Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#22# Terbongkar


__ADS_3

Suasana yang ramai dengan lampu-lampu yang terang dan orang-orang yang hilir mudik. Banyak juga yang baru datang.


"Memangnya kenapa? Apa kau sudah tidak betah berada disini?" tanya Arven.


Freya langsung menoleh, menatap Arven yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya. Membuat tatapan mereka bertemu, hingga membuat Freya terdiam beberapa saat dengan debaran di hatinya. Segera dia memalingkan wajahnya, menyudahi saling tatap itu.


"Bukan begitu, tapi aku tidak biasa datang ke pesta seperti ini. Jadi aku tidak terlalu nyaman berada di tempat ramai seperti pesta ini"


Tahulah kalau selama ini Freya lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian dan hanya dengan bekerja dan kuliah saja. Selebihnya memang tidak ada kegiatan apapun lagi dalam hidup Freya. Kalaupun ada teman kampusnya yang pesta, Freya sering tidak diundang. Meskipun diundang,  Freya tetap tidak akan datang. Kecuali kalau Haura yang mengadakan pesta itu. Karena tidak mungkin Freya tidak datang di acara sahabatnya itu.


Arven mengelus pipi Freya, menyalipkan rambutnya ke belakang telinga. "Mulai sekarang harus terbiasa dengan suasana seperti ini. Karena sejak kau menjadi pendampingku, maka kau harus terbiasa dengan acara seperti ini"


Lagi, tubuh Freya mematung mendengar ucapan Arven. Saat ini mereka hanya berdua saja, tapi kenapa sekarang dia malah bilang kalau dia sudah menjadi pendampingnya, maka harus terbiasa dengan hal seperti ini. Tidak mungkin kalau Arven lupa jika pacaran ini hanya sebatas kontrak kerja sama saja.


"Wah, kalian ada disini rupanya. Mama cari disana tadi pantas tidak ada" ucap Mama yang baru saja datang dan langsung ikut bergabung dengan Arven dan juga Freya disana.


Oh mungkin karena Arven sudah melihat atau sudah tahu kalau ada orang tuanya yang menuju kesini. Gumam Freya dalam hati, dia segera berdiri dan menyalami Mama dan juga Papa.


"Mama, Papa baru sampe?" tanya Arven.


"Iya, kami memang baru sampe" jawab Mama.


Freya hanya tersenyum saja, sungguh dirinya semakin gugup saja saat melihat kedua orang tua Arven ini. Apalagi saat melihat Papa yang memang sering terlihat sangat dingin. Mungkin memang sikap dingin Arven ini menurun dari Ayahnya. Tapi justru sekarang ini, entah kenapa Freya tidak lagi merasakan sikap dingin Arven itu lagi. Pria itu selalu saja bersikap baik dan hangat padanya.

__ADS_1


"Aku permisi ke toilet sebentar ya" ucap Freya.


Arven langsung menatap ke arah kekasihnya itu. "Mau aku antar saja?"


"Ya ampun Arven, kamu ini jangan terlalu posesif deh. Masa ke kamar mandi saja harus diantar, biarkan Freya sendiri saja. Wanita juga butuh waktunya sendiri" ucap Mama sambil terkekeh lucu melihat anaknya yang sedang di mabuk cinta.


Freya tersenyum masam medengar ucapan Mama barusan. "Iya Sayang, kamu tunggu saja disini. Aku hanya sebentar kok"


Akhirnya Arven membiarkan Freya pergi sendiri. Meski sebenarnya dia khawatir kalau ada yang berniat jahil pada Freya. Apalagi disini banyak sekali para anak dari rekan bisnis Ayahnya yang pernah di jodohkan dengan Arven, namun dia selalu menolaknya.


Freya selesai dengan urusannya di dalam toilet. Saat dia keluar, langsung terdiam ketika melihat teman Kampusnya disana. Dia adalah Renjani yang menjadi idola kampus. Hampir semua pria mengejarnya dan ingin mendapatkannya. Selain cantik, dia juga anak dari pengusaha kaya.


"Wah, jadi ini yang jadi calon istrinya Arven Widianto? Seorang anak pengusaha kontraktor terkenal dan Arven yang selalu jadi arsitek terbaik dalam setiap pekerjaannya. Gak nyangka banget kalau calon istrinya itu adalah seorang perempuan yang bahkan keberadaannya di Kampus saja seolah tidak terlihat" ucap Renjani.


Freya benar-benar sangat terkejut dengan kehadiran Renjani disana. Freya tidak ingin menanggapinya, tapi dia langsung saja berjalan ke arah pintu keluar. Tapi Renjani langsung menahannya, dia mencekal tangan Freya.


Deg...


Freya tidak bisa lagi menghindar saat Renjani menariknya menuju kerumunan orang di pesta itu. Freya bingung sendiri sekarang harus melakukan apa. Dia ingin pergi darisana, tapi Renjani memegang tangannya dengan kuat. Membuat Freya tidak bisa lepas.


"Semuanya, aku hanya ingin memberi pengumuman sekarang ini. Apa di izinkan?"


Arven langsung menoleh ke arah sumber suara, dia menatap Freya yang berada disana dengan Renjani. Tentu Arven ingat jika wanita itu adalah salah satu yang pernah akan di jodohkan pada Arven.

__ADS_1


Apa yang akan dia lakukan?!


Arven sudah akan berdiri, namun tangannya langsung di pegang erat oleh Papa. "Diam, memangnya apa yang ingin dibicarakan oleh Renjani. Papa sebenarnya sudah curiga sejak awal pada hubungan kalian"


Arven langsung diam dan tidak berkutik lagi. Sepertinya memang Papa sudah merasa curiga pada hubungan ini. Arven hanya diam saat melihat Freya yang sudah tegang, dan orang-orang yang berada disana langsung menatap ke arah Freya dan Renjani.


"Yang barusan kalian tahu kalau dia adalah kekasih dari Arven Widianto. Sebenarnya dia hanya seorang mahasiswa belum lulus yang bayaran saja beberapa kali nunggak. Ya, mungkin karena dia yang sudah tidak punya orang tua. Ayahnya meninggal dan Ibunya pergi bersama pria lain. Jadi jangan sampai tertipu dengan wajah polosnya ini. Dia hanya seorang pembohong besar" ucap Renjani dengan suara yang begitu keras.


Semua orang terlihat terkejut, lalu dia menatap meledek pada Freya yang menundukan kepalanya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Kedua tangannya saling bertaut dengan gemetar. 


"Arven Widianto, Mama benar-benar tidak menyangka kamu akan melakukan hal seperti ini. Mama kecewa padamu" ucap Mama yang ikut merasa malu dengan tatapan orang-orang itu.


Papa ikut berdiri dan langsung menatap Arven dengan penuh kemarahan. "Ikut Papa pulang ke rumah, sekarang!"


Arven menghela nafas pelan, tentunya dia tidak akan bisa membantah lagi kali ini. Arven melirik Freya, dia tidak akan tega meninggalkan wanitanya begitu saja. Membuat dia langsung menghubungi Hendrick dan memintanya untuk mengatarkan Freya. 


"Wah, ternyata keluarga Widianto sedang melakukan peran punya calon menantu, tapi ternyata calon menantunya ini pembohong"


Freya semakin menunduk dalam, perlahan tangisannya mulai tidak bisa lagi tertahan. Sampai seseorang memegang bahunya, membuat Freya langsung mendongak dan menatap Hendrick yang ada disana.


"Ayo ikut saya Nona" ucap Hendrick yang langsung menarik tangan Freya keluar dari kerumunan banyak orang.


Saat Hendrick melewati Renjani yang masih berdiri disana. Dia menghentikan langkahnya sebentar dan menatapnya dengan tajam. "Jangan sampai membuat saya dan Tuan Muda benar-benar marah Nona Renjani. Karena kami tahu kedok Ayah anda dan perusahaannya yang sedang berjalan"

__ADS_1


Renjani langsung terdiam mendengar ucapan Hendrick yang begitu tajam. Jujur Renjani langsung menciut dengan ucapan Hendrick barusan.


Bersambung


__ADS_2