PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 22 : OBROLAN ANDINI DAN NANDANG


__ADS_3

Bagus mengusap wajahnya kasar. Tak sampai nalarnya memikirkan derita yang menimpa keluarga Nandang ini.


"Boleh bapak tengok keadaan emakmu?" tanyanya pelan.


"Iya silahkan, tapi maaf pa. Mungkin aroma di kamar agak tidak sedap. Soalnya emak B.A.K dan B.A.B di kamar." Nandang memberi informasi secara detail.


"Tidak masalah Nan." Bagus tak mempermasalahkan hal tersebut.


Kemudian Nandang beranjak berjalan, mengajak Bagus masuk ke salah satu kamar yang di tempati Puspa.


Tampak Puspa terbujur di atas sebuah ranjang. Tidak ada selang infus yang tersalur ditubuhnya, sebab Puspa sudah tidak membutuhkan itu. Ia hanya sedang dalam masa pemulihan, mengkonsumsi beberapa obat setiap harinya sesuai resep dokter dan di minta sesekali datang untuk chek up.


"Maafkan kami yang tidak tau akan musibah yang kalian alami Nan. Sungguh bapak menyesal."


"Tidak pak... bapak tidak salah apa-apa. Karena memang kami tidak ada memberi kabar pada Naila juga. Sebab, setelah ibu kecelakaan. Alhamdulilah, cucian banyak. Dan Andini fokus bekerja, dan sayaenjaga emak."


"Maaf Nan. Apa boleh bapak tau, apa yang kamu kerjakan di tempat tadi?" Bagus mulai mengulik pekerjaan Nandang, sedikit terusik tentunya dengan lingkungan tempatnya belerja itu.


"Nan... menggantikan tugas emak, pak. Membersihakan beberapa rumah yang kadang penghuninya ada, kadang juga tidak ada. Semakin cepat dan banyak rumah yang mampu di bersihkan, maka semakin banyak uang yang dapat di kumpulkan. Lalu pulangnya kami membawa pakaian kotor untuk kami laundry. Alhamdulilah, keuangan kami terangkat sejak emak dapat pekerjaan tersebut." Terang Nandang membuat hati Bagus terenyuh.


"Lalu... bagaimana hatimu saat kini ternyata kamu gagal masuk IPD?"


"Tentu saja Nan kecewa pak. Tapi bagi Nan itu tidak masalah. Karena menurut Nan, kesembuhan emak yang utama." Jawabmya lirih.


"Betul... kegagalan mu kali ini adalah kesuksesan yang tertunda. Percaya saja ada rancangan yang lebih indah untukmu, di balik semua ini." Baguse menguatkan.

__ADS_1


"Amiin... terima kasih pak."


"Bagaimana dengan urusan merawat emak kalian, apakah merasa kewalahan?"


"Alhamdulilah Nan sama Ndin, saling bantu pak dalam urusan merawat emak. Karena, kan ada diapers jadi lumayan terbantu terutama untuk masalah BABnya."


"Apa yang bisa bapak bantu untuk kalian?"


"Sementara ini, kami aman saja pa."


"Duduk, apa emak mu bisa duduk?"


"Bisa, asal di dudukkan. Tapi kata dokter itu hanya sebentar, munkin sebulan lagi sudah bisa berjalan. Asal di latih terus dan kakinya di psioterapi."


"Tidak pak... kami membeli alatnya saja. Sebab lebih irit, membeli alat dari pada bayar terapis. Untuk gerakan dan bagian mana saja yang di sinar, dokter sudah melatih kami." Jawab Nandang apa adanya.


Bagus ingin terus ngobrol dan bisa lebih lama di sana. Namun panggilan dari staffnya membuat dia harus segera kembali ke kantor. Beliau ingin meninggalkan beberapa uang, namun tidak banyak membawa uang. Sehingga memilih pulang tanpa meninggalkan apapun dan berjanji akan datang bersama anak dan istrinya di lain waktu baginya cukup.


"Nan... maaf. Bapak belum bisa kasih apa-apa. Sebab, bapak sungguh tidak tau kejadian ini. Rawat emak kalian dengan baik ya, dan jaga dirimu saat bekerja di tempatmu sekarang." pesan Bagus sebelum pulang.


"Insyaallah pak. Iya terima kasih sudah mengunjungi kami." Jawab Nandang dengam sungguh.


Sepulangnya Bagus dari kediaman Nandang. Anak baru lepas remaja itu segera mengangkat plastik berisi pakaian kotor tadi, dan mulai membuka dua platik untuk mulai di rendam untuk segera beraksi, mencuri star dari Andini.


Mencuci dengan mesin, sehingga tak harus selalu di tunggui. Jadi, Nandang bisa membuat makanan alakadarnya untuk persiapan makan siang mereka.

__ADS_1


Tiap dua hari sekali ada paman sayur yang selalu datang membawakan sayur, lauk pauk dan bahan mentah lainnya untuk mereka. Sehingga, merasa cukup di mudahkan dalam hal membuat menu makanan.


Entah mungkin telah di atur bagaimana saat hadiah ulang tahun Nandang adalah sebuah sepeda motor. Sebab itulah kini yang mereka punya selain sepeda sebagai alat transfortasi. Motor milik emak Pupsa hancur tiada berupa, pihak penabrak juga sudah membantu walau tidak banyak. Namun, tetap sudah bertanggung jawab.


Nandang dan Andini pun sudah bersepakat untuk berdamai saja dengan pihak yang tak sengaja mencelakai sang emak. Bagi mereka, menghabiskan waktu untuk berurusan dengan polisi, marah dan menyimpan dendam hanya menunda waktu mereka untuk fokus pada kesembuhan emak mereka saja.


Secara tidak langsung Nandang dan Andini tertempa dengan sendirinya. Membagi waktu dan tugas satu sama lain. Juga mengelola keuangan mereka. Bersyukur BPJS mereka sangat dapat membantu dalan hal meringankan beban pengobatan, di tambah uang santunan dari pihak penabrak juga dari jasa raharja kecelakaan semua bisa di klaim oleh Nandang.


Untuk ukuran anak seusia Nandang dapat mengutus ini dan itu untuk urusan pengobatan dan perawatan emaknya, tentu sangat patut di acungi jempol.


Tidak sia-sia emak Puspa selalu memberikan nasihat dan pandangan hidup yang benar untuk kedua anaknya. Sebab, walau kini ia terbaring lemah bahkan lupa ingatan. Anak-anaknya tetap penuh kasih sayang dalam hal merawatnya. Tanpa rasa jijik sekalipun.


Awalnya hanya Andini yang bertugas membersihkan bagian-bagian sendituf sang emak, terutama setelah BAB. Tapi, ke sininya, Andini juga harus bertanggung jawab dengan tugas sekolah juga usahanya dalam hal menyelesaikan tugas laundrynya. Sebab kebutuhan hidup mereka tentu bertambah untuk membeli popok dan alat dukung untuk kesembuhan emak Puspa. Sehingga, kini siapapun yang mendapati emak selesai BAB. Maka dialah yang akan membersihkannya. Tanpa ada niat melecehkan atau apapun. Bagi mereka ini masa dimana mereka harus membayar semua kasih sayang emak berikan pada mereka selama ini.


"Ndin... keadaan emak sudah mulai membaik terutama kakinya. Bagaimana jika beli alat penyangga untuk melatihnya berjalan dan kursi roda supaya emak tidak selalu di dalam kamar. Emak perlu melihat alam luar." Suatu hari Nandang mengajak Andini untuk berdiskusi.


"Ndin setuju saja kak. Tapi... tunggu uang laundry terkumpul dulu sampai akhir bulan ini ya. Sebab, uang di ATM emak sudah menipis. Untuk keperluan kita selama ini kak." Jawab Andini yang sangat cermat dengan urusan hitungan.


"Ya sudah, pakai tabungan kakak saja. Isinya lumayan kok. Sepertinya cukup untuk membeli dua alat yang kakak bilang tadi." Saran Nandang.


"Yaaah... kalo pakai tabungan kakak boleh. Tabungan Ndin juga ada kali. Tapi bukannya mak bilang itu buat persiapan saat kita kuliah?" Andini sedikit berargumen.


"Ya... kan ini beda kebutuhan Ndin. Ngapain kita nabung buat kuliah, kalo emak ga bisa kita selamatkan. Hanya demi masa depan. Emak ini surga kita berdua. Apa arti hidup kita berdua, sudah tak punya ayah. Masa harus tak punya emak lagi." Sedih Nandang menyampaikan hal itu pada adiknya


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2