
Freya berjalan ke arah kamar disana, dia berniat untuk mandi dan menyegarkan pikirannya ini dengan berendam sebentar di bak mandi. Bersyukur karena Arven yang selalu mengerti dirinya dan selalu mencoba menenangkan dirinya tentang semua masalah yang saat ini sedang dihadapi oleh mereka.
Arven yang selesai lebih dulu langsung keluar dari kamarnya. Dia duduk di sofa menunggu Freya selesai mandi. Arven menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, dia menatap langit-langit dengan senyuman penuh kebahagiaan. Meski tidak bisa dipungkiri kalau dirinya juga bingung bagaimana tentang hubungannya ini. Tapi apapun yang terjadi, Arven akan selalu memperjuangkan cintanya pada Freya.
Tangan dingin yang tiba-tiba menutup matanya membuat Arven tersenyum. Wangi aroma sabun dan shampo masih begitu tercium menyeruak ke indra penciumannya.
"Sayang, aku tidak akan pernah menebak orang lain. Memangnya siapa orang yang berani seperti ini padaku" ucap Arven.
Freya tertawa pelan, memang benar apa yang dikatakan oleh kekasihnya ini. Karena memang Arven adalah orang yang begitu terpandang, keluarganya juga memang bukan orang yang sembarangan. Arven yang selalu dihormati setiap orang. Orang-orang yang selalu menundukan kepalanya dengan hormat setiap bertemu dengan Arven.
Freya duduk disamping Arven dan merangkul lengannya, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu Arven. "Benar juga ya, orang lain mana berani melakukan hal seperti ini padamu. Tuan Hendrick saja sepertinya tidak akan pernah berani melakukan ini padamu"
Arven langsung mengecup kepala Freya yang berada di bahunya. "Kalau sampai dia berani, sudah aku pecat"
Freya langsung memukul pelan kaki Arven. "Kau ini, jangan terlalu keras begitu sama pekerja kamu, kasihan"
Arven hanya tersenyum saja, meraih tangan Freya dan menggenggamnya. "Sayang, kamu berendam terlalu lama ya, tangan kamu dingin sekali"
Freya terdiam, dia memang terlalu banyak berpikir sampai dia tidak sadar kalau air di dalam bak mandi itu sudah dingin. Membuat tubuhnya sedikit mengigil tadi.
"Aku hanya terlalu senang saja saat berendam tadi. Rasanya tenang, sampai tidak sadar kalau airnya sudah dingin" ucap Freya.
Arven langsung menatap Freya dengan lekat, dia memegang pipi Freya yang juga terasa dingin. "Sayang, lain kali jangan kayak gini ah. Nanti kalau kamu sakit gimana? Aku tidak bisa setiap saat bersamamu"
__ADS_1
Freya hanya tersenyum mendengar ucapan Arven barusan. Matanya mulai berkaca-kaca, karena sikap Arven ini sungguh membuatnya cukup tersntuh. Bagaimana Arven yang begitu perhatian padanya.
"Aku tidak akan sakit karena terlalu lama mandi. Kehujanan saja sudah biasa dan terkadang tidak langsung sakit" ucap Freya sambil terkekeh pelan.
Pulang bekerja malam saat dia masih bekerja di Restaurant milik keluarga Haura. Namun dirinya juga tidak akan pernah mengeluh, meski sering kali pulang malam dengan basah kuyup karena hujan. Hati dan tubuhnya sering dikuatkan dengan keadaan yang memaksanya untuk tetap tegar.
Arven menggeleng pelan, dia mengelus pipi Freya dengan lembut. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan kamu melakukan hal ini lagi. Aku tidak mau kalau sampai kamu sakit"
Freya hanya tersenyum mendengar itu, dia memegang tangan Arven yang berada di pipinya. Rasanya memang dia begitu senang ketika dia bisa merasakan sebuah perhatian dan kepedulian seseorang padanya. Masih tidak menyangka kalau sekarang dia bisa bersama dengan Arven dan bisa begitu dicintai seperti ini.
"Terima kasih ya Sayang, sudah memberikan cinta kamu untuk aku" ucap Freya, mencium telapak tangan Arven.
Arven langsung menatap Freya dengan lekat dan dengan tatapan yang begitu serius. "Pokoknya, apapun yang akan terjadi nantinya. Jangan sampai kamu meninggalkan aku. Karena yang akan membuat aku jadi lemah, ketika kau tidak berada disampingku"
******
Seperti biasanya Freya selalu membereskan semua urusan rumah sebelum dia pergi kuliah. Bibi yang bekerja di rumah tetangga yang cukup kaya di wilayah ini. Freya hanya perlu tahu diri dan membantu semua pekerjaan rumah, karena dirinya yang hanya menumpang di rumah Bibi.
Terkadang Freya ingin marah pada takdirnya sendiri. Kenapa harus menjadi seperti ini, kenapa Ibunya yang haus tega pergi meninggalkan Freya dan mendiang Ayahnya yang sedang sakit. Hingga sekarang Freya harus membebani Bibi.
"Frey, aku berangkat duluan ya"
Freya berbalik dan tersenyum pada Sinta. DIa mengangguk saja dan membiarkan Sinta pergi. Freya segera menyelesaikan pekerjaan rumahnya lalu pergi ke Kampus. Menggunakan motornya menuju Kampus seperti biasa. Sekarang saat Freya masuk ke dalam Kampus, suasana yang berubah berbeda sejak Arven yang mengumumkan tentang hubungan mereka.
__ADS_1
"Freya, ayo ke kelas bareng"
Freya sedikit terkejut saat melihat teman kampusnya yang biasanya selalu cuek dan menganggap Freya tidak terlihat. Tapi sekarang malah mengajaknya untuk pergi bareng ke kelas saat Freya baru saja sampai di parkiran Kampus. Memang sejak Arven mengumumkan tentang hubungannya semua teman Kampusnya mendadak berubah padanya.
"Tidak perlu orang munafik seperti kalian. Freya sudah mempunyai teman yang tulus kok" ucap Haura yang baru saja datang dan langsung merangkul bahu Freya. "...Ayo kita ke kelas Frey"
Freya hanya tersenyum tipis, dia mengangguk pelan pada teman Kampusnya tadi. Lalu segera pergi bersama dengan Haura.
"Ish, mereka itu memang terlihat sekali munafiknya. Setelah mengetahui kamu pacaran sama Tuan Muda, sekarang langsung berubah bak sama kamu. Dasar munafik"
Freya hanya tersenyum mendengar omelan sahabatnya itu yang ikut kesal dengan semua temannya. "Yaudahlah, namanya juga orang pasti beda-beda sifatnya"
Freya hanya perlu banyak bersyukur karena mempunyai sahabat seperti Haura. Sahabat yang begitu baik dan mau menerima keadaan Freya apa adanya. Sama sekali tidak pernah memandang Freya karena statusnya dan keadaannya.
"Oh ya, bagaimana hubunganmu dan Tuan Muda? Pastinya semakin baik dong, makanya sekarang udah di umumin aja tentang hubungan kalian ini. Apa aku bilang, kalau akhirnya kamu pasti menikah sama Tuan Muda" ucap Haura sambil merangkul Freya.
"Entahlah, kita tunggu saja alur cerita takdir selanjutnya" ucap Freya sambil tersenyum, karena dia tidak tahu kedepannya akan seperti apa.
"Takdir kamu itu memang bahagia bersama Tuan Muda" ucap Haura.
Freya hanya tersenyum saja, namun di dalam hatinya dia mengaminkan ucapan Haura barusan. Karena dia juga sangat ingin jika kisahnya berakhir bahagia bersama dengan Arven. Meski merasa tidak yakin akan seperti itu, apalagi ketika restu orang tua Arven yang menjadi penghalangnya.
Bersambung
__ADS_1