
Gou yang ditarik oleh Shin Tang pun menurut ia berpikir akan diberi kejutan oleh istri cantik nya ini
"Sayang kau, em maksud ku kita..." ucapannya terputus saat sang istri duduk dan
"suami ku yang paling tampan, bisa tidak kau pijat pundak ku?"
Mendengar pertanyaan itu Gou pun mengerinyit
"A apa, sayang ku kira kau akan memberiku kejutan, tapi kok kau meminta.." pria itu kehabisan kata kata
"Memangnya kenapa, kau berpikir apa sih sayang?" Shin Tang heran dengan sikap suaminya itu
"Sudah, ayo pijat pundak ku"
Dengan berat hati Gou pun memijat pundak Shin Tang sambil mendumel
"Ku kira kita akan membuat adik untuk Tea Na"
Mendengar itu Shin Tang mengerinyit "Aps yang kau katakan, membuat adik untuk Tea Na?"
Gou mengangguk polos. Tidak lama Shin Tang tertawa
"Hahaha hahaha, suamiku ini hahaha lucu sekali"
"Kenapa kau tertawa istri ku, kau meledek ku ya?"
"Bukan begitu suami ku, aku ingin memberitahukan sesuatu padamu"
Dengan tatapan penasaran Gou pun bertanya
"Kau ingin memberitahu kan apa?"
Tiba tiba tangan Shin Tang pun menggenggam tangan Gou dan mengarahkan nya di perut
"Suamiku, kau tahu, kalau di dalam sini ada calon anak kita"
Degh
__ADS_1
"A apa kau mengatakan jika di dalam sini ada calon anak kita, i itu artinya kau sedang hamil Shin Tang?"
Wanita itu mengangguk "Iya suamiku, aku sedang mengandung"
Saat itu Tea Na pun yang mendengar sangat bahagia "Apa Ibunda hamil, itu artinya aku akan memiliki seorang adik"
Saat itu Gou merasa ada seseorang dibalik pintu
"Seperti nya putri kita sudah mengetahui nya"
Shin Tang pun menoleh "Benarkah suami ku? Lalu apa kah dia senang?" entah kenapa ia merasa was was
"Sayang ada apa, kenapa kau terlihat gelisah?"
"Suami ku , aku takut Tea Na tidak menerima ini, kau tahu dia masih kecil dan dia masih perlu kasih sayang"
Mendengar itu Gou tersenyum "Sayang, kau belum tahu jika kau tidak bertanya pada nya"
Shin Tang terdiam dan tidak lama suara pintu terbuka dan kedua nya pun menatap siapa yang telah membuka pintu itu
"Tea Na, sayang sini"
"Ada apa ayahanda?" sambil menatap kearah sang ibu yang menunduk
"Ibunda, ada apa dengan mu, kenapa kau nampak sedih"
Shin Tang masih diam sambil membelai wajah sang anak "nak kamu mau tidak memiliki seorang adik?" tanya Gou penuh hati hati
Tea Na terdiam wajah nya menunduk. Dan itu membuat Shin Tang pun tidak bisa mengatakan yang sebenarnya
"Ayahanda, Ibunda aku ingin punya adik" sambil menatap sang ibu "Ibunda kau tidak perlu takut untuk mengatakan sebuah kebenaran. Aku tahu kok ibu sedang mengandung adik bayi"
Mendengar itu Shin Tang tersenyum "Terima kasih sayang kau sangat pengertian dan juga bijak. Ibunda berharap jika kau sudah dewasa nanti bisa mengatasi masalah dengan bijak ya sayang"
"Amiin ibunda, terima kasih doa nya, oh iya ibunda, ini ada sebuah undangan dari kerajaan api"
"Benarkah nak?"
"Iya ayahanda" Saat itu juga Shin Tang mengambil sebuah gulungan dimana di sana tertulis nama Gou dan Shin Tang di harap kan hadir"
__ADS_1
Sedangkan di istana Ming Xi sedang di latih untuk tata cara pernikahan dan kini gadis cantik itu berpakaian ala pernikahan yanng sangat indah
"Maaf ya yang mulia anda pasti sangat lelah dengan pakaian ini" ucap salah satu dayang
"Tidak apa bu" sang dayang senior itu terkejut saat dia dipanggil ibu
"Yang mulia, anda memanggil saya apa?"
Ming Xi sedikit terkejut namun ia kembali tersenyum "Apakah aku boleh memanggil mu ibu, karena kau mengingatkan aku pada ibu ku"
Tanpa sadar sang dayang senior itu menitikkan air mata "Hiks yang mulia"
Ming Xi pun terkejut dan dengan agak kesulitan menghampiri nya "Ada apa, kenapa kau menangis?"
Perempuan tua itu menatap Ming Xi "Yang mulia hiks~ anda juga mengingatkan aku terhadap mendiang putriku Fi Ra"
"Kalau begitu, mulai sekarang ibu bisa menganggap ku sebagai putri mu, aku senang, sekarang aku memiliki 3 ibu"
Perempuan tua itu mengerinyit "Maksud anda yang mulia?"
"Yaa yang pertama adalah ibu ku sendiri, kedua ibunda permaisuri Hun dan ibu dayang"
Perempuan itu tersenyum sambil mengangguk dan tidak lama terdengar sebuah suara
"Yang mulia ibu suri dan permaisuri Hun tiba!"
Mendengar itu para dayang pun berjejer rapi dan. Ming Xi pun langsung menunduk hormat
Hun langsung menghampiri "Sayang, bagaimana apakah kau tidak kesulitan, dengan pakaian ini?" tanya nya khawatir
Ming Xi menggeleng "Tidak ibunda permaisuri, saya tidak kesulitan kok" ucapnya sambil tersenyum
"Putri ku, aku tahu kau bisa menyikapi nya"
"Putri mahkota, kau mungkin akan kesulitan tapi aku yakin kau bisa menopang negeri ini. Aku percaya pada mu"
"Terima kasih yang mulia ibu suri agung" ucapnya sambil membungkuk hormat.
__ADS_1