PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 72 : WISUDA


__ADS_3

Nandang selalu merasa jika ia adalah seorang pengangguran. Padahal, keseharian mereka sangat tercukupi bahkan lebih dari hasil usaha laundrya yang mereka tekuni. Usaha tersebut sudah seperti nadi di dalam sirklus pendapatan keluarga mereka. Mereka sudah memiliki pelanggan tetap, Batuah Laundry cukup terkenal di kalangan mahasiswa, sebagai tempat mencuci yang hemat, bersih juga ramah.


Pelanggan tak hanya mendapatkan hasil cucian yang tepat waktu saja, tetapi juga mendapatkan bonus yang memang sengaja Nandang buat untuk menarik perhatian, guna mempertahankan kenyamanan dan ketertarikan pelanggan, agar selalu setia mengantarkan pakain mereka pada Loundry miliknya.


Walau kini usaha mereka sudah memiliki 3 cabang, tetapi Andini selalu berkeras agar Nandang tidak ikut berkecimpung langsung sebagai tukang cuci. Ia hanya kebagian dalam bidang administrasi, memastikan jadwal menerima dan kadang mengantar pakaian bersih tersebut.


Alasan Andini, karena Nandang laki laki dan di anggap kepala keluarga di rumah mereka. Sehingga Andini ingin menerapkan aturan, agar Nandang hanya akan melakukan pekerjaan laki laki pada umumnya saja. Walaupun itu hanya merupakan pemikiran Andini saja. Nandang yang ringan tangan tentu selalu tak tinggal diam, saat waktunya kosong. Selalu ia sempatkan melakukan apa saja yang bisa ia lakukan, tentu dengan suasana hati yang senang.


Usia Nandang sudah 26 tahun, beberapa tes CPNS pun tak hanya sekali ia ikuti, tidak selalu di daerah Bandung. Di mana ada lowongan penerimaan pun, selalu ia ikuti via online. Tetapi tetap saja nihil selalu belum beruntung. Kadang nilai sudah sesuai passing grade, formasi sangat sedikit. Formasi banyak, giliran nilainya yang tidak memenuhi standar. Nandang cukup kenyang dengan kegagalan dalam hal mendapatkan NIP sesuai cita-citanya.


Hari itu, Nandang merasa berat melangkahkan kakinya. Namun, tatapan sayu dan penuh harap sang emak dan Andini begitu mengharapkan kehadirannya. Itu adalah hari bersejarah bagi Andini dan Naila juga. Adik dan kekasihnya itu, kini telah sah menyandang gelar Sarjana Pendidikan.


Andini punya lelaki yang sudah lama tampak serius menjalin komunikasi dengannya selama kurang lebih 3 tahun. Tetapi, Andini tak pernah mau terlihat menanggapinya dengan mencolok. Andini merasa kehidupan mereka bagaikan bumi dan langit. Ia tak silau apalagi bermimpi besar dalan hal mendapatkan jodohnya. Bukan tak punya hati, hanya tak mau banyak membuang waktu percuma.


Baginya segera menyelesaikan kuliahnya, merawat emak dan tekun mengembangkan usaha laundry itu sudah sangat menyita waktunya.


"Kak Nan... kita pakai nuansa maroon ya. Ndin suka warna itu." Pinta Andini pada Nandang yang masih terlihat malas malasan di kamarnya.


"Heem..." Jawab Nandang datar.


"Kakak kenapa, ga suka Ndin sudah jadi sarjana?" tanya Andini dengan raut wajah yang berubah mendung.


Nandang mengelus kepala Andini dengan lembut, sembari berkata.


"Siapa yang tidak bangga sih. Punya adik mandiri, pintar cari uang sendiri. Bahkan sekarang sudah sah bergelar Sarjana." Tukas Nandang mendudukan dirinya dari posisi malasnya tadi.

__ADS_1


"Tapi... Wajah kak Nan terlihat tak bahagia. Kenapa?" tanya Andini duduk di atas tempar tidur sang kakak.


"Kak Nan bangga sekaligus malu Ndin." Jujur Nandang sambil menunduk.


"Malu kenapa?"


"Huh." Nandang membuang nafasnya kasar.


"Bahkan sampai kamu lulus S1 pun, kak Nan masih saja berstatus pengangguran." Ujarnya kesal sendiri.


"Pengangguran dari mana? Kak Nan tetap berpenghasilan kok." Bantaj Andini.


"Iya dari loundry, tapi itu tidak sesuai bidang ilmu Ndin." Lanjutnya curhat.


"Kalo gitu kak Nan ganti status lagi aja."


"Kalo saat memiliki 3 cabang usaha loundry, bagi kak Nan. Itu masih sebagai pengangguran. Jadi, sebaiknya kak Nan jadi mahasiswa lagi aja." Jawab Andini santai.


"Maksudnya?"


"Jika NIP adalah cita-cita kak Nan, dan itu sulit terwujud. Mungkin meamang bukan takdir Kak Nan menjadi ASN. Bagaimana jika di ubah saja, kak Nan kuliah lagi. Mungkin bisa mengambil jurusan Magister Kenotariatan, atau Magister Hukum begitu. Sehingga, kak Nan bisa berkantor sendiri. Memulai dari nol atau gimana?" saran Andini yang mampu membuat bola mata Nandang berbinar-binar.


"Astagafirullahalazim. Kenapa kak Nan tidak pernah terpikirkan hal itu ya Ndin?"


"Karena kak Nan terlalu fokus mengeluh saja. Sampai lupa dengan potensi yang sebenarnya kak Nan miliki." Ujar Andini menyerahkan pakaian berwaran maroon pada Nandang.

__ADS_1


Dan Nandang hanya bisa tertegun.


"Udah... bengongnya nanti lagi. Waktu wisudaku sudah mepet ini." Sindir Andini.


Nandang segera beranjak untuk memasang pakaian yang sudah Andini siapkan untuknya sejak sepekan lalu.


Andini memang sudah sepakat dengan Nayla untuk menggunakan pakaian bernuansa maroon kesukaan mereka berdua tentunya.


"Ndang, ganteng sekali." Celetuk emak tiba tiba saat melihat Nandang keluar dari kamarnya. Setelah berpakaian rapi.


Kemeja marron dengan dasi gradasi


keperakan. Celana berbahan wol agak mengkilap keabuan, membuat Nandang lebih mirip lelaki yang akan berangkat meminang sorang gadis.


Wajah Nandang memerah, agak malu. Mendengar pujian dari wanita yang melahirkannya tersebut.


Kini, ketiganya sudah berada dalam kendaraan roda empat. Yang akan mengantarkan mereka ke tempat acara wisuda.


Dengan membulatkan hati untuk mengabaikan rasa rendah dirinya. Nandang sadar harus ikut berbahagia atas pencapaian adiknya Andini. Juga Naila kekasih hatinya. Yang pada hari ini sungguh telah resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan.


Sesampai di sana, mereka pun langsung bertemu dengan keluarga Naila yang sudah akrab, seperti saudara sendiri. Bahkan saat hubungan mereka masih berstatus pacaran saja, mereka sudah seolah seperti pasangan menantu dan mertua.


Perlahan pak Bagus mendekati Nandang, kemudian berbisik saat posisi mereka sangat dekat.


"Nan anakku, Naila sudah menyelesaikan kuliahnya. Apa kamu tidak bernuat untuk melanjutkan hubungan kalian ke tahap yang lebih serius?" tanya Pak Bagus dengan suara kecil dan pelan di dekat telinga Nandang.

__ADS_1


Suara itu memang pelan dan sangat kecil, namun tidak dengan hati Nandang yang begitu terkejut mendengar pernyataan yang lebih mirip dengan todongan baginya. Bagaimana mungkin pak Bagus sampai seolah meminta agar dia segera meresmikan hubungan mereka, lebih dari pacaran. Bukan tentang cinta yang Nandang ragukan. Tapi Nandang lebih takut jika nantinya akan mengecewakan anak tunggal dari pasangan Bu Tutik dan Pak bagus. Bagaimana dengan kelangsungan kehidupan mereka di hari-hari yang akan mereka jalani kelak. Entah mengapa dan apa yang ada di pikiran Nandang, ia merasa tidak percaya diri dan masih saja menganggap bahwa dirinya adalah pengangguran sejati. Padahal jelas-jelas tiap hari pun dia tetap bisa menghasilkan uang dari laundry yang ia kelola. Tapi begitulah Nandang, yang mungkin bisa dikatakan idealis. Merasa tidak merasa mapan saat bidang ilmu yang ia kantongi tidak bisa digunakan untuk mencari nafkah. Sehingga Nandang hanya mengerutkan dahi memandang Pak Bagus dengan perasaan bercampur aduk antara ingin nekat untuk menikahi Naila, namun kekhawatiran juga tak kalah besar dalam hatinya. Sungguh dia tidak ingin menjadi menantu yang tidak berpenghasilan, merasa tidak mampu bertanggung jawab terhadap istrinya kelak.


Bersambung


__ADS_2