
Dering ponsel membuat Freya langsung meraih ponselnya di dalam tas. Segera dia mengangkat telepon dari suaminya itu.
"Hallo Sayang, iya ada apa?"
"Hari ini aku tidak akan pergi ke Kantor kamu, aku ada urusan sebentar. Kamu pulang naik taksi saja"
Freya mengangguk, meski sadar Arven tidak akan melihatnya. "Memangnya kamu harus pergi kemana? Kok tidak bilang dari tadi pagi"
"Hanya ada urusan mendadak saja"
"Oh yaudah, hati-hati ya"
Freya memutuskan sambungan telepon, dia segera menyimpan kembali ke dalam tasnya.
"Freya, itu ada yang cari kamu di Lobby"
Freya langsung mengerutkan keningnya, menatap ke arah temannya itu karena merasa tidak ada yang membuat janji untuk bertemu dengannya. Tapi entah kenapa ada orang yang mencarinya.
"Siapa? Aku tidak merasa ada janji dengan siapapun"
"Aku juga tidak tahu, mungkin kamu lupa kali kalau hari ini ada janji dengan seseorang"
Akhirnya Freya pergi keluar untuk menemui orang yang mencarinya itu. Sampai ketika dia keluar dari lift, dia langsung terdiam melihat pria yang duduk disebuah sofa di Lobby Perusahaan.
"Kenapa dia datang lagi. Ah untuk suamiku tidak datang kesini, pasti akan menjadi huru-hara lagi kalau dia tahu ini"
__ADS_1
Freya berjalan perlahan menghampiri Reza yang sedang duduk di sofa itu. Ketika menyadari kehadiran Freya, Reza juga langsung berdiri dan tersenyum pada Freya.
"Hallo Frey, bisa bicara sebentar saja?"
Freya menghela nafas pelan, sebenarnya dia malas berbicara dengan Reza. Karena dia sadar kalau suaminya tidak akan suka. Tapi Freya juga harus menegaskan semuanya pada Reza agar pria itu tidak terus menemuinya seperti ini. Masih untuk karena hari ini Arven tidak datang untuk mengajaknya makan siang. Kalau dia datang dan melihat Reza ada disini, tentu saja semuanya akan menjadi sebuah masalah yang cukup besar.
"Baiklah, kita mau makan dimana?" tanya Freya.
"Dimana saja, kamu yang tentukan tempatnya"
Freya mengangguk, dan akhirnya mereka pergi menuju tempat makan yang ditentukan oleh Freya. Sampai di sebuah Restaurant, mereka langsung memesan makanan dan duduk menunggu di meja di ujung ruangan.
"Frey, maaf banget kalau kemarin pertemuan kita masih terlalu mendadak. Tapi aku benar-benar ingin tahu tentang kehidupan kamu selama ini" ucap Reza yang membuka pembicaraannya.
Freya hanya menghela nafas pelan. "Memangnya apa yang ingin kamu ketahui? Kehidupan aku ya masih seperti ini saja, dan mungkin bedanya karena sekarang aku sudah mempunyai suami"
Reza terdiam, dia masih tidak percaya kalau Freya sudah menikah. Sampai kemarin dia melihat pria yang mengaku sebagai suaminya, membuat Reza bahkan tidak bisa fokus lagi. Dia ingin mendengar semua penjelasannya dari Freya.
"Frey, apa kamu dipaksa menikah dengannya? Dia adalah Arven Widianto 'kan? Aku pernah dengar kalau dia itu sudah bertunangan dengan Katlyn, kenapa bisa sekarang dia menikah denganmu? Kalau memang kamu dipaksa sama dia, aku akan bantu kamu, Frey" ucap Reza, dia ingin meraih tangan Freya di atas meja, namun gadis itu langsung menghindarinya.
"Maaf Reza, aku tidak di paksa sama sekali oleh Arven. Aku memang mencintainya dan dia juga mencintaiku. Jadi kamu jangan salah sangka" ucap Freya.
Reza langsung terdiam mendengar itu, masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Padahal dia sudah sangat yakin kalau Freya pasti dipaksa menikah oleh Arven. Tapi jawabannya barusan, justru membuat Reza terdiam seketika.
"Tapi kenapa Frey? Kenapa harus dia? Sementara saat teman kamu ingin mengadakan kencan buta, kenapa kamu malah tidak datang. Padahal aku sudah sangat senang sekali saat sudah melihat foto kamu saat itu. Aku ingin memulai semuanya Frey, dengan kamu"
__ADS_1
Freya sampai tertegun mendengar hal itu. Ya, mereka memang sangat dekat saat masih sekolah dulu. Bahkan tidak bisa dipungkiri jika Freya juga mengagumi sosok Reza yang pintar, baik dan sangat tampan. Namun, semuanya tidak lebih dari perasaan kagum saja. Hingga sekarang Freya mendengar ucapan Reza yang cukup mengejutkan.
"Jangan aneh kamu Reza, kita ini hanya teman. Dan kalau untuk berteman denganmu lagi, aku tidak papa. Tapi tolong jangan merubah pertemanan kita ini" ucap Freya.
Terlihat Reza yang menghela nafas pelan, seolah dia sangat kecewa dengan ucapan Freya barusan. "Kenapa Frey? Aku memang menyukaimu, sejak dulu aku sudah menyukaimu. Tapi sayangnya aku yang harus menuruti keinginan orang tuaku untuk kuliah di luar Negara, membuat aku menunda untuk mengungkapkan cinta padamu"
Sekali lagi, Freya lebih terkejut lagi saat ini, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. "Reza, bukankah kita sudah berteman cukup lama. Jadi mungkin yang kamu rasakan itu hanya karena kita sudah lama berteman dan sekarang baru bisa bertemu kembali. Bukan sebuah cinta yang sesungguhnya yang kamu rasakan padaku"
Reza menggeleng tegas. "Tidak Frey, yang aku rasakan memang sebuah cinta. Kamu harus percaya hal ini Frey, jika tidak ada persahabatan yang sempurna diantara wanita dan pria. Karena salah satunya akan merasakan perasaan yang berbeda. Dan aku yang merasakan hal itu, Frey"
Dan sekarang Freya semakin bingung harus melakukan apa. Ucapan Reza barusan benar-benar membuatnya bingung sampai tidak tahu harus melakukan apa sekarang ini. Sangat mengejutkan ketika Freya mendengar kalau Reza mencintainya.
"Reza, aku tahu kalau perasaan kamu itu tulus. Tapi kamu juga harus mengerti keadaan aku saat ini. Aku tidak mungkin bisa, Za. Aku sudah menikah, dan kamu pun tahu itu. Lebih baik sekarang kamu lupakan perasaan kamu itu padaku dan cari wanita lain yang nantinya akan mencintai kamu dengan tulus"
Reza hanya terdiam mendengar ucapan Freya barusan. Masih tidak percaya jika ungkapan cintanya ini tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya hanya karena dia yang datang terlambat untuk menemui Freya dan mengatakan semuanya. Hingga sekarang dia harus menerima kenyataan jika Freya sudah menikah.
"Aku pergi dulu Za, maaf karena sudah membuat kamu kecewa. Tapi aku juga tidak mau mengkhianati cinta tulus suamiku. Aku mencintainya"
Freya langsung pergi begitu saja ketika dia mengatakan itu. Dia tidak mau semakin memberikan sebuah harapan yang jelas akan semakin membuat Reza terluka. Jadi Freya memilih untuk pergi saja. Membiarkan Reza merenungi dan memikirkan semuanya.
Reza hanya diam, dia bahkan hanya mampu menatap punggung Freya yang perlahan menghilang di balik pintu utama Restaurant ini. "Aku terlambat mengatakan cinta hingga dia sudah menjadi milik orang lain"
Haura yang sejak tadi sudah di hubungi oleh Freya saat dia akan datang ke Restaurantnya ini. Perlahan dia berjalan ke meja Reza, menarik kursi dan duduk didepannya.
"Yang sabar ya Pak Direktur, nanti aku carikan lagi jodoh yang cocok buat kamu agar bisa melupakan sahabat saya itu"
__ADS_1
Bersambung