
Nandang dan Naila belum punya kesempatan bertegur sapa, secara langsung hanya mata mereka bicara bahwa keduanya benar-benar sedang saling merindukan satu sama lain. Entah siapa di antara mereka nanti yang akan mengalah untuk mengakui perasaan masing masing.
Keluarga Naila juga Nandang sudah berada di sebuah restoran yang cukup populer di kota itu. Hal tersebut biasa bagi pak Bagus yang notabene seorang pejabat di sebuah SOPD di kota tersebut. Sehingga beliau sudah sangat terbiasa bahkan pelayan tampak ramah melayani beliau sekeluarga, saat berada di situ.
Berbandinh terbalik dengan Nandang sekeluarga yang hidup sederhana. Tetapi perbedaan tersebut tidak begitu kentara, sebab Pak bagus dan Bu Tatik sama sekali tidak pernah menganggap keluarga Nandang dengan sebelah mata.
Mereka bahkan lebih cenderung seperti satu keluarga yang sangat komplit.
Tidak hanya Nandang, pak Bagus dan Bu Tatik pun sangat merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat melihat progres kesembuhan Puspa emak Nandang.
Puspa benar-benar bisa diajak ngobrol walaupun tidak begitu tajam ingatannya soal masa lalu, yang pasti dia sudah bisa diajak bercanda dengan lancar. Seputar masalah resep roti panggang dan roti goreng andalannya. Juga aneka resep masakan-masakan lainnya.
Pak Bagus juga sering mencandainya bahwa dia nanti akan diminta untuk mengerjakan tugas sebagai tukang laundry kembali.
"Siapa takut..., emak bisa kok mencuci. Kan ada mesinnya." Bela Puspa seperti anak kecil membela diri.
"Nah kalau gitu, Euis kita berhentikan saja, gimana Mak?" canda Andini pada emaknya.
"Boleh... Tapi mesinnya jangan di atas. Emak takut rubuh." lanjunya lagi.
"Hah... rubuh?" tanya Andini.
"Iya, emak takut naik." Katanya lagi memang agak sedikit linglung dalam menggunakan bahasa, untuk mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Tapi sudah sangat Lumayan lancar.
"Tidak mak, Ndin tadi cuma bercanda. Biar Ndin dan Euis saja yang mencuci, emak kalo masih kuat, cukup memasak saja di dapur. Nandang sudah kangen sama masakan-masakan emak lho." Kata Nandang sambil menyampirkan anak rambut ibunya yang terjatuh di sekitaran dahi akan menutup matanya.
__ADS_1
Nayla sangat menikmati pemandangan saat Nandang memperhatikan dan terlihat begitu sayang terhadap ibunya. Terpikir dalam benaknya bahwa besok mungkin tatapan mata penuh cinta itu tidak hanya terarah kepada sang ibu yang melahirkan Nandang. Tetapi juga kepadanya kelak, sebagai wanita yang akan melahirkan anak anak untuk Nandang. Ah... pikiran Nayla sudah melanglang buana saja. Apa iya Naila sudah jatuh cinta pada Nandang.
Selama makan malam berlangsung lagi lagi, Nandang dan Naila terlihat saling diam. kaku dan tidak saling menunjukkan jika mereka pernah saling akrab. Mereka tampak masih tidak saling bicara, secara kasat mata. Tetapi tidak dengan tangan keduanya. Sebab mereka berdua lumayan sibuk mengetik pada layar ponsel masing-masing.
"Hai cantik... hilang berapa kilo?" isi chat Nandang terhadap Naila disela-sela makan mereka.
"Kasih tahu nggak ya?" bales Naila dengan tersenyum simpul kemudian menyembunyikan ponselnya lagi ke dalam tasnya.
"Kalau aku bisa tebak, dan benar. Aku dikasih hadiah ga?" Nandang kembali mengetik pada gawainya.
Naila kembali merasakan ponsel dalam tasnya bergetar lagi, walau tidak bersuara.
"Emangnya mau hadiah apa?" tanya Naila masih lewat chat-an mereka berdua.
"Sedikasihnya aja deh yang penting ikhlas." Balas Nandang dengan senyum di kulum.
"Heemm... tuh kan, pulang KKN pasti deh, Udah dapat pacar atau calon pacar atau sekalian calon istri, Nan?" goda Pak bagus pada Nandang yang baru saja menyimpan ponselnya kembali ke saku celananya.
Nandang sedikit terkejut dengan tebakan asal yang pak Bagus ucapkan.
"Sudah bapak bilang, kalau di masa KKN. Pasti akan berbeda dari masa kuliah normal." Ujar pak Bagus sengaja mendramatisir keadaan.
"Saat KKN biasanya, kamu akan bertemu gadis-gadis lain selain teman-temanmu dalam satu kelas. Bahkan sering bergabung dengan mahasiswa lain dari berbagai fakultas Yang tentu dengan berbagai karakter." Lanjutnya lagi.
"Dan pada saat KKN tersebut semua sikap asli akan keluar. Ya hampir mirip dengan rumah tangga, jadi di situ sangat kelihatan mana yang bener-bener gadis yang rajin atau tidak." Perkataan Bagus justru membuat Nandang sepertinya salah tingkah.
__ADS_1
Hal itu juga tertangkap pada manik mata Naila yang ikut penasaran. Terlihat dari manik mata Naila yang seolah minta penjelasan pada Nandang.
"Oh ya pak, di sana memang semuanya terasa berbeda. Membuat teman rasa saudara. Jadi sangat menyenangkan." Jawab Nandang seadanya.
"Kaan... benar, buktinya KKN sudah hampir berakhir tapi kamu baru bisa pulang. Anak teman bapak juga ada yang lagi KKN. Mungkin beda Desa sih sama kamu, tapi udah lama bisa pulang libur. Kamu kok nggak ya?" telisik pak Bagus yang ternyata diam diam mengikuti jadwal Nandang.
"Oh itu, Pak. Kemarin kebetulan Nan dipercaya menjadi ketua kelompok. Jadi tanggung jawab Nan, labih besar dari yang lain. Lumayan sulit pulang sesuai kehendak. Karena harus memastikan kondisi dan kegiatan kami, seperti itu pak." Jelas Nandang membela diri. Agar pak Bagus sekaligus Naila percaya alasannya yang memang hampir tak bisa pulang untuk libur.
"Jangan serius Nan, bapak cuma bercanda kok. Kamu ini, begitu aja dianggap serius. Tapi gak bisa jauh dari ponsel tadi, memang sangat mencurigakan lho." Pak Bagus masih berusaha menggoda Nandang dan kali ini sambil melirik ke arah anaknya sendiri
Dan itu membuat Naila tiba-tiba risih. Gagap takut juga jangan-jangan, ia juga akan di godai ayahnya, seperti yang ia lakukan pada Nandang tadi.
"Apa kita sudah boleh pulang, belum?" tiba-tiba emak menyeletuk seolah menjadi dewi penyelamat antara Nandang dan Nayla.
"Oh iya...ya. Makanan kita sudah selesai. Hari juga sudah cukup malam, ayo kita pulang." Ajak Pak bagus yang sudah tampak melupakan saja permasalahan dan juga candaannya tadi.
Dan hal itu memuat Nandang juga Nayla merasa sedikit lega. Jika saja ayahnya tahu bahwa yang sedang pergi itu adalah mereka berdua.
Mereka pun kembali pulang ke rumah, di antar oleh pak Bagus.
"Besok jalan yuk, Nai. Lusa aku udah balik ke desa lagi." Chat Nandang saat mereka kembali berada di dalam mobil yang sama tapi di barisan kursi yang berbeda. Karena Nandang kebagian duduk paling belakang. Dan Naila duduk di bagian tengah duduk dekat emak juga Andini.
"Jemput di rumah pake motor ya, kak." Balas Naila senyum sendiri.
"Chat sama siapa sih... kok ga brenti dari tadi." Akhirmya Andini yang kepo.
__ADS_1
Bersambung...