karena baru saja akan berdua dengan Freya.
Katlyn tersenyum masam mendengar ucapan Arven yang terdengar dingin itu. "Tidak papa, aku hanya ingin melihat keadaan kamu saja. Lagian kenapa si Kak, aku 'kan sering datang kesini"
Arven langsung menggenggam tangan Freya disampingnya, tidak ingin sampai Freya salah faham lagi padanya. "Kat, kemarin kita sudah bicarakan semuanya. Dan kamu juga sudah mengerti tentang perasaanku selama ini. Tidak pernah ada yang ditutup-tutupi dari aku selama ini. Jadi kau juga sudah mengerti sekarang?"
Katlyn meremas roknya sendiri dengan perasaan yang begitu gugup. Sungguh dirinya yang tidak akan pernah lupa dengan kejadian dimana dia datang kesini waktu itu.
Saat itu, ketika Arven selesai mandi. Dia kembali menghampiri Katlyn yang sedang duduk di sofa ruang tengah Apartemennya ini. Sepertinya jika Arven sudah memutuskan untuk tidak lagi melepaskan Freya, maka dia juga harus bisa segera mengakhiri ceritanya dengan Katlyn. Arven tetap akan memilih Freya dan tidak bisa dia jika harus memilih keduanya.
"Kat, sepertinya kita harus akhiri semua sandiwara kita ini sampai disini" ucap Arven.
Ya, selama ini memang semuanya hanya sandiwara yang di atur oleh Arven agar orang tuanya tidak terus menjodohkannya dengan gadis-gadis lain. Namun bodohnya Katlyn yang berharap terlalu lebih dari sebuah sandiwara ini. Karena dia merasa jika dirinya bisa mendapatkan hati Arven dan menggantikan wanita cinta pertamanya itu. Namun ternyata tidak bisa.
Namun Katlyn harus menepati janji pada dirinya sendiri, jika dia tidak bisa mendapatkan hatinya maka memang Katlyn juga harus menyerah daripada sekarang harus semakin terluka.
"Baiklah Kak, aku mengerti. Semoga Kakak bisa menemukan kebahagiaan Kakak bersama cinta pertama Kakak itu" ucap Katlyn dengan mencoba berlapang dada.
*******
Katlyn tersenyum, dia bukan tidak mengingat percakapan saat itu. "Kak, aku datang kesini hanya ingin minta bantuan Kakak sekali saja lagi"
Arven sedikit mengerutkan keningnya. "Bantuan untuk apa?"
__ADS_1
Katlyn melirik ke arah Freya yang sejak tadi menunduk dan berusaha melepaskan genggaman tangan Arven, tapi pria itu yang tidak mau melepaskannya.
"Kakak tidak lupa 'kan kalau minggu depan ada acara yang mengundang kita berdua. Kita sudah tandatangan surat kontraknya. Kalau misalkan dibatalkan, akan kena denda yang besar dan karier aku hancur. Tolong ya Kak" ucap Katlyn dengan wajah memohon.
Arven menghembuskan nafas kasar, dia benar-benar baru ingat tentang itu. "Baiklah, hanya itu saja 'kan? Tidak ada undangan lain lagi?"
Katlyn menggeleng dengan wajahnya yang berbinar, setidaknya dia tidak akan kena denda yang sangat besar itu. "Iya Kak, makasih ya karena masih mau menemani aku menghadiri acara wawancara itu"
"Ya, karena aku juga harus profesional" ucap Arven.
Dan setelah mengatakan niatnya itu, Katlyn langsung berpamitan. Dia belum berani menyapa Freya, apalagi saat gadis itu yang selalu saja menunduk ketika berhadapan dengannya. Mungkin karena Freya tidak suka padanya atau apa, Katlyn tidak tahu alasannya.
Setelah Katlyn pergi, Arven segera membawa Freya masuk ke dalam Apartemennya. Dia terus menggenggam tangan Freya, seolah takut kalau Freya akan pergi meninggalkannya.
"Semuanya akan mengetahui siapa wanita yang aku cintai. Karena selama aku tinggal disini semua foto ini sudah terpajang. Jadi tidak ada yang aku sembunyikan, meski pada Katlyn sedikit pun. Karena aku tidak akan pernah bisa melupakanmu" ucap Arven.
Freya terdiam dengan tidak percaya apa yang diucapkan oleh Arven barusan. Tentunya tentang perasaan Arven selama ini yang masih sama untuknya.
"Kenapa kamu melakukan ini? Bukankah perpisahan kita sudah cukup membuat kamu terluka. Semua ucapanku sudah cukup membuatmu terluka" ucap Freya dengan suaranya yang bergetar.
Arven langsung memeluk Freya dari belakang, menyandarkan dagunya di puncak kepala Freya. "Sebenarnya aku juga sangat ingin membencimu, karena aku merasa di bohongi saat kau bilang kalau kau tidak pernah mencintaiku. Tapi kenyataannya hatiku tidak bisa membenci kamu meski aku berusaha mencoba"
Freya menunduk dengan air mata yang menetes begitu saja. Isak tangisnya mulai terdengar. Merasa jika apa yang dia lakukan sudah melukali mereka berdua. Dirinya dan Arven yang terluka karena ucapan Freya saat ini.
"Sayang, kenapa menangis? Apa pelukanku menyakiti bekas lukamu?" tanya Arven terkejut dengan suara tangisan Freya. Dia langsung melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Freya agar menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Sayang hey, apa yang sakit? Kenapa tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Arven lagi dengan khawatir.
Freya menggeleng pelan, dia langsung mengusap air matanya. Tanpa berkata-kata lagi, Freya langsung menghambur memeluk Arven.
"Maafkan aku karena sudah melukai perasaanmu" ucapnya di telinga Arven.
Arven mengelus punggung Freya, mengecup pipinya dengan lembut. "Kau tidak salah, tidak perlu meminta maaf. Sekarang aku mengerti kenapa hatiku tidak bisa membencimu, semuanya karena kau yang mengatakan semua itu hanya karena terpaksa dan penuh penekanan. Maafkan aku karena tidak tahu tentang apa yang dilakukan oleh Papa"
Freya menggeleng pelan, dia melerai pelukannya. Menatap Arven dengan lekat. "Semua yang dilakukan Papa kamu mungkin karena ingin yang terbaik untuk anaknya"
"Tidak ada yang terbaik, selain kamu untukku" tekan Arven.
Freya hanya tersenyum tipis, dia segera menyandarkan kepalanya di dada Arven. Mendengarkan detak jantung dari pria itu, sungguh Freya merindukan semua yang ada di diri pria ini.
"Sudahlah, sekarang sudah saatnya kita memulai semuanya lagi. Setelah kita kembali ke Indonesia, nanti kita akan segera menikah" tegas Arven, dia sudah lebih dari yakin dengan keputusannya ini.
Freya tidak menjawab, dia hanya diam saja dalam pelukan Arven. Karena memang dirinya yang tidak ingin membantah apapun, hanya akan menuruti alur takdir untuknya.
"Aku mencintaimu" ucapnya pelan.
Arven tersenyum mendengar itu, dia mencium kening Freya dengan lembut. "Aku lebih mencintimu"
Dan seolah keduanya sedang tidak ingin peduli pada keadaan sekitar yang mungkin banyak yang tidak setuju dengan hubungan ini lagi. Tapi mereka hanya ingin terus bersama seperti ini.
Bersambung
__ADS_1