Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#34# Melampiaskan Kekecewaan!


__ADS_3

"Arghhh!" Arven berteriak kencang, dia melempar piring yang ada di depannya sampai suara pecahan itu menggema di ruangan ini. Piring itu jatuh ke lantai dan hancur berantakan, sama seperti hati Arven saat ini yang sedang sangat berantakan.


"Sial, ternyata memang tidak ada wanita yang benar-benar tulus padaku. Semuanya hanya memandang hartaku dan gelarku saja"


Arven menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan bertumpu pada kedua tangan. Rasanya sangat hancur, hatinya terluka dengan ucapan Freya. Gadis yang selama ini dia kira berbeda dari wanita lain. Gadis yang baik dan tulus padanya. Namun, ternyata sama saja. Hanya memandang Arven karena kekayaannya.


"Dasar wanita murahan, aku tidak akan pernah lupa tentang hal ini. Kenapa harus berpura-pura untuk mencintaiku, jika memang dia sama sekali tidak cinta padaku"


Pertahanan Arven yang runtuh juga akhirnya, air matanya jatuh begitu saja. Rasa sakit yang tidak pernah dia bayangkan saat ini. Arven mendongak, menatap sisa makanan di atas meja. Tidak pernah menyangka jika malam ini akan menjadi makan malam terakhir bagi Arven dan Freya.


Arven sangat marah dan terluka bersamaan saat mengingat ucapan Freya beberapa saat lalu. Dia melemparkan semua piring dan makanan yang ada di atas meja makan. Menghancurkan semuanya, sampai suara pecahan piring dan gelas menggema di ruangan ini. Hati Arven yang begitu hancur saat ini.


"Aku benci semua wanita! Semuanya sama saja!" teriak Arven.


********


Freya masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, membenamkan wajahnya di atas bantal dengan tangis yang pecah. Punggungnya bergetar hebat.


Luka yang dirasakannya lebih besar, karena dia yang mengakhiri semuanya dan dia juga yang sudah menghancurkan Arven dan hidupnya. Membuat Freya semakin merasa sangat hancur.


"Frey.."


Sinta masuk ke dalam kamar, dia melihat Freya yang langsung masuk ke dalam kamar dan dia melihat wajahnya yang kacau. Membuat Sinta langsung melihatnya. Sinta berjalan menghampiri Freya, dia duduk di pinggir tempat tidur Freya. Jelas melihat punggung gadis itu yang bergetar hebat, belum lagi suara isak tangisnya yang terdengar samar.


"Ada apa Frey?" tanya Sinta sambil mengelus punggung Freya yang bergetar. "...Cerita sama aku kalau memang ada masalan. Apa kamu bertengkar dengan Arven?"

__ADS_1


Freya langsung bangun, tanpa berkata-kata dia langsung memeluk Sinta dan menangis sejadi-jadinya. Sungguh Freya sangat tidak bisa menahan tangisannya di tengah hatinya yang terluka.


Sinta mengelus punggung Freya yang menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya. "Ada apa? Kamu tenang dulu ya, lalu cerita sama aku"


"Aku tidak bisa melakukan apapun, Sinta. Hikss.. Semuanya terpaksa aku akhiri, bukan karena aku.. Hiks.. Bukan karena aku tidak mencintainya, tapi aku tidak mau mengorbankan kalian. Kamu dan Bibi adalah keluarga yang masih aku punya saat ini. Jadi aku tidak mau kalau sampai mengorbankan kalian hanya karena keegoisanku"


Sinta hanya diam, mendengarkan semua ucapan Freya yang sedang mencoba untuk meluapkan semuanya. Meski dirinya masih belum terlalu mengerti. Sampai Freya sudah mulai tenang dan puas meluapkan semuanya dengan tangisan, barulah Sinta melera pelukan mereka dan menatap Freya dengan lekat.


"Jadi, kamu mnegakhiri hubungan kalian?" tanya Sinta.


Freya mengangguk, isak tangis masih tersisa. "Aku tidak bisa melakukan apapun, karena jika aku tetap mempertahankan hubungan ini. Maka bukan hanya aku yang terancam terluka, tapi juga kalian. Aku tidak mau kehilangan kamu dan Bibi"


Sinta mulai menguraikan setiap kata yang terucap dari Freya. Menyimpulkan apa yang dialami oleh sepupunya ini. "Apa kamu mendapatkan ancaman? Dari siapa? Mantan Arven? Atau orang tuanya dan keluarganya?"


"Kalau begitu kita lapor polisi saja. Frey, ini sudah tindakan kriminal" ucap Sinta.


Freya menggeleng pelan, dia memegang tangan Sinta dan menatapnya lekat. "Kita hanya orang kecil, tidak akan pernah menang melawan keluarga mereka. Sebaiknya kita mengalah saja, lagian aku juga sudah memutuskan untuk meninggalkan Arven. Mungkin memang kami tidak berjodoh"


Mendengar itu, Sinta langsung memeluk Frya. Benar juga jika mereka tidak akan menang untuk melawan keluarga Widianto. Jadi, rasanya lebih baik mengalah saja, daripada semakin membuat hidupnya hancur.


Dunia yang seolah hancur begitu saja ketika dia tidak bisa menemukan apa yang sebenarnya dia inginkan dari diri wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Karena nyatanya tidak ada sebuah cinta yang benar-benar tulus untuknya.


Arven diam di dalam kamarnya dengan sebatang rokok yang menyala di tangannya. Entah sudah habis berapa batang rokok malam ini, dia hanya sedang mencoba menghilangkan segala stres dalam dirinya. Masih merasa jika apa yang baru saja terjadi adalah sebuah mimpi. Namun ketika dia sadar jika dia jelas mendengar ucapan Freya yang begitu menyakitkan, tentunya dia sadar jika semuanya memang bukan mimpi. Semua yang telah terjadi memang nyata.


"Semua wanita sama saja, tidak ada yang tulus mencintaiku"

__ADS_1


Arven mengusap cairan bening yang lolos begitu saja di pipinya. Padahal dia sudah mencoba untuk menahan dari tadi, agar tidak benar-benar terlihat menyedihkan. Namun, nyatanya dia tidak bisa menahan diri lagi.


"Ya Tuhan, kenapa harus sesakit ini?"


Rasanya Arven ingin menyalahkan dirinya sendiri yang sudah membiarkan Freya masuk dalam hidupnya dan hatinya. Hingga sekarang dia begitu tersakiti karena ulah perempuan itu yang berhasil menghancurkan hidupnya.


Lagi, Arven mengusap cairan bening yang terus menetes di pipinya. Padahal sudah sebisa mungkin dia menahannya. Tapi pertahanannya tetap runtuh juga. Dia sudah terlanjur mencintai Freya, hingga rasanya akan begitu sulit jika dia harus kehilangan dan melupakan gadis itu dalam waktu dekat.


"Sakit sekali, Ya Tuhan"


Arven benar-benar menangis, dia tidak bisa lagi mempertahankan pertahanannya. Karena memang dirinya yang begitu terluka dengan semua yang baru saja terjadi. Sungguh Arven yang sekarang begitu lemah. Sangat berbeda sekali dengan sosok Arven yang biasanya.


Untuk pertama kalinya jatuh cinta dan mencintia, Arven sudah membayangkan kebahagiaan yang akan terjadi ketika nanti dirinya menikahi wanita yang dia cintai.


Tapi sebelum sempat dia mewujudkan semua mimpinya itu, semuanya harus hancur karena gadis yang dia cintai, ternyata selama ini tidak pernah benar-benar tulus mencintainya. Freya yang hanya terpaksa berpura-pura mencintainya, karena merasa berhutang setelah apa yang Arven berikan padanya.


Semuanya tetap hanya karena uang!


Arven keluar dari Apartemen dan berkendara dengan kecepatan tinggi. Dia hanya sedang meluapkan segala kekecewaannya dan rasa sakitnya itu. Sampai Arven berhenti di sebuah club malam. Dia masuk dan memesan banyak minuman.


Caranya melampiaskan rasa sakit yang begitu dalam di hatinya. Arven yang tidak pernah merasa rasa sakit seperih ini sebelumnya.


Dan mabuk adalah caranya menghilangkan semua masalah dalam hidupnya untuk malam ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2