Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#73# Pak Direktur, Ternyata Teman Masa Lalu?!


__ADS_3

Kehidupan pernikahan yang harmonis dan selalu merasakan sebuah kebahagiaan. Rasanya Freya tidak pernah merasa kesepian lagi sejak menikah, karena selalu ada suaminya yang menemaninya. Arven yang belum mempunyai pekerjaan, jadi dia hanya mengantar dan menjemput istrinya, terkadang dia juga akan datang di jam makan siang ke Kantor Freya agar bisa makan siang bersama dengan istrinya.


Seperti siang ini, Arven sudah kembali bersiap untuk pergi ke Kantor Freya dan ingin mengajak istrinya untuk makan siang bersma. Arven sudah mengirim pesan pada istrinya itu, namun masih belum mendapatkan respon sampai saat ini.


"Ah, jadi pengangguran enak tidak enak ya"


Sebenarnya Arven sudah berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, banyak juga awalnya beberapa perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya. Namun semuanya terulang kembali, seperti saat itu. Tiba-tiba saja perusahaan yang sudah hampir bekerjasama dengannya langsung membatalkan semuanya. Dan apa yang terjadi ini tentu saja sudah jelas jika Ayahnya yang berbuat.


"Aku harus menemui Papa sepertinya, tidak bisa dia terus seperti ini padaku. Hanya ingin aku sengsara dan akhirnya kembali padanya dan meninggalkan Ferya. Ah, aku tidak akan mau melakukan itu"


Arven menatap kembali penampilannya di balik cermin, lalu dia segera berbalik dan keluar dari dalam kamar. Arven mengendarai mobilnya menuju Kantor istrinya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya.


Namun senyuman itu sepertinya  langsung memudar ketika dia sampai di depan Perusahaan tempat istrinya bekerja. Arven melihat Freya yang sedang berbicara dengan seorang pria. Hal itu tentu saja membuat tangan Arven mencengkram kemudi dengan sedikit kuat.


"Sial, siapa dia yang sudah mengganggu Freyaku"


Freya mencoba meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada pria yang tiba-tiba datang ke tempat kerjanya ini. Sungguh setelah 4 bulan pernikahannya ini, tidak menyangka ucapan pria itu benar terjadi. Dia datang menemui Freya di tempat kerjanya.


"Tapi Tuan, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bisa, karena saya sudah menikah sekarang" ucap Freya dengan kepala menunduk.


"Freya, aku tidak menyangka kau sama sekali tidak mengingat aku"


Freya langsung mendongak, dia menatap pria di depannya dengan mata menyipit. Memastikan jika dia memang tidak mengenal pria itu. Hingga dia mengingat-ngingat wajah pria itu. Dan ya, sekarang dia ingat siapa pria di depannya ini yang pernah akan melakukan kencan buta dengannya, namun semuanya gagal.


"Reza?"

__ADS_1


"Ya, aku Reza, teman SMA kamu"


Freya langsung terbelalak, sangat tidak percaya dia akan bertemu lagi dengan teman masa sekolahnya ini. Reza yang berpenampilan sangat berbeda sekali, terlihat lebih tampan dan berwibawa dengan jas mahal yang melekat di tubuhnya.


"Ya ampun, aku tidak menyangka akan bertemu kamu lagi" ucap Freya dengan tersenyum pada pria di depannya.


"Aku lebih tidak menyangka mendengar kamu sudah menikah" ucap Reza.


Di dalam mobil, Arven mengepalkan tangannya dengan erat. Melihat Freya yang malah tersenyum begitu cantik pada pria di depannya hingga lesung pipi yang membuat Arven jatuh cinta itu, terlihat sangat jelas.


Arven langsung menekan klakson mobil dengan kencang, membuat Freya dan Reza sedikit terkejut. Freya langsung menoleh dan menyadari jika yang berada di dekat gerbang Knatornya ini adalah mobil suaminya.


Gawat, dia pasti sangat kesal sekali.


"Em, Reza maaf sekali ya. Tapi sepertinya kau harus pergi sekarang, suamiku sudah menunggu. Senang melihatmu baik-baik saja, aku pergi dulu ya. Bye"


Sementara di dalam mobil, Freya benar-benar merasakan suasana yang hening dan sangat mencekam. Melirik suaminya yang hanya diam saja, tatapan matanya yang begitu dengan tajam membuat Freya jadi takut dan tidak tahu harus berkata apa saat ini.


"Sayang, kamu tidak bilang kalau mau datang kesini" ucap Freya dengan pelan.


Arven hanya diam saja, sama sekali tidak berniat menjawab ucapan Freya barusan. Hal itu semakin membuat Freya takut, suaminya jika marah pasti terlihat sangat menakutkan. Apalagi jika marahnya karena cemburu.


"Sayang, jangan marah dong. Dia itu teman SMA aku" ucap Freya, mencoba menjelaskan. Sengaja tidak membahas jika pria itu yang pernah mengajaknya kencan buta.


"Terus untuk apa dia menemui kamu? Ingin bernostalgia? Iya? Sampai ketawa-tawa seperti itu" ketus Arven.

__ADS_1


Freya langsung terdiam, dia memang harus banyak bersabar untuk menghadapi suaminya yang sedang cemburu buta seperti ini. "Em, mungkin dia tidak sengaja lewat saja. Aku sama sekali tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang"


Arven hanya mendengus kesal, dia sama sekali tidak suka melihat istrinya berinteraksi cukup dekat dengan pria itu. Melihat itu membuat Freya langsung bertindak untuk meluluhkan hati suaminya. Dia menyandarkan kepalanya di lengan Arven yang sedang mengemudi.


"Ayolah Sayang, kamu harus percaya sama aku. Lagian aku juga tidak tahu harus melakukan apa ketika dia datang. Masa aku tidak menyapa teman sekolah aku dulu"


Arven menghela nafas pelan, dia menoleh dan mencium kepala istrinya yang berada di tangannya. Tentu saja Arven juga tidak bisa terus marah pada istrinya ini.


"Aku percaya padamu, tapi tidak pada pria itu! Aku yakin dia ada maksud tertentu menemui kamu seperti itu" Masih saja terdengar nada ketus saat Arven berbicara tentang Reza yang tadi datang menemui istrinya.


Sampai di Restaurant milik keluarga Haura, Freya langsung turun dan menggandeng tangan suaminya yang masih terlihat belum hilang kekesalannya. Saat masuk ke dalam Resaturant itu, mereka langsung di sambut oleh Haura yang beberapa bulan terakhir sering kali pergi keluar kota untuk pembangunan cabang Restaurant, hingga sekarang dia baru bisa mulai tenang dan berada disini. Freya langsung menghampirinya dan memeluk Haura.


"Lama banget tidak bertemu, sibuk banget ya kamu sampai tidak bisa mempunyai waktu untuk kita kumpul lagi" ucap Freya.


Haura hanya tersenyum tipis, dia juga sangat merindukan sahabatnya ini. "Sayang, aku juga merindukan kamu. Tapi duh, kerjaan lagi numpuk banget. Eh iya, Freya apa Pak Direktur yang ingin bertemu denganmu gara-gara kencan buta kalian gagal waktu itu, menemui kamu ke Kantor? Aduh maaf banget ya, aku gagal melarang dia dan mencari alasan lagi agar dia tidak menemui kamu. Padahal aku juga sudah bilang kalau kamu sudah menikah. Tapi dia tetap saja kekeuh ingin bertemu kamu"


Freya terdiam mendengar cerocosan Haura itu. Padahal jelas dirinya itu sangat menghindari semua ini, karena dia tidak ingin sampai suaminya tahu semuanya. Tapi malah sahabatnya ini tidak bisa rem ucapannya.


"Hau..." Freya memberi kode pada sahabatnya dengan melirikan matanya tajam ke arah Arven yang berdiri disampingnya.


Haura langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Masih tidak sadar kalau dia berbicara seperti itu di depan suami sahabatnya yang pecemburu berat.


"Aduh Frey, aku tidak sadar lagi. Maaf ya, soalnya mulut aku ini sulit sekali di rem kalau sudah nyerocos" bisik Haura dengan rasa bersalah.


Freya hanya menghela nafas pelan dengan bahunya yang melemas. Pasti setelah ini dia akan menghadapi kecemburuan suaminya yang tiada obat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2