
Akhirnya Arven memang sudah diizinkan untuk pulang setelah di rawat cukup lama di rumah sakit ini. Perkembangannya yang membaik dan juga dia yang sudah benar-benar terlihat pulih. Hanya perlu datang untuk pemantauan Dokter saja.
"Akhirnya Arven, kamu bisa bebas dari rumah sakit juga" ucap Mama yang memeluk anaknya dengan tangisan haru. Sudah hampir dia putus asa melihat keadaan Arven saat itu.
"Iya Ma, semua ini berkat malaikat tak bersayap yang menolong aku" ucap Arven, bayangan wajah Freya langsung terlintas dalam ingatannya.
Mama mengangguk, dia menatap anaknya dengan begitu lekat. Senyum penuh rasa syukur terlihat jelas di wajahnya. "Ya, orang yang telah mendonorkan ginjalnya untuk kamu, adalah sosok malaikat yang mempunyai hati begitu baik"
Arven hanya mengangguk saja, dia juga tidak pernah menyangka jika lagi-lagi hanya Freya yang sanggup berkorban sejauh ini untuknya. Membuat Arven bertekad untuk tidak melepaskan wanita itu lagi. Karena hatinya saja sudah menjadi milik Freya seutuhnya.
"Sekarang, apa kau akan segera pulang ke Indonesia? Papa juga tidak bisa lebih lama disini karena masih banyak pekerjaan yang harus Papa selesaikan" ucap Papa.
Arven menggeleng pelan, dia tersenyum menatap orang tuanya. "Aku tidak akan kembali dulu, masih ada yang harus aku selesaikan disini. Jadi aku akan pulang setelah urusanku selesai disini"
Hendrick langsung menatap ke arah Arven, padahal jelas dia sendiri yang mendengar kalau setelah sembuh, Arven akan segera kembali ke tanah air. Apa mungkin karena proyek terakirnya belum selesai ya? Gumamnya dalam hati.
"Baiklah, kalau begitu kamu baik-baik disini. Jangan sampai sakit lagi, kamu harus selalu sehat. Lihatlah Papamu ini sudah tua, dan kamu sudah seharusnya menggantikan Papa di perusahaan" ucap Papa.
Arven hanya mengangguk.
"Kami berencana akan pulang besok pagi, sudah pesan tiket juga" ucap Mama.
"Baiklah, sekarang sebaiknya kalian istirahat saja dulu. Aku mau berbicara sebentar dengan Hendrick" ucap Arven.
Dan setelah orang tuanya masuk ke dalam kamar tamu yang berada di Apartemennya ini. Arven segera mengajak Hendrick untuk pergi ke Apartemennya yang berada di sebrang Apartemen yang ditinggali oleh Arven.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Hendrick, dia mengambilkan minum dan menaruhnya di atas meja depan sofa yang di duduki oleh Arven.
__ADS_1
Arven menghela nafas pelan, dia memang tidak akan bisa bercerita pada siapapun. Hanya pada Hendrick dia berani untuk bercerita. "Sebenarnya aku sudah tahu siapa pendonor yang sebenarnya"
Hendrick langsung menoleh pada Arven, dia begitu terkejut mendengar ucapan Arven barusan. "Sudah mengetahuinya? Apa kau sudah bertemu juga dengannya?"
Arven menoleh dan menatap Hendrick dengan heran. Kenapa dari nada bicaranya seolah Hendrick tidak penasaran siapa pendonor sebenarnya untuk Arven. Apa mungkin dia sudah mengetahui siapa pendonor untuk Arven itu.
"Kau tahu kalau sebenarnya yang mendonorkan ginjalnya untuk aku adalah Freya?" tanya Arven dengan tatapan tajam.
Hendrick menghembuskan nafas kasar, lalu dia mengangguk pelan. "Memang dia yang mendonorkan ginjalnya untukmu"
#######
Hendrick yang berjalan menuju ruangan Arven, langsung terdiam saat melihat seorang wanita yang berdiri mengintip di depan pintu ruangan Arven. Membuat dia langsung menghampirinya.
"Freya?"
Freya yang terlihat sangat terkejut karena bertemu dengan Hendrick disini. Padahal dirinya sengaja tidak ingin ada yang tahu kalau dirinya berada disini.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Hendrick.
Namun dia tidak mendapat jawaban, Freya malah menarik tangannya dan membawanya ke taman rumah sakit. Duduk berdampingan di sebuah bangku taman. Dan Freya menceritakan tujuannya datang kesini pada Hendrick.
"Jadi kau sengaja datang untuk menjadi donor untuk Arven?"
Freya mengangguk, memang itu tujuan utamanya datang kesini. "Saat di Indonesia, ternyata ada satu rumah sakit yang melakukan pemeriksaan kecocokan untuk Arven. Dan aku sudah ikut tes disana, imbalan yang sangat besar membuat banyak sekali orang yang berniat untuk mendonorkan ginjalnya. Namun beruntung aku yang cocok dengannya, membuat aku tidak pikir lagi untuk segera datang kesini"
"Aku tidak menyangka jika kisah kalian akan seperti ini. Bahkan kau yang rela mendonorkan ginjalmu tanpa meminta imbalan" ucap Hendrick.
__ADS_1
Saat itu dia mendapatkan telepon dari anak buahnya, dan mereka bilang telah menemukan donor yang cocok untuk Arven. Namun orang ini menolak imbalan yang sudah disediakan untuk siapa saja yang memiliki kecocokan dengan Arven dan juga mau mendonorkan ginjalnya itu.
"Tapi Tuan, tolong jangan sampai ada yang tahu tentang ini. Cukup kita berdua dan pihak rumah sakit saja yang mengetahuinya. Aku tidak siap untuk bertemu dengan Arven" ucap Freya dengan wajah memohon.
Hendrick terdiam melihat tatapan memohon dari Freya, membuat dia tidak tega juga. "Mungkin untuk sementara aku bisa menutupi semuanya, tapi kedepannya aku tidak yakin kalau rahasiamu ini akan aman. Karena pastinya Tuan Muda juga akan mencari tahu tentang pendonornya"
########
Arven langsung mencengkram kerah kemeja yang dipakai oleh Hendrick. "Kenapa kau tidak melarangnya untuk tidak jadi mendonorkan ginjalnya untukku. Kenapa kau malah membiarkannya begitu saja"
"Karena yang aku pikirkan juga hanya kesembuhanmu, lagian Freya yang siap menjadi pendonornya" kata Hendrick, menjawab dengan santai.
Arven langsung menghempaskan cengkraman tangannya di kerah kemeja yang dipakai Hendrick itu, sampai tubuh Hendrick sedikit oleng karena ulahnya.
"Kau tahu, sekarang kesehatan dia mungkin akan terganggu karena hanya hidup dengan satu ginjal saja. Aku tidak mau sampai hal itu terjadi, lebih baik aku mati daripada harus menjadikan dia korban hanya karena ingin menolongku" ucap Arven dengan mengusap wajah frustrasi.
Arven yang tidak pernah berpikir kalau ternyata Freya yang akan menjadi pendonor untuknya. Jika pada awalnya dia sudah tahu, maka dia tidak akan menerima donor ginjal itu. Karena Arven tidak mau kalau sampai Freya yang harus menanggung semuanya. Hidup dengan satu ginjal, tidak akan mudah bagi Freya.
Hendrick menepuk punggung Arven. "Mungkin ini semua adalah bentuk cintanya padamu. Dia hanya ingin kalau kamu bisa merasakan cintanya. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah membuatnya bahagia, dan jangan sampai membuatnya sakit dan merasa jika pengorbanannya sia-sia"
Arven hanya diam saja, tentu saja setelah ini dia tidak akan pernah melepaskan Freya lagi apapun yang terjadi. Dia hanya ingin membuat Freya bahagia.
"Aku akan segera memperbaiki hubunganku dengannya dan aku ingin segera memilikinya, seutuhnya" ucap Arven.
Hendrick mengangguk sambil tersenyum tipis, melihat jelas semangat yang membara di mata Arven. "Aku akan selalu mendukung kalian"
Bersambung
__ADS_1