
Freya tetap harus bersikap profesional dalam pekerjaannya ini. Karena mau bagaimana pun, dirinya tidak akan pernah bisa menolak takdir yang sudah dituliskan oleh Tuan untuk kehidupannya.
Sementara di dalam ruangan VVIP itu, Arven terlihat tidak terlalu fokus pada apa yang dijelaskan oleh rekan bisnisnya itu. Beruntung Hendrick yang terus mencatat poin-poin penting dalam kerjasama ini. Sekarang bahkan dirinya juga tidak mengerti kenapa harus seperti ini.
Arven yang terluka karena dirinya yang tidak pernah jatuh cinta dan mencintai seorang wanita sampai seperti ini. Namun sekarang, bahkan dia harus dihempaskan begitu menyakitkan dengan kenyataan. Jika wanita yang dia cintai itu, memang tidak pernah sedikit pun menaruh perasaan cinta padanya.
Arven menghela nafas pelan, setelah meeting selesai dan kerjasama juga sudah ditandatangani dengan keuntungan untuk kedua pihak perusahaan dengan adil dan setimpal. Maka, sekarang hanya tinggal Arven yang berada di ruangan itu. Hendrick pergi keluar untuk mengantar rekan kerja mereka. Karena suasana hati Arven yang tidak baik, maka tidak mungkin mau mengantarkan rekan kerja mereka.
Arven yang sedang menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit dengan perasaan yang kacau dan campur aduk. Bahkan sekarang saja dia tidak mengerti harus bagaimana dengan perasaannya yang masih saja terjebak dengan cinta masa lalu setelah satu bulan berlalu.
Suara ketukan pintu membuat Arven langsung membuka kedua matanya. Dia menghela nafas pelan. "Untuk apa si Hendrick itu masuk dengan mengetuk pintu segala"
Meski menggerutu pelan, tapi Arven tetap berteriak untuk mengizinkan orang yang mengetuk pintu itu masuk ke dalam ruangan ini.
Bahkan ketika masuk ke ruangan ini, Freya sudah panik dan berdebar sendri. Sekarang bahkan dia tidak mengerti kenapa harus dia yang kembali masuk ke dalam ruangan ini untuk membereskan bekas makan di ruangan ini. Namun dia juga tidak akan bisa menolak, karena ini adalah pekerjaannya, dan Freya hanya mencoba untuk profesional saja.
"Permisi, aku mau membereskan bekas makanannya" ucap Freya dengan kepala menunduk.
Arven juga tidak menyangka kalau Freya akan kembali masuk ke dalam ruangan ini setelah dia menatap Freya yang ternyata masuk ke dalam ruangan ini. Arven berdiri dan mendekat ke arah Freya yang sedang menunduk untuk membereskan bekas makan di atas meja makan itu.
Arven mendekatkan bibirnya di telinga Freya, lalu berbisik. "Aku tidak mau kau menunjukan wajahmu lagi di depanku. Karena melihatmu hanya membuat aku muak"
__ADS_1
Deg,, seketika tubuh Freya mematung mendengar ucapan Arven barusan. Sendok yang berada ditangannya jatuh begitu saja. Sungguh, Freya tidak bisa mendengar ucapan Arven yang begitu menusuk ke relung hatinya.
"Ba-baik. Aku akan menghilang dari kehidupanmu" ucap Freya dengan suara yang bergetar. Dia mengusap kasar air matanya yang menetes begitu saja di pipinya. Masih dengan kepala menunduk, tidak bisa untuk menatap Arven saat ini.
"Terima kasih karena sudah memberikan aku rasa cinta yang begitu besar dan dalam. Hingga aku juga mengerti bagaimana mencintai yang akhirnya hanya akan membuat aku terluka"
Lagi, tubuh Freya membeku dibuatnya dengan ucapan Arven barusan. Sungguh pria itu sedang menunjukan rasa sakitnya atas apa yang Freya lakukan padanya. Arven yang bahkan tidak pernah merasakan jatuh cinta, dan untuk pertama kalinya jatuh cinta pada Freya.Tapi cinta pertamanya ini malah membuatnya hancur sekarang.
"Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan pdamu. Tapi nanti kamu akan tahu dan bisa memaklumi semua ini. Jika apa yang aku lakukan hanya untuk kebaikan kita semua" ucap Freya.
Arven hanya tersenyum sinis, dia tidak mengerti kenapa sekarang gadis itu seolah menyatakan kalau memang dirinya sedang mengambil keputusan yang benar. Padahal nyatanya semua keputusan yang dia ambil, hanya sebuah luka yang diciptakan olehnya.
"Tidak ada kebaikan yang menyakiti hati siapapun!" tekan Arven yang langsung berlalu begitu saja dari ruangan itu.
"Maafkan aku karena sudah melukai hatimu. Maaf... Hiks"
Rasanya dadanya begitu sesak ketika tadi dia mendengar ucapan Arven. Pria itu memang terlihat sangat terluka dengan apa yang Freya lakukan. Bahkan sekarang dirinya terlihat kalau memang apa yang Freya lakukan telah membuat hatinya hancur.
Akhirnya aku melihat tatapan penuh kebencian dari pria yang aku cintai. Sakit sekali, Ya Tuhan.
Rasanya Freya ingin menangis sejadi-jadinya. Karena memang dirinya juga tidak mengerti bagaimana caranya untuk mengembalikan hatinya yang sudah terlanjur sakit karenanya.
__ADS_1
"Maafkan aku, karena sudah membuat hatimu begitu terluka"
Arven yang berjalan keluar Restaurant dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan Restaurant dengan Hendrick yang berdiri disamping pintu mobil yang terbuka.
"Cepat jalan!"
Hendrick mengangguk, dia memasang sabuk pengaman di tubuhnya dan segera melajukan mobilnya. Meninggalkan kawasan Restaurant.
Arven hanya menghembuskan nafas kasar, sikunya bertumu pada jendela mobil dengan tangannya yang berada di dagunya. Seolah sedang memikirkan tentang cara untuk menenangkan hatinya saat ini. Bertemu kembali dengan Freya, benar-benar membuat dirinya semakin terluka.
Melihat tatapan matanya yang lemah, membuat hatinya sangat terluka. Namun, dia tidak bisa terlihat lemah di depan wanita yang sudah menghancurkan hidupnya dan perasaannya.
"Hen, apa kita terima saja untuk kontrak kerja sama di luar negara itu? Aku ingin menenangkan diri dan pergi jauh dari kota ini yang hanya meninggalkan banyak kenangan tentang dia" ucap Arven.
Kontrak kerjasama itu sudah ada sejak beberapa bulan lalu, namun masih belum Arven ambil karena saat itu dia masih berhubungan dengan Freya dan tidak mau menjalin hubungan jarak jauh dengannya. Tapi sekarang dia sedikit berubah pikiran, karena terus berada disini akan semakin banyak kemungkinan lain dirinya akan bertemu dengan Freya dengan sengaja atau tidak. Jadi sepertinya memang Arven harus pergi dari kota dan negara ini dulu.
"Nanti akan saya atur semuanya, Tuan" jawab Hendrick, tidak perlu lagi meyakinkan Arven tentang keputusannya ini. Karena Hendrick bisa tahu kalau saat ini Arven memang sudah yakin untuk mengambil keputusan ini.
Arven menatap keluar jendela, menatap setiap ruko yang belarian seiring kecepatan mobil melaju. Sungguh dia tidak akan pernah bisa terus berada di kota ini dan akan banyak kemungkinan bertemu lagi dengan Freya. Karena terus bertemu dengan gadisnya itu, akan semakin membuatnya terluka dan sakit.
Freya, nyatanya aku masih mencintaimu. Melihat wajahmu lagi, membuat aku malah semakin terluka, mengingat kamu sudah bukan lagi milikku.
__ADS_1
Rasanya Arven ingin berteriak kencang dan memaki dunia ini yang memberikan kenyataan yang terlalu menyakitkan untuk dirinya. Pertama kali jatuh cinta, tapi sekarang harus terluka karena cinta itu sendiri. Ucapan Freya saat itu masih terngiang dalam ingatan Arven, jika dirinya memang tidak pernah mencintai Arven. Ucapan yang paling menyakitkan bagi Arven.
Bersambung