
Seperti biasa, Hendrick yang mengirimkan pakaian yang pas untuk Freya dan segala perlengkapan lainnya. Meski sedikit takut, namun Freya tetap tidak bisa menolak ajakan ini. Apalagi Ibunya Arven yang memang menginginkan dia ikut. Membuat Freya semakin tidak bisa menolak.
"Kau mau pergi kemana lagi malam ini?" tanya Sinta saat Freya sudah selesai bersiap dan keluar dari kamar. Sinta menatap Freya dari atas sampai bawah, sedang menilai penampilan Freya saat ini.
"Aku ada acara dengan Arven" jawab Freya santai.
"Hebat banget ya, sudah berapa kali kamu tidur dengannya, sampai dia memberikan kamu fasilitas yang cukup bagus. Bahkan biaya hidup kamu juga dia yang nanggung, hebat sekali" ucap Sinta dengan tatapan mengejek.
Freya hanya tersenyum dan tidak terlalu banyak bicara. Karena dia juga bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya. Meski sebenarnya dia ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya, tapi ternyata memang dia tidak bisa melakukan itu karena Arven sendiri yang sudah bilang kalau mereka adalah pasangan kekasih, seolah memang dirinya adalah pacar sungguhan.
"Aku pergi dulu kalau begitu, mungkin akan pulang cukup malam" ucap Freya, dia melirik ke arah pintu kamar Bibi yang tertutup. "...Tolong pamitkan aku sama Bibi ya"
Sinta hanya mengangguk saja tanpa menjawab apapun. Dia menatap Freya yang keluar dari kamarnya. Meski dirinya tidak pernah bisa membantu Freya, tapi hatinya tetap merasa kasihan padanya. Cara kasar dia berbicara pada Freya adalah caranya untuk menunjukan perhatiannya tapi tidak terlihat begitu jelas.
Freya menatap Hendrick yang sudah menunggu di halaman rumah Bibinya. Segera dia menghampiri pria itu.
"Mari Nona, Tuan Muda sudah menunggu di mobil" ucap Hendrick.
Freya sedikit mengerutkan keningnya, Arven ikut datang untuk menjemputnya. Tentu saja hal ini cukup aneh bagi Freya, apalagi saat Arven yang mau datang menjemputnya, biasanya dia hanya menyuruh Hendrick saja.
"Apa dia juga ikut datang menjemput?" tanya Freya yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Hendrick mengangguk, mempersilahkan Freya untuk berjalan di depannya dan dia yang mengikutinya dari belakang. Freya yang masih merasa bingung dan tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Apalagi ketika dia merasakan perubahan Arven saat ini.
__ADS_1
Tidak Freya, jangan berpikir terlalu kejauhan. Mungkin memang dia datang menjemput agar kita langsung pergi ke acara pesta tanpa harus banyak berhenti dulu.
Freya masih menahan hati dan perasaannya saat dia jelas merasakan debaran di hatinya sendiri. Namun Freya tidak ingin jika harus terjebak dengan kisah pacar kontrak seperti ini. Sungguh dia tidak mau jatuh cinta pada Arven, karena dirinya tahu akhir dari kisah ini akan tetap berakhir. Dan Freya tidak ingin sampai sakit dan begitu terluka saat harus pergi meninggalkan Arven dan semua ini.
Hendrick yang membukakan pintu dan langsung mempersilahkan Freya untuk masuk. Di dalam sana sudah ada Arven yang sedang duduk di kursi belakang dengan memainkan ponselnya.
Arven langsung menoleh dan tersenyum pada Freya, tentu saja membuat Freya berdebar kencang. Dia mencoba tersenyum pada Arven dengan sedikit tegang. Freya masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Arven dengan jarak aman.
"Kau cantik sekali"
Deg,, sungguh ucapan Arven malah semakin membuat jantung Freya berdebar dengan ucapan Arven barusan. Aduh, kenapa semakin hari dia semakin aneh si. Ada apa dengannya?
Arven sedikit menggeser tubuhnya, merangkul bahu Freya dan mengecup pipinya. Hal ini tentu saja membuat Freya semakin tegang saja. Namun dia tidak bisa mencoba melepaskan diri dari rangkulan Arven ini.
"Sayang, aku takut sekali. Apa tidak papa aku ikut ke pesta ini?" tanya Freya dengan gugup.
Mendengar itu membuat Freya diam, bukannya tenang tapi malah semakin tegang. Takut sekali akan terjadi hal yang memalukan disana. Karena Freya yang tidak pernah datang ke sebuah pesta.
Pesta pertemuan bisnis ini memang cukup meriah. Bahkan suasananya begitu terasa sangat mewah dan meriah, orang-orang yang datang juga bukan dari kalangan biasa seperti Freya saat ini. Namun semua orang juga tidak akan menyangka kalau Freya dari golongan orang biasa, karena nyatanya sekarang dia tampil tidak jauh beda dengan yang lainnya. Terlebih lagi dia yang datang bersama dengan Arven.
Arven hanya tersenyum saat merasakan tangan Freya yang begitu dingin. Wanitanya itu memang sedang sangat gugup. "Kenapa kau tegang sekali, ayolah ini hanya sebuah pesta biasa. Kau nikmati saja suasana pesta ini, tidak perlu tegang begitu"
Freya langsung menghela nafas pelan, tidak percaya Arven bisa bicara seperti itu sementara Freya memang sangat gugup dengan acara pesta yang sebenarnya memang dia belum pernah datang ke acara seperti ini sebelumnya. Freya yang semakin tegang saat Arven membawanya ke beberapa rekan kerja dan memperkenalkannya.
__ADS_1
"Hallo Tuan Arven, wah selamat atas kesuksesan anda untuk desain mal terbaru yang sekarang sedang sangat terkenal. Anda memang hebat"
Arven hanya tersenyum, sudah terbiasa dengan pujian seperti ini. "Terima kasih Tuan"
Freya hanya diam melihat interaksi mereka yang saling memuji bisnis masing-masing. Beginikah cara orang kaya berinteraksi. Ya Tuhan, aku benar-benar kampungan sekali. Gumamnya dalam hati.
"Oh ya, perkenalkan ini calon istri saya, Freya" ucap Arven.
Deg,, seketika Freya langsung berdebar kencang mendengar ucapan Arven barusan. Calon istri? Ya, Freya jelas tidak salah dengar, memang Arven mengatakan hal seperti itu. Memperkenalkannya sebagai calon istri.
"Wah, segera sebar undangannya ya Tuan. Cantik sekali calon istri anda ini"
Berbagai pujian yang datang pada Freya yang tampil cantik malam ini. Ya, karena dia yang di poles makeup dan juga menggunakan barang-barang mewah. Freya hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya. Menjawab seperlunya saja ketika memang ada pertanyaan yang perlu dia jawab.
"Maaf ya, calon istri saya ini memang sedikit pemalu" ucap Arven sambil mengecup punggung tangan Freya yang sejak tadi dia genggam.
Freya hanya menatap Arven dengan wajah yang tegang. Semua perlakuan Arven itu benar-benar membuatnya sangat bingung. Entah harus melakukan apa saat ini ketika Freya merasakan sikap Arven yang berlebihan. Terkadang Freya merasa jika pacaran ini bukan hanya sebatas kontrak saja.
Jangan terus seperti ini, kalau terus seperti ini, bisa-bisa aku tidak akan bisa menahan diri lagi sekarang.
Freya sudah berusaha keras untuk membangun benteng tinggi di hatinya agar dia tidak pernah jatuh cinta pada pria yang menjadikannya pacar kontrak. Tapi sikap Arven yang tidak seperti pada pasangan pacar kontrak, membuat pertahanan Freya mulai runtuh.
Arven membawa Freya ke sebuah meja di ujung ruangan. Duduk disana dengan tangannya yang masih saling menggenggam. Seolah tidak mau melepaskan genggaman tangan masing-masing.
__ADS_1
"Sayang, acara ini sampai kapan selesai?" tanya Freya sambil menatap ke sekelilingnya.
Bersambung