Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#53# Aku Mau Kembali Padanya


__ADS_3

Freya yang sedang berdiri di balkon Apartemen ini. Besok pagi dia akan kembali ke Indonesia. Tapi entah kenapa hatinya seolah sangat berat untuk itu. Kebodohan Freya yang sampai saat ini masih saja menjadikan dirinya ini berharap pada Arven yang jelas sudah tidak mungkin bisa bersamanya. Sesuai dengan ucapan Sinta, jika sekarang Arven yang sudah mempunyai wanita lain. Jadi tidak mungkin bisa kembali pada Freya.


"Kenapa terus berharap kembali padanya Frey, padahal dia juga tidak mungkin akan bisa lepas begitu saja dari wanitanya"


Masih berusaha menyadarkan dirinya sendiri, meski sebenarnya dia juga tidak bisa untuk lupa dengan pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Freya yang sedang terluka karena cinta yang tidak bisa bersama. Seolah banyak sekali rintangan yang harus dilewatinya untuk bisa bersama dengan Arven.


Freya pergi ke ruang tengah, ikut berkumpul dengan Haura dan Sinta. Dia hanya mencoba terlihat biasa saja di depan dua gadis ini. Karena tahu jika keduanya tidak pernah setuju jika Freya kembali lagi dengan Arven. Semuanya karena mereka berdua tahu bagaimana Freya yang menderita selama ini karena pria itu juga.


"Bagaimana keadaan kamu Frey? Apa sudah tidak ada yang terasa sakit? Kalau ada yang terasa sakit di bekas jahitannya, kita bisa langsung ke Dokter lagi" ucap Sinta.


Freya tersenyum dan menggeleng pelan. "TIdak ada, aku sudah baik-baik saja"


"Baguslah, karena besok pagi kita akan pulang ke Indonesia" ucap Haura.


Freya hanya tersenyum tipis saja, meski dia tidak mengerti dan tidak tahu harus melakukan apa selain menuruti keinginan sahabat dan sepupunya itu. Karena sepertinya tidak mungkin juga dia kembali bersama dengan Arven.


Suara bel pintu Apartemen itu membuat semuanya menoleh ke arah pintu.


"Siapa yang datang malem-malem begini? Kamu pesan makanan Sin?" tanya Haura yang merasa heran karena ada tamu di malam hari seperti ini.


Sinta menggeleng pelan, wajahnya juga terlihat bingung karena tiba-tiba ada tamu datang di malam hari seperti ini. "Buka aja, siapa tahu orang penting kali, atau petugas keamanan"


Dan Haura langsung berdiri, dia berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu. Apalagi saat bel kembali berbunyi, seolah orang itu tidak sabar untuk segera di bukakan pintu oleh penghuni Apartemen ini.

__ADS_1


"Ish siapa nih orang, gak sabar banget deh" gerutu Haura, dia segera membukakan pintu dan terdiam melihat orang yang berada di depannya saat ini.


"Dimana Freya?" tanya Arven, akhirnya Hendrick dapat menemukan jejak Freya dan juga dua kerabatnya ini. Dan dia langsung pergi ke Apartemen ini untuk menemui Freya.


"Mau apalagi si? Biarkan Freya tenang sebentar saja, apa tidak bisa?" ketus Haura.


Mendengar suara keras Haura membuat Sinta dan Freya segera menghampirinya. Takut yang datang itu adalah orang yang berniat jahat. Namun Freya langsung terdiam saat melihat orang yang datang. Rasanya dia tidak menyangka jika Arven akan mengetahui tempat tinggalnya saat ini disini.


"Freya, ayo kembali padaku" Arven yang langsung menerobos masuk dan memegang tangan Freya.


Melihat itu membuat Sinta langsung melepaskan dengan kasar tangan Arven yang memegang tangan Freya. "Bisa tidak untuk jangan ganggu Freya lagi. Dia sudah sangat menderita selama ini. Memang bukan kamu yang membuatnya menderita, tapi orang tuamu yang membuatnya menderita dan merasa terancam. Apa kamu mau kalau nanti Papa kamu kembali mengancam Freya seperti sebelumnya? Tolonglah, lepaskan Freya"


Arven menggeleng pelan, sampai kapan pun dia tidak akan pernah mau melepaskan Freya. Karena memang ternyata hatinya hanya untuk Freya.


"Tetap saja, Freya sudah tidak ma..."


"Aku mau kembali dengannya" ucap Freya yang memotong ucapan Haura barusan.


Dan ucapannya ini membuat Haura dan Sinta langsung melongo. Semudah itu Freya memutuskan untuk kembali dengan Arven setelah selama ini dirinya hampir terancam karena  bersama dengan pria itu.


"Frey?" Sinta sampai menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Freya barusan.


Ferya menundukan kepalanya, dia mengerti kepedulian Sinta dan Haura. Tapi dirinya juga tidak bisa membohongi hatinya jika dia memang ingin kembali dengan Arven. Tidak peduli kalau nantinya dia akan dikatakan sebagai gadis yang bodoh karena cinta. Yang jelas hatinya menginginkan Arven.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sinta, Hau" Freya meraih tangan Arven dan menggenggamnya. "...Aku tidak bisa membohongi hatiku kalau aku memang masih mencintainya dan menginginkan kembali bersama dengannya"


Haura mengusap wajah kasar, tidak percaya Freya akan berkata seperti itu setelah apa yang dilakukan oleh Papa Arven padanya. Cinta memang membutakan semuanya. Gumamnya dalam hati.


"Yaudahlah, kalau memang sudah keputusanmu. Kita gak akan ikut campur lagi, asal jangan sampai kau datang lagi sama kita dan nangis-nangis menyesal karena kembali mendapatkan tekanan dari orang tuanya" ucap Haura.


"Aku janji tidak akan membiarkan hal itu terjadi" ucap Arven, menggenggam erat tangan Freya.


"Yaudah, kau tidak perlu ikut pulang bersama kami besok. Habiskan saja waktumu bersamanya" ucap Sinta yang langsung berlalu pergi darisana.


"Sin..."


Freya hanya menghela nafas pelan karena pastinya sepupu dan sahabatnya itu sedikit kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Freya saat ini. Karena Freya tahu kalau Haura dan Sinta hanya takut kalau Freya kembali lagi dengan Arven, maka dia akan mendapatkan tekanan lagi dari orang tua Arven yang hanya akan membuatnya menderita. Tapi tetap saja Freya tidak bisa membohongi hatinya dan perasaannya.


"Sekarang terserah pada keputusan kamu Frey, karena kita juga tidak bisa terus memaksa kamu. Karena ternyata pemikiran kita dan kamu berbeda" ucap Haura yang ikut pergi darisana, seolah memang sudah tidak ingin ikut campur lagi dengan hubungan Freya dan Arven saat ini.


Freya berada diantara keputusan yang sulit saat ini. Dua orang yang selalu tahu bagaimana hidupnya selama ini, sekarang sedang merasa kecewa padanya. Freya menunduk dengan tangannya yang saling bertaut.


Sekarang dia tidak mengerti harus bagaimana, tapi hatinya yang juga tidak bisa di bohongi. Anggap saja Freya adalah gadis yang begitu bodoh, bahkan dia begitu mudah dibutakan karena cinta. Tapi sungguh Freya tidak akan pernah bisa terus membohongi perasaannya.


Melihat itu membuat Arven langsung memeluk gadisnya. "Semuanya akan kembali seperti semula seiring berjalannya waktu. Aku akan buktikan pada mereka kalau aku akan menjaga kamu dari siapapun yang berniat jahat padamu, termasuk Papa"


Freya mengangguk, dia melingkarkan tangannya di pinggang Arven. Memeluknya dengan erat. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan pelukan seperti ini dari orang yang dicintainya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2