Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#64# Berjuang Sama-sama Dan Memulai Dari Awal


__ADS_3

Freya menyimpan segelas kopi untuk Arven yang sedang duduk di sofa ruang tengahnya. Saat ini Arven terlihat sekali sedang kacau. Bagaimana tidak, dirinya sudah berusaha untuk mendapatkan restu orang tuanya, namun tetap tidak bisa. Dan sekarang dia malah harus kehilangan semua yang dirinya miliki. Pekerjaannya yang mungkin harus dia mulai dari nol.


Freya duduk disamping Arven, kedua tangannya bertumpu di bahu Arven dengan dagunya yang bersandar disana. Menatap kekasihnya itu dengan lekat. "Sayang, apa tidak sebaiknya kamu bicara berdua dengan Papa kamu dan bicarakan tentang ini. Jangan sampai kamu yang malah harus kehilangan semuanya"


Arven langsung menoleh pada Freya, dia mengecup pipi Freya dengan lembut. "Aku memilih kehilangan kekayaan daripada harus kehilangan kamu lagi. Karena selama ini aku belum pernah memiliki kebahagiaan seperti ini, saat aku belum bertemu denganmu. Meski kekayaan mengelilingiku"


Freya memeluk Arven, tangannya melingkar di dada lebar pria itu. Rasanya memang Freya harus begitu bersyukur saat diperjuangkan sebesar ini oleh pria seperti Arven. Rasanya tidak mungkin lagi kalau Freya masih meragukan perasaan Arven padanya. Karena nyatanya terlihat jelas jika perasaan Arven itu begitu besar untuknya.


"Kita berjuang sama-sama ya, kita mulai dari awal"ucap Freya.


Arven mengangguk, dia merangkul bahu Freya dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Aku akan mulai mencari pekerjaan baru. Kau tenang saja, aku masih punya cukup tabungan dan satu Apartemen. Jadi tidak mungkin kau akan menderita saat menikah denganku yang sekarang ini menjadi pengangguran"


Freya terkekeh pelan mendengar ucapan Arven barusan. Tentu saja dia tidak pernah takut menderita saat dia hidup bersama Arven. Karena ketakutannya hanya karena dia yang kehilangan Arven.


"Aku juga kerja, jadi aku punya tabungan. Bisa cicil rumah ini juga" ucap Freya.


Arven menatap Freya dengan lekat, dia memang belum tahu tentang kehidupan Freya saat ini. "Jadi kau bekerja dimana dan sebagai apa? Aku belum tahu duniamu yang sekarang"


"Nanti kamu antarkan saja aku ke Kantor ya biar kamu tahu tentang dunia kerjaku" ucap Freya.


Arven tersenyum saja, dia mengelus pipi Freya dengan sedikit merapikan anak rambutnya yang keluar dari ikatan. Selama tiga tahun ini dia tidak bersama Freya, namun hatinya sama sekali tidak bisa berpaling darinya.


"Minum dulu kopinya, Sayang. Mau makan tidak?" tanya Freya.


Arven menggeleng pelan. "Aku masih kenyang. Sayang, kamu biasa tinggal sendiri disini?"


Freya mengangguk, dia menatap ke sekeliling ruangan ini. "Kalau Sinta dan Haura ada waktu, terkadang mereka akan menginap disini. Kalau tidak, ya aku tinggal sendirian saja"

__ADS_1


Arven tersenyum, dia merangkul bahu Freya dan membawanya ke dalam pelukannya. "Sekarang mereka tidak datang keisni?"


Freya menggeleng pelan, dia mendongak dan mengecup dagu Arven. "Haura masih di luar kota untuk cabang Restaurant keluarganya yang baru. Kalau Sinta memang sengaja aku larang datang kesini, kalau dia ada disini pasti selalu sinis sama kamu. Dia itu emang begitu, maafin ya"


Arven tersenyum saja, dia juga merasa wajar kalau sikap Sinta akan seperti itu. Mengingat yang dilakukan Papa pada keluarga Freya ini memang keterlaluan.


"Tidak papa, aku bisa maklum sikap Sinta yang seperti itu padaku. Oh ya, besok kita pergi ke rumah Bibi. Aku belum benar-benar bicara tentang pernikahan kita nanti" ucap Arven.


Freya mengangguk, namun senyumannya seolah pudar begitu saja. Ada hal yang dia pikirkan ketika dia mengingat tentang sebuah pernikahan.


"Sayang, ada apa?" tanya Arven ketika melihat wajah sedih Freya.


Freya menghembuskan nafas kasar. "Aku hanya ingin pergi ke makam Ayah dan Paman untuk minta restu pada mereka"


Arven mengangguk, dia menangkup wajah Freya lalu memberikan kecupan di keningnya. "Tentu saja, kita akan datang ke makam mereka ya"


"Nanti acara pernikahannya biasa saja ya, jangan terlalu mewah" ucap Freya.


Arven langsung menatapnya dengan alis berkerut. "Memangnya kenapa? Bukankah momen ini hanya satu kali seumur hidup. Harusnya kita buat sebagus mungkin agar lebih berkesan"


"Berkesan saja ketika kita memang menikahi orang yang kita cintai. Tidak ada momen yang tidak berkesan saat kita bersama dengan orang yang kita cintai" ucap Freya.


Arven terdiam, mungkin memang benar apa yang Freya katakan barusan. Semua momen akan terasa berkesan saat kita bersama dengan orang yang dicintai.


Saat keduanya masih asyik ngobrol dan membicarakan tentang persiapan pernikahan nanti. Suara dering ponsel milik Freya membuatnya sedikit terkejut. Dia mengambil ponsel di atas meja dan melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini.


"Siapa?" pertanyaan penuh nada cemburu dan curiga itu membuat Freya langsung menoleh pada Arven dan tersenyum padanya. Dia langsung menunjukan layar ponselnya yang menyala pada Arven.

__ADS_1


"Haura, Sayang. Memangnya siapa juga yang akan menelepon aku kalau bukan mereka berdua. Lagian Haura sudah hampir sebulan di luar kota, aku jadi merindukannya" ucap Freya.


"Apa kau juga merindukan aku?"


Pertanyaan Arven itu membuat Freya menggeleng pelan, dia tidak menjawabnya namun malah memberikan kecupan di pipi Arven.


"Aku angkat dulu teleponnya, aku loudspeaker deh"


Arven hanya tersenyum saja, dia selalu merasa jika Freya begitu menghargainya. Seolah Freya memang ingin menunjukan pada Arven jika tidak ada yang disembunyikan oleh dirinya.


"Hallo Haura, ada apa nih? Kapan kamu pulang?" ucap Freya ketika sambungan telepon sudah tersambung.


"Frey, gawat nih. Pak Direktur yang waktu itu kencan sama kamu tapi gagal, dia terus nagih janjinya sama aku. Katanya pengen diulang kencan buta dengannya"


Freya terdiam, dia langsung menoleh pada Arven yang langsung melengos kesal. Sekarang dia menyesal sekali karena sudah mengusulkan untuk loudspeaker saat menelepon. Tadinya agar tidak ada yang jadi curiga. Tapi kalau tahu begini, Freya tidak akan melakukan ini.


"Gak mungkin bisa, memangnya kenapa dia malah ingin diulang untuk kencan lagi. Kan sudah dibatalkan" ucap Freya, melirik pria disampingnya yang menatap tajam padanya.


"Katanya dia sudah tertarik sama kamu ketika dia melihat foto kamu. Aku juga bingung, kalau tidak mau, dia akan samperin kamu ke Kantor. Aduh, bagaimana ini Freya?"


Freya terdiam, dia mendengar jelas nada khawatir dan panik dari suaranya. Freya jadi bingung sekarang. "Nanti bicarakan lagi saja pas kamu sudah pulang ya. Aku juga bingung sekarang"


"Yaudah deh, nanti aku pulang minggu depan. Aku akan coba ulur waktu pada orangnya"


Freya mematikan sambungan teleponnya setelah dia bisa meyakinkan Haura untuk dibicarakan lagi nanti soal ini. Tapi sekarang masalahnya dia harus menghadapi Arven yang sedang cemburu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2