
Freya keluar dari kamar, dia melihat suaminya yang sedang duduk menyandar di atas sofa dengan mata terpejam. Terlihat sekali wajahnya yang sepertinya sedang lelah. Freya langsung mendekatinya dan duduk disamping Arven.
"Sayang, kenapa?" Tanya Freya sambil mengelus pipi suaminya.
Arven langsung terbangun dan menatap istrinya dengan helaan nafas pelan. "Tidak papa, aku hanya sedang lelah saja. Apa kamu tidak lelah? Tadi kamu main begitu banyak wahana"
Freya tersenyum dan menggeleng. "Aku senang, sudah lama tidak bisa bermain seperti itu. Sejenak bisa melupakan semua masalah pekerjaan. Iya 'kan?"
Arven mengangguk menyetujui, tentu saja dirinya juga tidak mungkin memberi tahu Freya tentang Papa yang masih saja bertindak untuk membuat Arven susah. Arven tahu tujuan Papa itu hanya agar dirinya menyerah dan akhirnya kembali padanya dan melepaskan Freya. Namun hal itu tidak akan pernah Arven lakukan.
"Kalau memang lelah, kamu bisa untuk berhenti bekerja saja" ucap Arven sambil mengelus kepala istrinya, mengecup pipinya sekilas.
"Sayang, kan aku sudah bilang kalau aku senang dengan pekerjaan ini. Jadi kalau lelah biasa saja, namanya juga kerja. Tapi aku masih belum kepikiran untuk berhenti. Setidaknya sampai aku hamil deh" ucap Freya dengan tatapan memohon. Teringat dulu Arven yang memintanya berhenti bekerja adalah sebuah perintah yang harus Freya kerjakan.
Arven meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat, lalu dia mengelus perut Freya yang masih rata. Sekilas dia memikirkan keadaan Freya yang sekarang.
"Sayang, apa kamu tidak pakai kontrasepsi saja dulu"
Freya langsung melepaskan pelukan suaminya, menatap Arven dengan tatapan bingung dan tidak mengerti. "Apa maksudnya? Apa kamu tidak mau mempunyai anak dari aku?"
"Bukan begitu, tapi keadaan kamu yang sekarang apa memungkinkan untuk segera hamil. Sayang, kamu baru saja menjalani operasi"
Freya menghela nafas pelan, dia mengerti kekhawatiran Arven padanya. "Tapi Sayang, tidak papa kok. Bukannya hamil dengan kondisi satu ginjal juga bisa, jadi tidak papa"
Arven langsung menangkup wajah istrinya, menatap Freya dengan lekat. "Sayang, itu yang sudah lama menjalani operasi. Sementara kamu belum lama menjalani operasi. Sebaiknya kita konsultasi dulu sama Dokter. Aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa"
__ADS_1
Freya mencebikan bibirnya, padahal dia sudah tidak sabar untuk mempunyai anak. Karena memang Freya sangat menyukai anak kecil. Wajah Freya yang seperti ini membuat Arven merasa gemas, dia mencubit gemas bibir Freya yang mencebik itu.
"Besok kita ke Dokter, jangan cemberut seperti itu"
Freya hanya menghela nafas pelan, lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke atas pelukan suaminya. Menyandarkan kepalanya di atas dada Arven dengan nyaman.
"Sayang, padahal aku ingin segera punya bayi loh. Kan lucu kalau di rumah ini ada tangisan bayi, kita gak bakal kesepian lagi" ucap Freya, masih saja membahas tentang mempunyai bayi.
Arven tersenyum mendengar itu, dia mengecup puncak kepala istrinya. "Kita dengar saja dulu apa kata Dokter besok. Biarkan Dokter menjelaskan bagaimana kondisi kamu setelah operasi"
Dan Freya tidak bisa membantah lagi, karena memang suaminya tidak akan pernah bisa dibantah jika sudah memutuskan sesuatu.
******
Pagi ini Freya merasa menjadi sosok istri yang sebenarnya, melakukan pekerjan rumah dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dan hal ini membuat Freya sangat senang, dia suka dengan peran istri yang seperti ini.
Freya hanya tersenyum saat tiba-tiba suaminya datang dan memeluknya dari belakang. Mengecup bahunya beberapa kali, wangi shampo yang di pakai Arven langsung tercium ke indra penciuman Freya.
"Sayang, aku lagi bikin sarapan. Lepas dulu"
Arven yang terus memeluk Freya meski dirinya sedang mengaduk masakan di dalam wajan. Freya bergerak ke kanan dan kiri untuk mengambil bumbu, Arven benar-benar mengikutinya dan tidak pernah mau melepaskan pelukannya.
"Sayang, bukannya kamu bilang akan ada pertemuan ya hari ini?" tanya Freya.
Arven langsung mneghembuskan nafas kasar mendengar itu. "Tidak jadi, Papa lagi-lagi menghalangi aku untuk bekerjasama dengan Perusahaan mana pun. Sepertinya dia memang ingin melihat aku sengsara. Tapi aku tidak kan menyerah begitu saja, biarkan saja dulu dia melakukan apa yang ingin dia lakukan"
__ADS_1
Freya memindahkan masakannya ke dalam wadah, lalu dia menyimpannya di meja makan. Berbalik dan menatap Arven yang berdiri menyandar di meja kompor. Pasti tidak mudah bagi suaminya untuk menghadapi hal ini. Bahkan Papa juga tidak hadir di acara pernikahan mereka. Hal itu yang membuat Freya merasa tidak enak pada Arven yang sudah banyak melakukan pengorbanan hanya agar bisa bersama dengannya. Sebenarnya pengorbanan mereka berdua memang sama besarnya.
"Sayang, percaya sama aku kamu akan bisa bekerja lagi. Sekarang kamu nikmati saja masa pengangguran kamu ini. Kan sudah lama kamu tidak disibukan dengan pekerjaan" ucap Freya sambil terkekeh pelan.
Arven hanya tersenyum mendengar itu, tentu saja dia hampir tidak pernah merasakan waktu untuk bersantai jika sedang bekerja. Karena tidak pernah dirinya mempunyai waktu ini ketika masih bekerja.
"Kamu tidak malu mempunyai suami pengangguran?" tanya Arven, dia berjalan mendekati Freya sambil tersenyum tipis.
"Emm.. Sebenarnya malu si, masa ada pengangguran mobilnya bagus begitu. Aku saja yang kerja masih pakai motor loh" ucap Freya tertawa kecil di akhir kalimatnya.
Arven hanya terkekeh pelan dengan mengacak rambut istrinya itu. "Kalau mobil itu dijual, bisa berapa tahun gaji kamu ya"
"Ah, mungkin sepuluh tahun juga tidak akan terbayar. Makanya aku sampai harus jadi pacar kontrak kamu saat tidak sengaja menabrak mobil kamu, dulu" ucap Freya dengan tatapan memelas.
Arven hanya terkekeh saja, memang seperti itu alur cerita mereka untuk bisa sampai sekarang.
Dan setelah sarapan, Arven dan Freya pergi ke Dokter untuk konsultasi keadaan Freya saat ini dan ketika dia ingin hamil.
"Sebaiknya ditunda dulu, karena takutnya bekas operasi masih belum kering. Sebaiknya ditunda sampai satu tahun setidaknya"
Penjelasan Dokter itu cukup membuat bahu Freya langsung lemas. Ternyata memang ada resiko jika harus hamil dengan cepat setelah dia melakukan tanplatasi ginjal. Arven hanya menatap istrinya yang terlihat tidak bersemangat lagi setelah dia mendengar penjelasan Dokter tadi.
"Cukup waktu satu tahun untuk kita bisa bersama dan menghabiskan waktu berdua dulu. Yang terpenting keadaan kamu bisa baik dan sehat selalu. Sekarang kita pikirkan mau kontrasepsi apa yang akan kamu pakai?" ucap Arven.
Freya mendengus pelan. "Nanti saja pikirkan tentang itu. Sekarang aku mau makan dulu saja"
__ADS_1
Arven hanya mengangguk, pasti istrinya yang sedang kesal selalu ingin melampiaskan pada makanan.
Bersambung