Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#40# Waktu Yang Berlalu!


__ADS_3

Akhirnya perpisahan ini yang keduanya pilih, bahkan pergi jauh dari tempat yang meninggalkan banyak kenangan dalam hidupnya. Arven yang sibuk dengan proyek barunya di luar negara, meski hati dan pikirannya masih belum bisa melupakan Freya disana. Tentu saja karena memang tidak pernah ada yang bisa membuatnya lupa akan semua kenangan yang pernah terjadi.


Suara bel pintu membuatnya yang baru saja selesai mandi dan sedang bersantai di atas sofa, merasa terganggu. Arven bangun dan berjalan ke arah pintu, membuka pintu ketika suara bel yang kembali berbunyi. Arven menghembuskan nafas pelan melihat seorang gadis yang berdiri disana.


"Mau apalagi kau datang kesini? Aku sedang mau istirahat" ketus Arven.


Katlyn tidak merasa terganggu dengan sikap Arven itu. Dia menerobos masuk begitu saja ke dalam Apartemen Arven ini. Duduk di sofa di ruang tengah.


"Aku tidak akan mengganggumu istirahat, aku hanya akan menemanimu istirahat, Kak" ucap Katlyn.


Arven berlalu ke dapur dan duduk di meja makan, mengambil minum sambil menatap ke arah Katlyn yang duduk disana. Sudah mulai terbiasa dengan kedatangan gadis itu secara tiba-tiba.


"Kenapa kau selalu datang ke Apartemenku, kenapa tidak ke Apartemen sepupumu di sebelah" ucap Arven.


Katlyn menoleh pada Arven sambil tersenyum. "Hendrick tidak menyenangkan, aku tidak suka padanya"


Arven mengangkat bahu acuh tak acuh, dia membawakan segelas air dan menyimpannya di meja depan Katlyn duduk. Lalu, dia juga ikut duduk disamping gadis itu. Di ruangan ini, ada beberapa figura foto yang terpajang, dan semuanya adalah foto Arven dan Freya. Meski sudah satu tahun berlalu, namun nyatanya Freya masih mengisi hatinya dan rumah yang menjadi tempatnya tinggal sekarang.


"Kak, sampai kapan kau menyimpan semua kenangan tentang mantan kamu itu? Rasanya dia tidak lebih cantik dari aku, hanya sedikit manis saja karena lesung pipinya" ucap Katlyn.


Arven terkekeh pelan, memang dia tidak menyembunyikan apapun pada Katlyn tentang perasaannya dan juga hatinya saat ini. Meski sebenarnya Katlyn dan dirinya sedang dijodohkan oleh orang tua mereka.


"Jika kamu mengenalnya dan bisa bertemu langsung dengannya, mungkin akan mengerti kenapa aku sampai sebesar ini mencintainya. Karena memang ada hal yang begitu menarik dalam dirinya" ucap Arven.

__ADS_1


Entah kenapa Arven selalu terlihat antusias dan bahagia ketika menceritakan tentang hubungannya dengan Freya. Meski pada akhirnya tetap berakhir juga. Tapi sampai saat ini, masih belum bisa menerapkan kebencian dalam hatinya pada gadis itu.


Katlyn menyandarkan kepalanya di lengan Arven. Dia menatap ke arah figura foto keduanya yang terpajang di dinding. "Mungkin dia memang menjadi wanita paling beruntung karena bisa mendapatkan cinta tulus darimu. Namun, kenapa dia harus mengakhirinya dengan begitu menyedihkan? Apa karena awalnya kisah kalian dimulai karena sebuah kontrak kerjasama yang saling menguntungkan?"


Arven tidak menjawab, karena sampai saat ini dia tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya membuat Freya memilih untuk berpisah. Meski tahu jika alasannya, karena Freya tidak pernah mencintainya. Tapi, apa mungkin hanya itu saja alasannya?


"Sebenarnya aku ingin menemuinya, berbicara berdua dengannya tentang perasaanku yang belum selesai. Tapi sekaang, aku hanya takut akan mengganggu kehidupannya yang mungkin sudah menemukan pria lain yang dia cintai sepenuhnya" ucap Arven.


Katlyn mengangguk mengerti, pastinya ucapan Freya saat memutuskan hubungan dengan Arven itu, membuat asumsi baru jika Freya akan menemukan pria lain yang benar-benar dia cintai. Tidak hanya terpaksa dan hanya berpura-pura mencintai lagi.


"Yaudahlah, kalau begitu ayo menikah saja denganku" ucap Katlyn.


Arven tertawa kecil mendengar ucapan Katlyn barusan. "Memangnya kau mau mengalami kisahku? Bersama dengan orang yang tidak benar-benar tulus mencintaimu. Hanya memaksakan diri dan akhirnya akan banyak hati yang terluka. Lagian, kau itu sudah seperti adikku sendiri"


"Katanya, cinta akan ada karena terbiasa. Kita sudah satu tahun lebih selalu bersama, tapi cintamu hanya untuk gadis di foto itu" ucap Katlyn dengan wajah cemberut.


Arven hanya tersenyum, dia mengacak gemas rambut gadis itu. "Kau akan menemukan pria yang benar-benar mencintaimu dengan tulus suatu saat nanti"


Katlyn hanya cemberut, namun dia tidak marah sama sekali. Sudah terbiasa dengan sikap dan ucapan Arven ini.


Sepertinya Arven tidak akan bisa pulang meski sudah satu tahun berada di Negara orang. Karena kariernya cukup bagus disini, setelah selesai dengan kontrak kerjasama yang satu. Maka datang lagi tawaran kerja lainnya dengan harga yang mneggiurkan. Membuat Arven terus menyelesaikan semua pekerjaan disini.


Waktu yang terus berlalu tanpa dirasa, semua pekerjaan Arven kerjakan dengan senang dan bahagia. Karena memang ini pekerjaan yang dia inginkan. Arven berhasil menjadi seorang Arsitektur yang mendunia.

__ADS_1


Hingga 3 tahun kemudian, dia mulai merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi tubuhnya. Sering sakit dibagian samping perut dan juga terkadang pusing berlebihan sampai mimisan. Puncaknya adalah hari ini, dia pingsan di tempat kerja.


Arven yang menjadi sosok pria yang gila kerja, sampai dia tidak pernah memikirkan kesehatannya dengan baik. Pola makannya yang tidak teratur juga. Dan sekarang sakitnya sudah berada di puncaknya.


Hendrick segera membawanya ke rumah sakit, dia juga sering mengingatkan Tuannya untuk memperhatikan kesehatannya. Namun, Arven tidak pernah menghiraukannya.


"Bagaimana Kak? Sebenarnya apa yang terjadi pada Kak Arven?" tanya Katlyn yang baru saja sampai di rumah sakit.


Hendrick menggeleng pelan. "Aku juga tidak tahu, dia masih diperiksa di ruangan. Semoga saja tidak papa"


Katlyn duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas dan khawatir. "Dia selalu gila kerja sampai tidak membiarkan tubuhnya benar-benar isirahat. Apa sudah beritahu Om dan Tante?"


Hendrick menggeleng pelan, dia memang belum kepikiran untuk menghubungi kedua orang tua Arven.


"Yaudah, biar aku saja yang menghubungi mereka" ucap Katlyn yang langsung merogoh tas selempangnya dan pergi agak menjauh dari sana untuk menghubungi kedua orang tua Arven.


Suara pintu ruangan yang terbuka, membuat Hendick langsung berdiri dan menghampiri Dokter. "Bagaimana keadaannya Dok?"


"Pasien mengalami gagal ginjal, sebela ginjalnya sudah rusak. Sepertinya harus segera menemukan donor ginjal yang cocok. Karena kalaupun melakukan cuci darah, melihat keadaannya ini sudah tidak memungkinkan. Ginjalnya sudah terlanjur rusak parah"


Hendrick menghembuskan nafas kasar mendengar penjelasan Dokter barusan. "Saya akan segera mencarikan donor yang cocok Dok"


"Baiklah, pihak rumah sakit juga akan berusaha untuk mencari donor ginjal yang cocok" ucap Dokter yang dijawab anggukan saja oleh Hendrick.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2