
Suasana Bandara internasional ini penuh dengan hiruk pikuk orang-orang yang baru kembali atau baru ingin berangkat dengan tujuan masing-masing. Belum lagi keluarga yang menjemput mereka.
Dua pria tampan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, berjalan tegap menuju pesawat mereka yang akan segera terbang menuju negara yang mereka tuju.
Keputusan pekerjaan ini sudah bulat, Arven hanya ingin menenangkan dirinya yang selama hampir dua bulan ini lemah, sekarang bahkan sudah tidak akan pernah memikirkan lagi tentang pekerjaan di luar negara ini. Arven menerimanya karena dia hanya ingin pergi dari tempat ini, dimana semuanya akan memungkinkan dia untuk bertemu dengan Freya. Dan Arven tidak akan siap dengan hal itu.
Arven duduk di kursi pesawat ini, menatap keluar jendela. Dimana pemandangan luar pesawat terlihat indah, namun sama sekali tidak menarik perhatiannya. Semua ingatan dan bayangannya masih dipenuhi oleh bayang-bayang wajah Freya yang tidak bisa hilang dalam ingatannya.
Ditempat yang berbeda, Freya langsung memegang dadanya yang teras nyeri. Seolah ada hal yang membuatnya begitu terluka dan sakit.
"Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba sakit"
Freya melangkah menuju bangku taman di Kampusnya ini, duduk disana. Lalu, dia mendengar suara pesawat yang terbang, mungkin baru saja lepas landas karena jaraknya yang masih terbilang cukup dekat. Masih terdengar jelas suaranya. Freya mendongak dan menatap pesawat yang berada di atas sana. Langit yang cerah membuat pesawat itu terlihat seperti pesawat mainan saja dari tempat Freya duduk disini.
"Freya"
Freya menoleh pada orang yang memanggilnya itu, dia terdiam saat melihat Renjani disana bersama dengan dua orang temannya. Mereka semua menghampirinya.
"Wah jadi ini ya yang menjadi pacar kontrak Tuan Muda itu? Sayang, sekali ya, kamu gagal jadi cinderella" ucap teman Rinjani dengan tertawa mengejek pada Freya.
Rinjani tertawa mendengar itu, sungguh sangat senang melihat Freya yang akhirnya sudah berpisah dengan Arven. "Karena selamanya, kisah cinderella dan pangeran itu hanya ada di cerita dongeng untuk anak-anak sebelum tidur. Tidak akan pernah terwujud ke dunia nyata"
Freya menghembuskan nafas kasar, sudah terbiasa mendapatkan bullyan seperti ini, membuat dia bisa lebih tenang menyikapi semua pembicaraan mereka yang jelas sedang menyudutkannya dan mengejeknya.
__ADS_1
Freya berdiri dari duduknya dan menatap Rinjani dengan tenang. "Setidaknya meski hanya mencjadi pacar kontrak atau apapun itu, aku pernah bisa mengaku sebagai kekasih Tuan Muda. Tidak harus mengejarnya dengan memanfaatkan kekuasaan orang tua, tapi tetap saja gagal karena memang bukan tipe Tuan Muda"
Sindiran penuh kebenaran itu membuat Rinjani bungkam, dia menatap Freya dengan tajam. Rasanya masih tidak menyangka kalau Freya akan mengatakan hal itu yang jelas sedang menyindir dirinya yang sampai saat ini belum bisa mendapatkan Arven, padahal jelas dia sudah menggunakan kekuasaan Ayahnya sendiri.
"Jangan sombong kamu! Lihat saja, sebentar lagi kau akan mendapatkan undangan pertunangan aku dan Tuan Muda. Lagian sekarang dia sedang menyelesaikan pekerjaannya di luar negara, jadi masih belum siap untuk melaksanakan pertunangan kami" tekan Rinjani.
"Luar negara?" ucap Freya tanpa sadar, dia ingat jika dulu sebelum dirinya mengakhiri semuanya dengan Arven, pria itu pernah mengatakan kalau dia mendapatkan tawaran bagus di luar negara untuk satu tahun kedepan. Tapi Arven tidak mau mengambilnya, karena tidak mau berjauhan dengan Freya. Apa mungkin masih tawaran yang sama?
"Ya, apa Tuan Muda tidak bilang pada mantan pacar kontraknya? Masa si? DIa bahkan berpamitan padaku loh" ucap Rinjani sambil tertawa pelan.
Mendengar hal itu, membuat Freya terdiam. Dadanya begitu sesak mengingat jika sekarang bahkan dia tidak akan bertemu lagi dengan Arven, meski tidak sengaja. Karena pria itu sudah pergi jauh dari negara ini.
Rinjani dan kedua temannya langsung pergi begitu saja ketika melihat Freya hanya diam saja. Freya yang masih shock dengan kabar yang baru saja dia terima. Sampai saat ini masih tidak percaya kalau akhirnya Arven akan menghindar sejauh itu darinya.
Freya menunduk, dia mengusap air matanya yang menetes begitu saja. Sampai saat ini, sungguh dia tidak bisa melupakan Arven dan segala hal saat bersama dengan pria itu. Namun sekarang, Arven telah pergi jauh dan rasanya tidak akan mungkin mereka akan bertemu kembali.
"Semuanya sudah terjadi dan menjadi keputusanmu. Tidak perlu untuk menyesalinya"
Begitulah cara Freya menyadarkan dirinya sendiri.
********
"Tuan Muda, kita sudah sampai"
__ADS_1
Hendrick membangunkan Arven yang tertidur selama berada di dalam pesawat. Bahkan sebuah foto yang sejak tadi dia genggam dan peluk, masih belum terlepas dari tangannya. Nyatanya dia hanya sedang menghindar, karena hatinya masih menjadi milik wanita yang sama.
Arven membuka kedua matanya, dia mengucek pelan matanya yang terasa perih. Bahkan dalam tidurnya, dia bermimpi pergi berdua dengan Freya menggunakan pesawat ini untuk berbulan madu. Hal yang rasanya tidak mungkin terjadi.
"Kita sudah sampai ya"
Hendrick mengangguk, dia merasa sangat prihatin melihat keadaan Tuannya saat ini yang sudah kehilangan gairah dan semangat hidupnya lagi sejak berpisah dengan Freya.
"Mari kita turun, Tuan" ucap Hendrick.
Arven mengangguk, mereka pun segera turun dari pesawat dan pergi menuju Apartemen untuk tempat tinggal mereka selama disini. Saat sudah sampai di Apartemennya, Arven langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tangannya yang masih menggenggam sebuah foto.
Foto itu adalah foto Arven dan Freya yang sengaja dibuat setelah waktu itu Mama yang datang ke Apartemennya dan bilang kalau Apartemen Arven masih terlihat kosong dan tidak ada foto mereka berdua sebagai sepasang kekasih. Sebelum sandiwara pacar kontrak ini ketahuan.
Foto itu yang Arven bawa, hanya untuk mengingatkan kalau dirinya pernah sampai secinta itu pada seorang perempuan. Bahkan sampai saat ini perasaan cintanya masih belum pudar dan hilang.
Arven menatap langit-langit kamar dengan helaan nafas pelan. Rasanya masih terlalu bingung dan kacau ketika dia mengingat lagi tentang banyak kenangan yang dilaluinya bersama dengan Freya. Gadis pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Entah kebodohan apa yang aku pikirkan. Tapi aku hanya berharap suatu saat nanti kita akan bisa bersama kembali, dan dia bisa benar-benar mencintaiku dengan tulus, bukan hanya karena merasa bersalah dan berhutang budi saja"
Arven hanya ingin dicintai oleh Freya dengan tulus. Karena ucapan Freya waktu itu ketika dia bilang kalau dirinya tidak pernah benar-benar mencintai Arven, cukup membuat hati Arven sangat hancur.
Aku mencintaimu, sampai saat ini masih tetap mencintaimu.
__ADS_1
Bersambung