
"Sayang, jangan sampai melakukan hal ini kalau ada orang lain. Aku takut akan ada yang menganggap kisah pacaran kita ini memang tidak baik" ucap Freya.
Arven hanya mengangguk sambil terus mengelus kepala Freya. "Kenapa kau tidak kuliah hari ini?"
"Aku izin, masih ingin istirahat dulu atas kejadian semalam. Oh ya, apa aku kembali bekerja lagi saja?" ucap Freya sambil menoleh dan menatap Arven dengan lekat.
Tatapan mata Arven berubah tajam saat mendengar ucapan Freya barusan. "Memangnya aku kurang memberikan kamu uang untuk biaya kehidupan kamu? Kenapa sampai kau berpikir untuk bekerja lagi?"
Freya menghela nafas pelan, dia mengelus dada Arven dengan lembut. Tentunya dia ingin menenangkan prianya yang memang sedang kesal. "Bukan begitu Sayang, aku hanya ingin mencari kegiatan lain saja setelah kuliah"
Lagian aku tidak mau kalau sampai di anggap wanita matre yang hanya menginginkan uangmu saja. Aku tahu kalau orang tuamu sekarang sudah tidak suka lagi padaku. Jadi, aku hanya tidak ingin kalau sampai mereka semakin memandang ku rendah karena menggunakan uang anaknya.
"Kau tetap seperti ini, kalau memang bosan sehabis kuliah. Kau bisa pergi jalan bersama temanmu, atau kau temui aku di Kantor" ucap Arven tanpa berpikir panjang.
"Haha.. Tidak perlu Sayang, aku tidak papa kalau tidak bekerja lagi. Yang penting aku bisa memenuhi keinginan kamu, kalau nanti sewaktu-waktu kamu tiba-tiba ingin bertemu denganku" ucap Freya.
Tentu saja dirinya tidak mungkin melakukan apa yang Arven katakan barusan. Pergi jalan bersama teman? Mungkin hanya Haura dan Sinta yang bisa dia ajak jalan. Karena selama ini dirinya juga tidak pernah mempunyai teman lain selaian mereka berdua. Tahulah, kalau Freya ini hanya seorang mahasiswa transparan yang tidak terlalu dianggap kehadirannya diantara mahasiswa lainnya.
*********
Setelah cukup lama berada di rumah Bibi Freya itu, Arven segera pulang setelah dia merasa lebih tenang karena sudah bertemu dengan Freya secara langsung dan sudah mengungkapkan apa yang dia rasakan sekarang. Perasaan cinta yang sudah terungkap dari dirinya sendiri.
Arven kembali ke rumah, sebenarnya dia malas kembali ke rumah ini. Inginnya dia pulang saja ke Apartemen. Namun, Arven juga tidak bisa terus menghindar. Apalagi saat Ibunya yang terus menelepon dan memintanya untuk pulang ke rumah. Arven juga tidak bisa menolak keinginan dari Ibunya itu.
__ADS_1
"Arven, sudah pulang. Sini Nak" ucap Mama yang melihat anaknya sudah kembali.
Arven menatap ke arah Ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tengah rumah ini. Arven segera menghampirinya, duduk di samping Ibunya dengan menyandarkan kepala dan tubuhnya di sandaran sofa disana.
"Kamu habis darimana?" Tanya Mama dengan lembut.
"Bertemu dengan Freya" Menjawab tanpa menoleh dan dengan matanya yang terpejam. Tentu saja dirinya yang sekarang sedang menenangkan dirinya sendiri dan juga pikirannya yang kacau.
"Apa kamu mencintainya, Arven?" Tanya Mama, dia merasa jika anaknya ini begitu sulit saat harus melepaskan Freya yang pernah menjadi pacar kontraknya itu.
Arven menghela nafas pelan, lalu dia menoleh dan menatap pada Ibunya. "Ya, aku mencintainya Ma"
Mama hanya diam saja mendengar ucapan Arven barusan. Karena memang dirinya belum bisa menyikapi semua ini dengan pikiran yang tenang. Jadi Mama memilih diam saja.
Freya tidak bisa fokus saat dia kuliah, terlalu banyak pikiran yang membuatnya tidak bisa fokus pada satu hal. Apalagi tentang pelajarannya. Padahal nyatanya dia juga tidak mengerti apa yang harus dia lakukan saat ini, karena jelas sekali jika hubungannya dan Arven tidak akan baik-baik saja sampai saat ini.
Freya duduk di bangku taman yang ada di Kampus, menghela nafas berat beberapa kali. Bingung sekarang harus melakukan apa, sementara dirinya saja juga tidak mengerti harus melakukan apa. Hubungannya dan Arven memang sudah baik-baik saja, sudah saling mengungkapkan cinta. Namun restu orang tuanya yang tidak akan bisa dianggap mudah.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Pastinya kedua orang tua Arven sangat benci sama aku, karena menganggap jika aku ini adalah seorang pembohong"
Freya yang hanya seorang mahasiswi yang tidak terlalu dianggap keberadaannya, hingga dia lebih sering sendirian jika berada di Kampus. Karena jadwal kuliahnya dan Haura juga terkadang berbeda, membuatnya semakin tidak mempunyai teman saja.
Sebuah mobil yang baru saja terparkir di pekarangan Kampus ternama itu, membuat semua orang yang ada di kawasan Kampus selalu histeris, apalagi untuk kalangan para wanita. Namun untuk Freya yang keberadaannya tidak pernah dianggap, tidak pernah memperdulikan dengan apa yang terjadi disekitarnya.
__ADS_1
Dia hanya duduk diam dan tidak peduli dengan apa yang orang-orang hebohkan. Masalahnya sendiri belum selesai dan membuat Freya harus banyak berpikir tentang masalahnya itu. Tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting dalam hidupnya ini.
Seorang pria tampan yang turun dari dalam mobil mewah itu, langsung membuat para wanita yang melihatnya histeris tanpa jeda. Namun sama sekali tidak menarik sama sekali bagi Freya yang beban hidupnya sudah cukup banyak.
Mata tajam Arven yang terus berkeliling mencari gadisnya. Dia melihat beberapa kumpulan wanita disana, namun tidak menemukan Freya diantara mereka. Sampai dia berjalan ke arah taman dan melihat gadisnya yang sedang duduk sendirian di bawah sebuah pohon di ujung taman.
Arven tersenyum dan segera berjalan ke arahnya. Semua wanita yang di lewati Arven begitu banyak yang tersenyum menggoda dan tidak segan untuk menyapanya. Namun sikap dingin Arven yang sudah mereka semua ketahui, membuat mereka semua biasa saja dengan wajah dingin Arven itu.
Namun, semua orang begitu terkejut saat Arven malah menghampiri gadis transparan yang keberadaannya tidak pernah mereka anggap ada di Kampus ini. Gadis miskin yang tidak jelas asal usulnya menurut mereka semua. Tapi sekarang seorang Tuan Muda yang menghampirinya. Tentu saja membuat seisi Kampus langsung heboh.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang"
Arven mendengar jelas ucapan Freya yang terdengar begitu putus asa. Segera dia memeluk Freya dari belakang dan mengecup puncak kepalanya.
"Siapa kau!" hampir saja Freya mendorong Arven dengan keras karena kaget dengan apa yang Arven lakukan barusan.
"Ini aku"
Freya menghela nafas lega saat dia mendengar suara Arven. Namun, beberapa saat kemudian, dia tersadar ada dimana sekarang dan posisi Arven yang tiba-tiba memeluknya seperti ini, pastinya akan membuat heboh seisi Kampus. Segera Freya melepaskan lingkaran tangan Arven di dadanya dengan sedikit kasar.
Berbalik badan dan melihat cukup banyak orang yang melihat ke arah mereka. Freya langsung terbelalak dengan bingung sekarang. "Kamu ngapain datang kesini dan melakukan hal ini? Aduh, kamu sadar gak kalau kita sedang ada di Kampus. Jadi pasti akan banyak orang yang melihat. Aduh, bagaimana ini?"
Bersambung
__ADS_1