Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#13# Kenapa Bersikap Seperti Ini?!


__ADS_3

Arven sama sekali tidak menoleh pada Sinta yang berbicara padanya. "Tidak perlu! Pacarku tidak berhak memakai barang bekas yang sudah diambil orang lain. Dia akan mendapatkan yang lebih dariku"


"Tapi saya belum memakainya" ucap Sinta yang tiba-tiba saja tegang dengan ucapan Arven barusan.


"Semua yang sudah diberikan pada orang lain, maka pacarku tidak perlu mengambilnya lagi. Aku akan membelikannya yang baru!" tekan Arven, masih memandang Freya, sama sekali tidak ingin menatap ke arah Sinta.


Freya hanya tersenyum, entah kenapa hatinya berdebar saat mendengar ucapan Arven barusan. Benar-benar cukup terharu dengan ucapan pria itu. Tuan Muda yang seolah berhasil membuat Freya tersentuh.


Jangan tersentuh Freya, dia hanya sedang ingin mempermainkanmu saat ini. Dia hanya sedang pamer kekayaannya, kenapa kau yang malah terharu, bodoh!


"Yaudah, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa langsung bilang padaku" ucap Arven, tangannya kembali mengelus pipi Freya.


Freya hanya mengangguk sambil tersenyum, meski jantungnya sudah berdetak dengan begitu gugup sekarang ini. Merasa kesal juga dengan Arven yang terus membuatnya gugup seperti ini.


"Iya Sayang, kamu hati-hati dijalan ya"


Freya mengantar Arven sampai ke depan gang. Dia harus melakukan ini sebagai ucapan terima kasih karena pria itu sudah memberikan penekanan jika Freya memang kekasihnya. Meski sekarang sebenarnya Freya bukannya senang, tapi malah merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan setelah ini. Karena pastinya Bibi dan Sinta tidak akan membiarkan dirinya lolos begitu saja.


"Kenapa kau harus mengantar sampai kesini? Tidak pakai jaket juga, cepat kembali kalau sampai sakit bagaimana" ucap Arven dengan mengelus kedua lengan Freya yang terasa dingin karena cuaca malam juga gaunnya yang tanpa lengan.


Kenapa bersikap seperti ini? Aku bisa saja salah faham kalau kau terus bersikap seperti ini.


Freya tersenyum saja, meski sebenarnya hatinya cukup menghangat dengan perhatian yang diberikan Arven. "Yaudah, aku kembali sekarang ya. Kamu hati-hati dijalan"

__ADS_1


"Apa tidak ada bentuk perpisahan?" tanya Arven.


Freya langsung terdiam, dia menatap Arven dengan bingung. Benar-benar tidak mengerti dengan ucapan pria itu. "Sampai jumpa Sayang, kita akan bertemu lagi nanti"


Freya langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan perpisahan dengan Arven. Benar 'kan aku? Dia minta bentuk perpisaha, ya seperti itu ucapan orang-orang kalau mau berpisah.


Arven hanya menghela nafas pelan, menatap punggung Freya yang menjauh dengan senyuman tipis. Hanya dia yang mengerti arti senyumannya itu. Arven langsung masuk ke dalam mobil.


"Maaf Tuan, nanti akan saya ajarkan Nona untuk sebuah bentuk perpisahan dengan anda" ucap Hendrick di balik kemudi, tangan kanan keluarga Widianto itu yang selalu tahu apa yang diinginkan Arven meski tidak dijelaskan dengan detail.


"Hmm"


Arven menatap keluar jendela, tersenyum sendiri ketika mengingat tingkah Freya. "Kau lihat tadi? Dia selalu bertindak sangat menggemaskan sejak dulu. Seperti boneka barbie yang begitu lucu"


"Maaf Tuan, tadi Nyonya dan Tuan Besar ingin bertemu dengan Bibi saya yang diakui sebagai orang tua Freya. Tapi saya sudah memberikan alasan yang tepat agar mereka tidak terus memaksa untuk bertemu di saat ini" ucap Hendrick.


Arven menghela nafas pelan. "Lakukan saja apa yang seharusnya Hen"


"Baik Tuan"


*******


Ketika Freya kembali ke dalam rumah, tatapan Bibi dan Snta tentu tidak suka padanya. Freya sadar dan tahu bagaimana dirinya akan selalu menjadi sebuah benalu di rumah ini. Tapi mau bagaimana lagi, Freya tidak mempunyai tempat tinggal lain. Rumah bekas Ayahnya telah di jual untuk melunasi hutang biaya saat Ayahnya sakit dulu. Sementara Ibunya yang entah kemana. Pergi begitu saja karena tidak tahan dengan kondisi Ayahnya yang sakit-sakitan.

__ADS_1


Jadi untuk saat ini mau diperlakukan apapun oleh Bibi dan sepupunya, Freya akan terima saja, karena ternyata dirinya  memang tidak tahu harus tinggal dimana lagi. Untuk kost sendiri, tentu tidak mungkin karena uang gajinya hanya habis untuk kebutuhannya dan kuliahnya juga. Jadi tidak akan ada sisa untuk bisa membayar uang kost.


"Jadi kenapa kamu bisa berpacaran dengan pria kaya sepertinya?" tanya Sinta dengan tatapan tidak suka.


Freya hanya menghela nafas pelan, tentu saja dirinya juga tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana menjelaskannya. Sudah jelas Arven sendiri yang mengaku dirinya untuk sebagai pacarnya. Jadi rasanya tidak mungkin jika Freya saat ini mengelak tentang fakta itu.


"Kami memang sudah lama kenal dan semuanya memang terjadi begitu saja" ucap Freya.


Bibi hanya mendengus kesal, seperti tidak rela saja jika Freya mempunyai kekasih sekeren itu. "Kau memang seperti Ibumu, gampang sekali menyerahkan diri pada seorang laki-laki kaya. Memang tidak ada harga dirinya"


Bibi yang langsung berlalu begitu saja ke kamarnya setelah berkata seperti itu. Freya hanya menghela nafas pelan, tentu saja dirinya terluka dengan ucapan Bibi barusan. Tapi apa yang bisa dia perbuat jika semuanya juga harus masih bergantung pada Bibinya.


BIbi bisa sebenci ini padanya, karena ibunya  yang pergi meninggalkan hutang juga dan terpaksa membuat Pamannya terus membayar hutang-hutang itu hingga dia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal beberapa bulan setelah Ayah Freya meninggal. Jadi tentu keberadaan Freya hanya akan mengingatkan Bibi pada kesakitan yang juga dia alami atas kejadian yang ada.


"Makanya kalau sekarang punya pacar yang kaya, mafaatkan dia untuk membuat kami bahagia. Ingat ya, bahkan aku harus membagi kasih sayang Ayahku saat dia masih ada denganmu.  Semuanya karena memang kamu yang menjadi sumber masalah dalam keluargaku" tekan Sinta dalam setiap ucapannya, segera dia pergi dari ruang tengah itu.


Tubuh Freya jatuh ke atas kursi, air matanya juga luruh begitu saja. Rasanya dia sangat sesak sekali saat mendengar semua ucapan Bibi dan Sinta barusan. Tapi Freya yang tidak bisa melawan, karena memang dirinya hanya seorang benalu yang menumpang di rumah mereka ini. Jadi Freya hanya mencoba untuk sadar diri saja saat ini.


"Ayah, Ibu, kenapa kalian harus meninggalkan Freya?  Kenapa Ibu begitu tega padaku"


Rasanya Freya ingin berteriak kencang jika dirinya lelah dengan semua ini. Mengingat Ibunya yang pergi di saat keadaan Ayahnya tidak baik-baik saja. Dan sampai saat ini Freya juga belum pernah bertemu lagi dengannya. Tidak sekalipun dia melihat Ibunya, entah dimana dia sekarang berada. Yang jelas Freya hanya ingin melupakannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2