
Aduh bagaimana ini? Freya yang bahkan jadi pusing sendiri bagaimana cara menjelaskannya pada Arven saat ini. Lagian memang situasinya itu memang tidak tepat, kenapa Haura harus menghubunginya saat ada Arven disana. Dan bodohnya Freya yang sok ingin terlihat jujur dan tidak ada yang disembunyikan, tapi sekarang malah terbongkar semua.
"Kencan buta ya?" nada sinis Arven begitu terdengar.
Freya tersenyum masam, dia mengelus dada Arven. Berusaha menggodanya saja dulu agar kemarahannya mereda. "Sayang, itu hanya karena memang selama ini Sinta dan Haura selalu mengadakan kencan buta untuk aku. Katanya agar aku bisa melupakan kamu dan membuka hati untuk yang baru. Tapi, aku tidak bisa melupakan kamu sampai saat ini"
Arven mendelik kesal, membayangkan saja bagaimana Freya yang pergi kencan dengan pria lain, sudah membuatnya murka. Rasanya memang Arven tidak pernah bisa melepaskan Freya, apalagi harus melihatnya bersama dengan pria lain.
"Aku tidak suka kalau kau harus melakukan itu lagi. Bukannya sudah kau batalkan tentang kencan buta itu? Kenapa masih saja pria sialan itu ingin mengulang kencan denganmu" tekan Arven.
Freya langsung memeluk kekasihnya itu, menyandarkan kepalanya di dada Arven. "Aku juga tidak tahu, saat itu memang aku tidak datang ke kencan buta yang di atur Haura dan Sinta, karena memang saat itu adalah hari dimana aku mengetahui kamu sakit. Jadi aku langsung cari tahu tentang penyakit kamu itu"
Mendengar kata itu membuat Arven langsung membalas pelukan Freya. Seketika kemarahannya langsung mereda, ingat bagaimana Freya yang banyak berjuang untuk kesembuhan dirinya.
"Kalau begitu, sekarang tidak perlu datang lagi ke acara kencan buta itu ya" ucap Arven, mengecup puncak kepala Freya dengan lembut.
Freya mendongak dan menatap Arven dengan lekat, memberikan kecupan di dagu pria itu. "Kalau dia maksa gimana? Dia bilang kalau dia sudah terlanjur penasaran denganku. Pantas si, kan selama aku jomblo memang banyak yang mengincarku. Haha"
Arven mencebikan bibirnya, gemas melihat wajah Freya yang tertawa begitu lepas. Tapi kesal karena ucapannya. Membuat Arven langsung mencium bibir Freya begitu saja, tentu saja dia tidak membiarkan Freya menghindar sedikit pun. Sampai Arven puas untuk menikmati bibir manisnya.
"Sayang ih, kenapa menciumku tiba-tiba begitu" kesal Freya yang hampir saja kehabisan nafas karena ciuman dalam Arven itu.
Arven menatap kekasih hatinya dengan lembut. Mengusap bibir yang basah itu, lalu mengecupnya lagi sekilas. "Kau harus sadar sekarang jika kau hanya akan menjadi milikku. Tidak akan pernah aku membiarkanmu diambil orang lain"
__ADS_1
Freya tersenyum mendengar itu. "Karena aku juga tidak ingin dimiliki orang lain. Hanya kamu yang boleh memiliki aku"
"Aku mencintamu, Freya Kayra"
"Aku lebih mencintaimu, Arven WIdianto"
Dan keduanya kembali mealanjutkan ciuman yang belum selesai itu. Arven mengangkat tubuh Freya hingga duduk di atas pangkuannya. Freya mengalungkan kedua tangannya di leher Arven. Keduanya begitu menikmati ciuman itu. Hanya ciuman, tidak lebih dari itu.
**********
Freya hampir saja tertawa begitu kencang saat melihat Arven yang gugup saat malam ini mereka menemui Bibi. Merasa lucu saja karena saat dia bertemu dengan orang tuanya saja tidak sama sekali gugu seperti itu. Tapi sekarang saat bertemu dengan Bibi, dia malah terlihat begitu gugup. Padahal jelas Bibi tidak mungkin setega Papanya yang tidak merestui niat baik mereka untuk menikah. Karena sebuah pernikahan adalah sebuah kebaikan.
"Sayang bagaimana kalau Bibi kamu tetap tidak merestui hubungan kita? Ah, aku tidak mau kalau sampai harus menyerah memperjuangkanmu" ucap Arven, memegang kemudi dengan erat.
Arven jadi mengingat kalau sikap Bibi dan Sinta tidak cukup baik pada Freya, dulu. Dia jadi penasaran untuk bertanya. "Sayang, bukannya dulu Bibi dan Sinta tidak bersikap baik padamu ya?"
Freya tersenyum, dia juga merasakan hal itu. Namun perubahan Bibi dan Sinta terjadi ketika mengetahui kisah cinta Freya yang begitu menyakitkan. "Mungkin mereka sedang kasihan padaku, karena mereka benar-benar berubah setelah mereka mengetahui tentang kisah cintaku yang tidak mudah. Apalagi saat tahu jika Papa kamu pernah berniat mencelakai mereka hanya karena aku tidak mau menjauhimu"
Mendengar itu benar-benar membuat Arven terdiam. Mungkin memang apa yang dilakukan Ayahnya pada Freya dan keluarganya itu, sangat keterlaluan.
"Maaf ya. Jika saat itu aku tahu apa yang sudah Papa lakukan padamu. Pastinya aku tidak akan tinggal diam saja"
Freya hanya tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di bahu Arven yang sedang mengemudi. "Meski begitu, kita tetap saja bisa kembali bersama. Mungkin karena kita yang ditakdirkan untuk bersama"
__ADS_1
Sampai di rumah Bibi, Arven benar-benar sudah sangat gugup. Bahkan tangannya sudah terasa berkeringat dingin. Hal yang paling Arven takuti saat ini adalah Bibi yang tidak merestui hubungan mereka. Dia juga tidak bisa melawan restu dari kedua belah pihak.
Setidaknya jika hanya dari orang tuanya, dia tidak papa karena alasan Papa tidak menyukai Freya hanya karena status sosial mareka. Buka tentang hal yang penting. Tapi kalau Bibi tidak merestui mereka, tentunya karena apa yang sudah dilakukan oleh Papa yang memang tidak akan mudah untuk dilupakan begitu saja. Apa yang Papa lakukan sudah keterlaluan.
"Sayang, kamu tenang ya. Bibi tidak akan sekejam itu" ucap Freya yang langsung meraih tangan Arven dan menggenggamnya.
Mereka pun mengetuk pintu, dan ketika pintu terbuka Arven malah semakin tegang. Padahal yang keluar bukanlah Bibi, tapi Sinta. Namun tetap saja Arven begitu gugup.
"Ayo masuk, Ibu sudah menunggu di dalam"ucap Sinta.
Freya mengangguk, dia langsung menggandeng Arven untuk masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah rumah ini memang sudah ada Bibi yang menunggu.Freya langsung menghampirinya dan menyalami Bibi dengan sopan. Arven juga ikut mengulurkan tangannya untuk menyalami Bibi. Bersyukur karena Bibi tidak menolak niat baiknya itu.
"Duduklah kalian, dan bicarakan apa yang sebenarnya membuat kalian datang kesini malam ini" ucap Bibi.
Arven menghembuskan nafas pelan, dia harus mulai terlihat sebagai pria sejati. Menghilangkan rasa gugup dalam hatinya. "Maaf kalau saya sangat lancang dan tidak tahu diri Bi. Tapi maksud kedatangan saya kesini ingin meminta keponakan Bibi ini untuk saya nikahi. Saya tidak bisa berbuat jani apa-apa karena takut tidak bisa menepatinya. Tapi saya hanya akan menjamin hidup Freya akan bahagia selama bersama saya"
Freya langsung menoleh pada Arven yang duduk disampingnya. Pria itu yang tadi begitu gugup, sekarang malah terlihat sangat keren dan berani saat meminta Freya pada Bibi.
"Kalau kau bisa menjamin Freya tidak akan terkena tekanan dari orang tuamu lagi. Maka Bibi akan izinkan kalian menikah" ucap Bibi.
Arven mengangguk cepat, dia tidak bisa menahan senyum bahagianya. "Saya jamin Freya tidak akan pernah tersentuh oleh Papa saya lagi"
Dan ternyata mendapatkan restu dari Bibi tidak sesulit yang Arven bayangkan.
__ADS_1
Bersambung