
Freya benar-benar malu dengan Dokter perempuan yang sekarang sedang memeriksa keadaannya ini. Berasa sedang kepergok mencuri, sungguh Freya yang tidak pernah bisa menahan sikap Arven satu ini. Selalu menciumnya dengan tiba-tiba seperti ini.
"Sepertinya semuanya sudah baik, bisa pulang besok pagi. Tapi untuk pola makannya tetap harus di jaga ya. Jangan sampai melupakan waktu makan" ucap Dokter.
Freya mengangguk saja, mungkin karena efek pikiran juga yang membuatnya tidak berselera makan. Bahkan bisa lupa makan seharian hanya karena sibuk dengan pekerjaan.
"Karena anda baru saja melakukan operasi, sebaiknya lebih banyak makan makanan yang mudah dicerna ya. Dan juga bisa diatur waktu kerjanya, jangan sampai banyak begadang"
Penjelasan Dokter barusan membuat Freya mengangguk saja. "Baik Dok, terima kasih"
Dan setelah Dokter keluar dari ruangan itu, membuat Freya sedikit menghela nafas lega. Rasa malunya masih tersisa. Freya menoleh dan memukul lengan suaminya itu. "Kamu si, kenapa cium-cium aku sembarangan. Bikin malu aja"
Arven hanya terkekeh pelan, dia bahkan terlihat biasa saja ketika Dokter masuk ke dalam ruangan ini. Seolah tidak merasa malu sedikit pun.
"Kenapa si Sayang, memangnya kalau aku cium kamu harus izin dulu? Kamu calon istri aku" ucap Arven.
Freya memutar bola mata malas, dia tidak mengerti apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi Arven sudah menyebutnya sebagai calon istri saja. "Memangnya aku sudah mengiyakan untuk menjadi istrimu? Kamu saja belum meminta aku secara langsung pada keluargaku"
"Kalau seperti itu, aku akan menemui Bibi segera. Aku akan membuat dia mengetahui kalau aku memang tulus mencintai keponakannya ini" ucap Arven.
Freya hanya tersenyum saja, entah pilihannya akan benar atau salah. Tapi untuk saat ini dia memang merasa bahagia ketika bisa bersama dengan Arven.
"Kalau nanti Bibi tidak bisa menerima kamu, bagaimana?"
Arven menatap Freya dengan lekat, dia mengecup keningnya dengan lembut. "Aku akan berusaha sampai Bibi setuju dengan hubungan kita ini"
__ADS_1
*********
Akhirnya pagi ini Freya bisa kembali ke rumahnya. Arven yang terlalu mengkhawatirkannya sampai tidak mau pulang, dia bahkan meminta Hendrick untuk membawakan baju ganti untuknya. Sementara Sinta sudah lebih dulu pulang karena dia harus bekerja.
"Sayang, kamu makan dulu terus minum obatnya" ucap Arven yang membawakan semangkuk bubur ke dalam kamar Freya.
Freya menatap Arven yang sedang berjalan ke arahnya. Rasanya masih tidak percaya ketika dia melihat sosok pria itu lagi. Bahkan Freya tidak pernah membayangkan jika Arven akan mengetahui rumahnya ini, apalagi sekarang yang tinggal di rumahnya ini.
"Apa kamu tidak pulang dulu ke rumah?" tanya Freya, karena sejak semalam Arven menjaganya di rumah sakit.
Arven menyimpan nampan yang dibawanya di atas nakas, lalu dia duduk di pinggir tempat tidur. "Aku belum pulang ke rumah sejak kemarin"
"Kenapa?"
Freya beringsut mendekati Arven, dia meraih tangannya dan menggenggamnya. "Kamu harus banyak komunikasi sama Papa kamu. Jangan sampai hubungan kalian jadi rusak dan renggang"
Arven mengecup tangan Freya, tentu saja dia sangat menghargai Freya yang selalu memberikannya pengertian tentang keadaannya dan Ayahnya. "Seandainya Papa bisa merestui hubungan kita, maka aku juga tidak akan pernah melawannya. Tapi dia yang tidak pernah mau merestui hubungan kita ini yang membuat aku malas bertemu dengannya"
Freya bisa mengerti perasaan Arven, pastinya mengetahui kenyataan yang ada akan membuat dia marah pada Ayahnya sendiri. Karena merasa Ayahnya bahkan tidak mendukung kebahagiaannya sendiri.
"Tapi sekarang juga bukan hanya kamu yang harus meminta restu pada Bibi. Aku juga harus meminta restu pada orang tua kamu" ucap Freya.
Mendengar hal itu membuat Arven langsung menatap Freya dengan lekat. "Sayang, kamu yakin? Aku rasa tidak mungkin Papa akan menerima hubungan ini. Aku tidak mau kamu di ancam lagi oleh Papa dan berakhir meninggalkan aku. Sayang, jangan lakukan ini ya"
Freya tersenyum, dia bisa melihat bagaimana ketakutan di balik tatapan mata Arven. Freya mengelus pipi Arven dengan lembut. "Sayang, aku tidak akan lagi meninggalkan kamu. Kalaupun orang tua kamu tidak merestui, maka aku akan tetap bertahan bersama dengan kamu"
__ADS_1
"Janji tidak akan mengakhiri hubungan kita lagi, apapun yang terjadi nanti? Aku hanya ingin terus bersama denganmu, apapun yang terjadi nantinya"
Freya mengangguk, dia mengerti bagaimana perasaan Arven. Sebenarnya dia juga tidak mau kalau sampai hubungannya akan kembali berakhir. Freya akan mencoba untuk mempertahankan hubungan ini selamanya. Apapun yang terjadi.
"Nanti setelah aku sembuh, kita pergi dan temui kedua orang tua kamu" ucap Freya.
Dan benar saja, setelah keadaan Freya benar-benar stabil. Maka dia langsung mengajak Arven untuk menemui orang tuanya. Meski dia sedikit gugup dan takut saat ingin bertemu dengan orang tua Arven. Tapi Freya tetap harus melakukan ini, setidaknya jika mereka tetap tidak merestui hubungan mereka, maka setidaknya Freya pernah datang untuk meminta restu padanya.
"Sayang, kalau nanti disana ada perkataan Papa yang membuat kamu terluka. Maka kita langsung pulang saja dan jangan pernah menemuinya lagi" ucap Arven.
Freya hanya tersenyum saja, dia masih belum bisa meredam amarah Arven saat ini. Mungkin memang kekasihnya itu selalu saja merasa marah ketika mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Ayahnya hingga hubungan mereka berakhir saat ini.
"Kita berdo'a saja kalau Papa kamu akan merestui hubungan kita kali ini. Memangnya kamu tidak mau kalau sampai kita menikah tapi atas restu orang tua kamu" ucap Freya, menatap Arven yang sedang mengemudi itu.
"Semua orang juga menginginkan itu, karena mau bagaimana pun aku juga seorang anak yang ingin mendapatkan restu orang tua. Tapi sayangnya mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya aku inginkan. Mereka hanya memikirkan tentang keinginan mereka sendiri" ucap Arven, terdengar nada sedih dari setiap kata yang terucap.
"Kalau begitu, kita akan berusaha dulu ya. Kalau memang orang tua kamu tetap tidak merestui, maka kita sudah pernah berusaha. Hasilnya kita serahkan saja pada orang tua kamu" ucap Freya lembut.
Arven tidak menjawab lagi, karena memang tidak mungkin orang tuanya akan merestui mereka begitu saja. Arven tahu jelas bagaimana Ayahnya yang keras itu.
Sampai di rumah mewah ini, Freya hanya terdiam beberapa saat. Dulu dia pernah datang kesini ketika dia masih menjadi pacar kontrak Tuan Muda. Tapi sekarang dirinya telah menjadi pacar sungguhan untuk Arven. Bahkan mereka akan segera menikah sebentar lagi.
Arven meraih tangan Freya dan menggenggamnya. "Tenang ya, aku akan selalu berada di pihak kamu. Kalau mereka memang tidak bisa merestui kita, maka kita akan tetap menikah"
Bersambung
__ADS_1