
Freya beralih berjalan menghampiri Arven yang sedang berdiri menunggu dirinya itu. Dia tersenyum pada kekasihnya itu, meski senyuman kali ini benar-benar sangat terlihat dipaksakan.
Arven langsung merangkul bahu Freya dan mengecup kepalanya. Hal itu malah membuat Haura yang kegirangan sampai menjerit tanpa suara. Sementara Freya yang mendapatkan perlakuan seperti itu sekarang malah sedang tegang.
"Jangan cemberut begitu, percaya saja kalau kamu menuruti aku, maka semuanya akan baik-baik saja" ucap Arven.
Freya hanya diam saja, masih terlalu berat dengan pilihannya ini.Karena dia takut kalau nanti hubungan pacar kontrak ini sudah selesai, maka dia harus mencari pekerjaan yang lain. Karena tidak mungkin terus mengandalkan Arven.
*******
Waktu yang berlalu cukup cepat, hingga sudah satu bulan lebih hubungan mereka berlanjut. Dan selama itu juga Freya merasakan keanehan dengan sikap Arven. Tentu saja dia yang selalu memberikan perhatian lebih padanya, apalagi dengan segala tingkah manjanya. Seperti makan yang ingin disuapi, dan juga selalu ingin bentuk perpisahan dalam bentuk kecupan atau pelukan dari Freya.
Namun selama itu juga hati Freya mulai berdebar karena semua sikap Arven. Bagaimana pria itu yang memperlakukannya tidak seperti pacar kontrak. Bahkan Arven pernah marah karena Freya tidak sengaja mengobrol dengan pedagang pinggir jalan yang memang menjadi langganannnya untuk membeli makanannya itu.
"Kau lupa ucapanku ya! Aku tidak pernah suka melihat kau berinteraksi berlebihan dengan pria lain" tekan Arven.
Membuat Freya hanya menghela nafas panjang, karena memang kekasihnya itu mulai menunjukan keposesifan dia terhadap Freya. Padahal dia hanya ngobrol biasa saja dengan pedagang itu, tapi Arven tetap tidak suka. Dan hanya itu yang perlu Freya garis bawahi, Arven yang tidak pernah suka melihatnya berinteraksi dengan pria lain. Bahkan dengan Hendrick saja dia marah.
"Sayang mau makan apa? Aku masakin deh untuk kamu" ucap Freya yang akhir pekan ini memang selalu menghabiskan waktu di Apartemen kekasihnya.
Hanya untuk makan siang bersama hingga makan malam, nonton dan bercerita saja. Namun hal ini yang membuat Freya mulai tersentuh dan merasakan debaran hangat di hatinya.
"Apa saja, aku suka semua makanan" ucap Arven.
__ADS_1
Freya mengangguk, dia mengikat asal rambutnya. Lalu memakai apron dan mulai memasak bahan makanan yang sudah dia keluarkan dari dalam lemari es. Memotong beberapa sayuran dan juga mencucinya.
Arven yang sedang duduk di sofa ruang tengah, hanya tersenyum menatap kesibukan Freya di dapur. Terlihat bagaimana Freya yang sekarang sedang mengaduk masakan di dalam wajan.Tentu saja dia begitu lihai.
Mungkin memang dia wanita yang aku cari selama ini untuk mengisi ruang kosong di hatiku.
Arven yang sekarang sedang merasakan hatinya yang menghangat karena kehadiran Freya dalam hidupnya. Tentu saja, karena selama ini dia juga belum pernah merasakan hal ini.
Ting-tong..
Suara bel pintu yang membuat Arven langsung mengalihkan pandangannya yang tadi hanya menatap Freya yang sedang memasak di dapur Apartemennya ini. Arven berdiri dan langsung berjalan menuju pintu, segera dia membukakan pintu. Dan begitu terkejut saat tahu siapa yang datang.
"Ma, ada apa datang tiba-tiba kesini?" ucap Arven sedikit kaget.
Arven langsung menyusul Ibunya yang lebih dulu masuk ke dalam Apartemennya ini. Freya yang sedang menata makanan di atas meja, langsung kaget melihat Mama yang ada disana dan menatap penampilannya dengan kening berkerut.
Gawat ini, penampilan Freya saat makan malam dan sekarang, benar-benar jauh berbeda. Jadi pastinya Mama sangat heran melihat itu.
"Ma, kan kalau mau datang kesini bisa untuk bicara dulu padaku" ucap Arven yang menyusul Ibunya, lalu Arven baru sadar saat Mama yang menatap ke arah Freya dengan tatapan menyelidik.
"Kamu Freya 'kan? Pacarnya Arven, kenapa penampilan kamu seperti ini?"
Benar saja jika yang ditanyakan dan yang diperhatikan oleh Mama adalah peampilan Freya saat ini yang memang terlihat sangat beberda dari terakhir kali dia bertemu dengannya.
__ADS_1
"Ah itu Ma, karena sekarang Freya sedang masak. Jadi tidak mau kalau sampai bajunya malah bau asap masakan. Sayang, ganti baju dulu sana" ucap Arven.
Freya mengangguk, dia segera pergi ke kamar yang waktu itu pernah dia gunakan untuk mandi dan berganti pakaian. Dia tahu jika menjadi pacar kontrak dari pria seperti Arven yang terlahir dari keluarga kaya dan juga seorang Tuan Muda yang selalu menjadi kebanggaan keluarganya, membuat Freya tidak bisa hanya tampil biasa saja.
"Ayo duduk dulu, Ma. Kenapa malah berdiri disitu. Tunggu Freya selesai ganti baju, kita akan langsung makan ya. Dia pandai memasak dan Mama harus mencoba masakannya yang sangat enak itu" ucap Arven yang membawa Ibunya untuk duduk di sofa.
"Kamu tidak sedang membuat kebohongan pada Mama 'kan Arven?" tanya Mama dengan tatapan menyelidik.
Arven langsung menggeleng pelan, meski hatinya sedang ketar-ketir saat ini. Namun dia begitu pandai menyembunyikan kegelisahannya. Bahkan wajahnya terlihat begitu tenang saat mendengar ucapan Mama barusan.
"Tidaklah, memangnya kebohongan apa yang aku lakukan"
Mama hanya diam dengan menatap sekeliling Apartemen anaknya ini. Mencoba mencari bukti kalau anaknya itu tidak sedang membohonginya dalam kisah pacaran ini. Entah kenapa Mama merasa ada yang janggal dengan kisah pacaran Arven dan Freya ini.
Seorang Arven yang memang sebenarnya tidak pernah dekat dengan wanita manapun, karena dia yang menganggap jika seorang wanita itu hanya akan membuatnya pusing dan repot. Sudah beberapa kali Mama menjodohkan Arven dengan beberapa gadis cantik anak dari teman sosialitanya.
Namun, tidak ada satu kencan yang berhasil untuk Arven. Hingga saat ini dia datang dengan membawa seorang gadis. Bagaimana Mama tidak sedikit curiga sekarang. Apalagi dengan penampilan Freya barusan, cukup membuat kecurigaannya semakin besar.
"Kenapa sama sekali tidak ada foto kalian berdua disini? Bukannya kalian pacaran sudah satu bulan lebih ya, seharusnya sudah banyak foto bersama yang bisa kalian pajang disini" ucap Mama saat melihat ruang tengah Apartemen ini sangat polos dan tidak ada foto apapun terpajang disana, termasuk dengan foto Arven dan Freya sebagai sepasang kekasih.
"Ah itu ya Ma, kita hanya foto di ponsel dan belum sempat untuk cetak foto yang bagus untuk di pajang. Rencananya akhir pekan besok kita akan pergi untuk berfoto untuk sengaja menjadi sebuah pajangan dan kenangan nantinya kalau kita sudah menikah" ucap Arven, selalu bisa saja dia mencari alasan yang tepat hingga Ibunya ini percaya padanya.
Bersambung
__ADS_1