Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#67# Kedatangan Mama Dan Ibu?


__ADS_3

Pernikahan yang berjalan dengan lancar, pasangan pengantin yang juga terlihat sangat bahagia dengan pernikahan mereka ini. Freya saja tidak lepas untuk tersenyum saat tamu undangan datang dan mengucapkan selamat dan mendo'akan pernikahan mereka ini. Meski hatinya sedikit sedih karena orang tuanya sama sekali tidak ada.


Ayah, Paman, aku sudah menikah sekarang dengan pria yang aku cintai. Doa'akan aku akan bahagia selamanya.


Meski sebenarnya Freya sangat berharap Ibunya akan datang hanya untuk sekedar mengucapkan selamat padanya. Tapi ternyata harapannya hanya akan sia-sia saja.


"Ada apa?" bisik Arven saat melihat raut wajah sedih istrinya itu.


Freya langsung tersenyum pada suaminya, seketika merubah ekspresi sedih itu. Dia menggeleng pelan. "Tidak papa, aku hanya terlalu bahagia saat ini sampai tidak tahu harus berkata seperti apa"


Dan ketika Arven ingin mencium pipi istrinya itu, seseorang datang menghampiri mereka. Membuat Freya yang pertama kali lihat, langsung mendorong tubuh Arven agar tidak jadi menciumnya.


"Nyonya" ucap Freya yang langsung berdiri dan menganggukan kepalanya dengan hormat.


Arven cukup kaget saat melihat Ibunya yang datang. "Mama, akhirnya Mama datang juga"


Mama tersenyum, dia langsung memeluk Arven. Dia sangat bahagia ketika melihat senyuman penuh kebahagiaan yang terlihat di wajah anaknya. Mungkin dengan bersama Freya adalah puncak kebahagiaan Arven yang selama ini hidupnya hanya tentang sebuah pekerjaan.


"Nak, kalau perlu bantuan apa-apa kamu bicara saja sama Mama. Apalagi sekarang kamu sedang bermasalah dengan Papa dan tidak bisa masuk ke Perusahaan. Kalau memang kamu butuh uang atau apapun, bicara sama Mama"


Arven tersenyum mendengarnya, dia tahu jika Ibunya pasti sangat mengkhawatirkan dirinya yang sekarang sudah menikah, namun malah tidak mempunyai pekerjaan yang jelas.


"Tenang saja Ma, aku juga tidak akan diam saja. Nanti aku akan berusaha mencari pekerjaan yang lain" ucap Arven, lagian tabungannya juga masih cukup untuk biaya hidup selama 5 tahun. Belum lagi Arven memiliki Apartemen dan mobil mewah yang jika dijual pasti harganya tidak akan murah.


Freya hanya tersenyum saja melihat interaksi keduanya. Bersyukur karena setidaknya dia bisa melihat Mama datang dan suaminya begitu bahagia dengan kehadiran Ibunya di pernikahan ini.

__ADS_1


"Freya..." Mama beralih pada menantunya, lalu dia menggenggam tangan Freya dengan lembut. "....Mama titip Arven ya, apapun yang terjadi kamu jangan sampai meninggalkan Arven. Apalagi kamu tahu kalau sekarang dia belum mempunyai pekerjaan yang tetap. Kamu jangan meninggalkan Arven karena itu"


Freya menggeleng pelan, dia tersenyum pada Ibu mertuanya ini. "Aku tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi. Nyonya, tenang saja"


"Kenapa masih memanggil Nyonya? Panggil Mama seperti Arven, bukankah sekarang kamu sudah menjadi istrnya" ucap Mama.


Freya menatap Arven dengan tersenyum, hampir tidak percaya kalau Mama akan menerima dirinya sebagai istrinya Arven. Padahal dulu juga Mama sama tidak suka pada Freya sejak kebohongan dirinya terbongkar. Arven yang menjadikan pacar kontrak dirinya.


"I-iya Ma" ucap Freya sedikit gugup.


Mama tersenyum, dia langsung memeluk menantunya. Mama bisa melihat Arven yang begitu bahagia saat bersama dengan Freya. Bahkan Mama tidak pernah melihat Arven akan sebahagia ini.


"Mama menerima kamu sebagai menantu Mama Freya. Semoga kamu bisa bahagia selamanya bersama dengan Arven"


Dan Freya hanya mengangguk saja. Mama pun segera berpamitan pulang, karena dia datang kesini beralasan untuk pergi ke supermarket sebentar pada Papa. Jadi tentunya Mama tidak boleh sampai ketahuan jika datang ke acara ini. Dia masih berusaha untuk membuat suaminya bisa menerima Freya.


Arven mengangguk, memang Ibunya ini selalu mengerti Arven. Meski dia juga sempat tidak setuju atas hubungan  dirinya dan Freya. Tapi sekarang ini Mama terlihat lebih lapang menerima pernikahan mereka.


Hari yang sudah hampir sore, tapi masih cukup banyak tamu undangan yang baru datang. Freya yang tersenyum saat seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka, namun senyumannya langsung pudar saat dia melihat siapa yang berada di belakang pria itu.


Ibu?


"Tuan Arven, akhirnya anda melepaskan masa lajang anda ya. Selamat untuk pernikahan kalian, semoga selalu bahagia" ucap Tuan Heri.


"Iya Tuan, terima kasih sudah menyempatkan untuk datang"

__ADS_1


Arven melirik istrinya yang sejak tadi hanya diam saja. Dia menyenggol pelan tangan Freya membuat gadis itu langsung mengerjap kaget. Freya masih merasa salah melihat, namun jelas dia tidak salah lagi jika yang berada di depannya saat ini adalah Ibunya. Meski penampilannya terlihat sangat berbeda.


"Ib..."


"Ah, selamat ya Tuan Arven dan siapa ya istrinya ini? Saya lupa namanya? Maklum sudah tua" ucap Nyonya Susan.


Sungguh Freya mematung mendengar itu, apalagi saat Ibunya seolah tidak mendengarnya. Freya sama sekali tidak tahu harus melakukan apa, namun dirinya sama sekali tidak mengerti kenapa Ibunya sampai tidak mengenalinya.


"Freya Nyonya" ucap Arven yang langsung merangkul bahu Freya.


Apalagi dia melihat ada Cintya disana, anak dari Tuan Heri dan Nyonya Susan yang pernah akan dijodohkan padanya. Jadi Arven harus menunjukan jika dirinya itu sudah ada yang punya.


"Ah, i-iya Freya. Manis sekali, semoga bahagia ya kalian berdua" ucap Nyonya Susan.


Cintya langsung melengos kesal, sebenarnya dia masih mengharapkan Arven. Tidak menyangka jika setelah mendengar kabar Arven yang memutuskan Katlyn, malah dia sekarang yang mendapat undangan pernikahan Arven dari wanita sederhana yang bahkan Cintya sendiri tidak tahu dia anak dari pengusaha mana.


"Iya Nyonya, terima kasih sudah menyempatkan datang"


Setelah mereka turun dari atas pelaminan, Freya langsung jatuh terduduk dengan air mata yang menetes begitu saja. Namun segera dia hapus dengan kasar. Tidak mau sampai menghancurkan acara pernikahannya sendiri hanya karena hal ini, apalagi suaminya juga tidak tahu apa-apa.


"Sayang kenapa?" tanya Arven yang merasa heran dengan Freya, apalagi saat dia melihat istrinya itu meneteskan air mata.


Freya menggeleng pelan, dia tidak berniat berbicara sekarang. Karena ini masih diacara pernikahannya yang seharusnya bahagia dan tidak ada kesedihan. Apalagi masih banyak tamu yang berdatangan.


Seolah mengerti, Bibi langsung menghampirinya dan menguatkan Freya. "Ini hari pernikahanmu, jadi jangan terbawa suasana. Tersenyum bahagi, tunjukan padanya kalau kamu bahagia"

__ADS_1


Freya hanya mengangguk saja, meski untuk tersenyum sangat sulit rasanya setelah ini. Sementara Arven masih bingung dengan semuanya.


Bersambung


__ADS_2