Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#31# Tinggalkan Arven!


__ADS_3

"Hai Tante, apa kabar?" ucap Arven.


Ibu itu langsung tersenyum, dia menatap ke arah Freya dengan kening berkerut bingung saat dia melihat Freya. "Loh, bukannya kalian sudah tidak lagi bersama ya sejak kejadian di pesta waktu itu? Mama kamu sendiri yang bilang sama Tante, kalau dia mau kamu bertemu dengan anak Tante kalau ada waktu senggang"


Freya langsung menunduk mendengar ucapan Ibu itu. Dia mengerti sekali, kalau sekarang kedua orang tua Arven sedang berupaya untuk menjodohkan Arven dengan gadis lain yang pastinya lebih setara untuk bersanding dengan Arven daripada dirinya.


"Ah, maaf Tante, aku dan Freya yang akan segera menikah. Kami tidak berpisah kok. Mungkin saat itu Mama hanya sedang asal bicara saja" ucap Arven, dia langsung berpamitan dan pergi dari hadapan Ibu tadi.


"Jangan dengarkan ucapan tadi, yang jelas kamu yang akan menjadi pendamping hidupku" ucap Arven, saat dia merasakan kekasihnya yang sedang sedih itu dan berubah jadi pendiam dengan tiba-tiba.


"I-iya, aku mengerti"


Hanya itu yang diucapkan oleh Freya, karena jelas dirinya juga tidak bisa membohongi hati kalau dia merasa takut jika nanti Arven akan tetap menikah dengan gadis lain. Sungguh dirinya yang tidak akan mamp, namun dia juga tidak yakin jika mereka akan terus bersama.


"Sekarang kita mau makan dimana?" tanya Arven, mencoba mencairkan hati kekasihnya yang pastinya sedang sedih sekarang.


Freya menggeleng pelan, dia menoleh dan menatap Arven. "Apa sebaiknya kita pergi saja untuk makan di rumah? Aku akan masak"


Arven terdiam mendengar itu, jelas dia melihat sendiri bagaimana Freya yang jadi pendiam dan terlihat jelas kegelisahan di balik tatapan matanya. "Sayang, kamu bilang sudah lapar. Kalau kita pulang dulu dan kamu memasak sendiri, pasti waktu makannya akan semakin tertunda. Aku tidak mau kalau sampai kamu sakit, sebaiknya kita makan saja disini ya"


Dan akhirnya Freya juga tidak bisa menolak, dia menurut saja saat Arven membawanya ke sebuah Restaurant di dalam mal itu.


*******

__ADS_1


Setelah mengantar kekasihnya pulang, Arven juga segera kembali ke rumah orang tuanya. Sungguh dia sangat ingin marah pada orang tuanya yang sudah mulai menunjukan ketidak sukaannya atas hubungan Arven dan Freya yang masih berlanjut sampai sekarang.


"Ma, Mama!" teriak Arven saat dia memasuki rumah.


"Ada apa Arven, kenapa kamu teriak-teriak seperti di hutan" ucap Mama yang sedang duduk di sofa ruang tengah, dan sedikit kaget dengan teriakan anaknya itu.


Arven langsung menghampiri Mama disana. "Apa maksud Mama sampai bilang mau menjodohkan aku dengan anak teman Mama itu? Jawab aku Ma"


Mama menghembuskan nafas pelan, dia memang sudah banyak berencana untuk menjodohkan anaknya itu dengan anak temannya. "Semuanya Mama lakukan juga demi kebaikan kamu. Mama sudah lelah dan capek melihat kamu dan Papa yang terus perang dingin seperti ini. Ingat Arven, kamu dan Papa adalah dua pria yang berharga dalam hidup Mama. Jadi, Mama tidak bisa tenang kala melihat kalian yang terus seperti ini"


"Tapi kenapa harus dengan cara menjodohkan aku dengan anak gadis dari teman Mama itu? Mama tahu sendiri kalau aku mencintai Freya" tekan Arven, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Ibunya ini.


"Karena semua itu keinginan Papa kamu. Ayolah Arven, mengalah saja dengan Papa kamu. Mama yakin, kalau apa yang dipilihkan oleh orang tua itu yang terbaik. Mama dulu juga dijodohkan dengan Papa kamu, dan sekarang lihat, Mama dan Papa bahagia dan bahkan bisa sampai memiliki kamu" ucap Mama.


Arven langsung mengusap wajah kasar dan frustrasi. Bingung juga kenapa tiba-tiba Mama jadi ikut-ikutan seperti Papanya yang ingin Arven berpisah dan lepas dari Freya. Padahal Mama tahu sendiri kalau anaknya ini sangat mencintai Freya.


Mama hanya menghembuskan nafas kasar melihat anaknya yang pergi itu.


********


Bohong, jika Freya tidak memikirkan kejadian saat di mal. Mendengar sendiri jika Arven sudah akan di jodohkan pada gadis yang menjadi pilihan orang tuanya. Sungguh mendengar kabar seperti itu membuat Freya gelisah dan takut. Banyak kegelisahan dan ketakutan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata untuk saat ini.


"Entah akan sperti apa hubunganku dan Arven kedepannya. Karena ternyata memang banyak sekali orang yang tidak setuju dengan hubungan kita ini"

__ADS_1


Ah, Freya yang jadi bingung sendiri sekarang. Kenapa dirinya harus melakukan hal apa. Karena ternyata memang dirinya yang tidak bisa memikirkan jalan keluar dan solusi yang baik untuk hubungan mereka ini yang sedang terhalang restu.


Ketika sore ini Freya baru saja akan pulang, dia ada kelas tambahan hingga pulang cukup terlambat sekarang ini. Freya mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sungguh karena memang dirinya yang tidak bisa fokus dalam berbagai hal untuk saat ini. Banyaksekali yang dia pikirkan, apalagi tentang hubungannya dan Arven.


"Mau apa mobil ini, kenapa terus mepet jalanan"


Freya sedikit bingung saat ada sebuah mobil yang terus mepet ke arahnya. Hingga Freya hampir terjatuh jika dia tidak menahan keseimbangan tubuhnya. Fryea segera menghentikan motornya dan turun dari motor untuk menghampiri mobil itu.


Mengetuk kaca jendela mobil. "Maaf, apa ada masalah?"


Kaca jendela mobil bagian belakang terbuka, membuat Freya langsung menoleh ke arahnya. Dan seketika tubuhnya mematung melihat siapa yang berada di dalam mobil ini.


"Aku ingin bicara sebentar denganmu, masuklah"


Suara dingin dan penuh penekanan itu membuat Freya sangat merinding dan tidak bisa untuk menolaknya. Dia segera masuk ke dalam mobil itu. Duduk disamping Papa dengan tangan yang meremas rok yang dipakainya.


Ya Tuhan, apa yang akan dibicarakan oleh Papanya Arven ini?


"Saya tahu kalau kamu masih berhubungan dengan anak saya. Tidak salah, dan saya juga tidak menyalahkan kamu. Karena tahu kalau anak saya yang tidak mau melepaskan kamu. Tapi, seharusnya kamu sadar diri dengan posisi kamu sebenarnya" ucap Papa.


Freya hanya diam menunduk, mengerti sekali dengan apa yang diucapkan oleh Papa barusan. Pastinya karena dirinya  yang tidak sadar diri karena masih bersama dengan Arven, di saat orang tuanya tidak merestui hubungan mereka.


"Maaf, tapi aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Kami saling mencintai" ucap Freya, memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya pada Papa.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau meninggalkan Arven dengan sendirinya, maka jangan salahkan saya jika akan sedikit memaksa agar kamu meninggalkan Arven" tekan Papa.


Bersambung


__ADS_2