PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 74 : KU KIRA KAU RUMAH


__ADS_3

“Bukan tentang pikiran kak Nan picik atau bagaimana Ndin.Hanya… hidup itu bukan hanya tentang makan apa? Tapi sebuah rumah tangga ituadalah seuatu yang kompleks. Kamu masih ingat ga? Gimana kita hidup saat ayah masih ada? Indah bukan? Lalu apa kamu masih ingat kita pernah ikut bangun pukul 3 subuh untuk membantu emak ngadon kue yang haris tiap hari kita jual sebelum berangkat ke sekolah, dan itu bukan hal yang manis Ndin?” urai Nandang panjang lebar.


“Kak Nan ga ikhlas?”


“Bukan soal ga ikhlas. Itu hanya sebuah gambaran kehidupan yang tak bisa di terka. Ibu memilih menikah dengan ayah, tentu karena ia yakin ayah bisa membahagiakannya. Bermodalkan pekerjaan sebagai guru berstatus PNS.


Yang tentu ada jaminan untuk melangsungkan hidup layak hingga akhir hayat akan mendapankan uang pensiun. Mestinya emak tak perlu resah akan kehidupan selanjutnya, tapi kenyataannya?” Nandang memberikan umpat pada Andini agar lebih melek untuk menyadari kehidupan.


“Emak memilih ayah adalah pilihan yang tepat. Hanya mereka tidak berjodoh panjang saja. Sehingga emak lebih cepat menjadi janda.” Jawab Andini enteng.


 “Justru itu,Ndin. Ayah dengan percaya diri melamar seorang gadis sebab memiliki sesuatu yang bisa menjamin kehidupan mereka saat sudah menjadi keluarga. Tetapi, takdir berkata lain bukan. Saat itu sepeninggalan


ayah, justru emak yangmenjadi tulang punggung keluarga.”


“Ya nasib mana ada yang tau sih Kak.”


“Kembali ke masalah kak Nan dan Nai. Kamu bisa bayangin gambarannya. Ayah memiliki pekerjaan tetap saja ternyata ga bisa jamin buat anak istrinya bahagia. Apalagi kak Nan yang ga punya pekerjaan tetap ini.”


Ungkap Nandang.


“Kalau kak Nan merasa NIP itu saja ga bisa jamin kebahagiaan keluarga. Ngapain kak Nan keukeh ngejar NIP. Banyak jalan menuju Arab kak. NIP itu bukan segalanya. Ke sininya Ndin rasa, kakak yang terobsesi dengan NIP itu


sendiri. Sehingga lupa kalau nasi yang kakak makan tiap hari selama ini bukan dari hasil NIP itu.” Andini berang dengan Nandang. Kedua kakak beradik ini sejak dulu memang selalu begitu. Akan saling berdebat untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing, sampai keduanya mendapatkan titik temu.


Kali ini Nandang terdiam mendengar suara Andini yang mulai meninggi.


“Mengapa melamar seorang gadis harus saat kak Nan menjadi ASN terlebih dahulu? Nai itu cinta sama kak Nan, ga tau kakak. Mungkin lebih cinta sama NIP yang kakak kejar itu saja.” Umpatnya lagi.


“Bukan masalh cinta mana Ndin. Tapi kak  Nan ga punya jaminan untuk membahagiakan dia kalau kami menikah sekarang.”


“Kak… sejak kapan kakak menilai Naila matre?”


“Hah… tidak? Bukan begitu Ndin.”


“Apa kak Nan kira kalau kakak belum menjadi ASN, Naila akan menoilak kakak?”

__ADS_1


Nandang terdiam.


“Memutuskan berumah tangga kapan itu tidak ada hubungannya dengan NIP yang kakak miliki atau tidak. Ity adalah sesuatu yang berbeda jalur. Tidak semua ASN itu hidup rumah tangganya bahagia karena sampai mereka mati ada yang menjamin. Dan tidak semua orang yang bekerja swasta itu tidak bisa membahagiakan pasangannya, karena mereka tidak punya kepastian dalam hal kepastian.” Kali ini ganti Andidi sebagai pembicara. Sebab semakin kesal cara pikir kakaknya yang di rasanya mengada-ada.


“Kak Nan dan Naila sudah berhubungan lebih dari 2 tahun. Jujur kak, waktu selama itu untuk di jalani sebagai pasangan berpacaran sudah masuk dalam masa keresahan seorang wanita. Jika serius, lebih baik di halalkan


saja. Urusan besok makan apa, ada allah yang mengatur. Lagi pula Kak Nan bukan pengangguran tulen. Coba ubah pola pikir kakak. Apakah selama ini kak Na merasa menjadi Srjana Hukum itu sungguh dari uang pensiun ayah?” tanya Andini.


Nandang menggeleng.


“Tidak kan..? Uang pensiun ayah bahkan tidak genap 2 juta kak. Cukup apa untuk membiayai kuliah kita berdua. Lalu dari mana kita bisa mengobati emak sampai beliau sehat seperti sekarang? Bahkan bisa menggaji orang


untuk merawat emak, sepeninggalan kita kuliah?”


“Loundry kak, bukan uang pensiun. Itu artinya NIP saja tidak bisa menjamin semuanya.”


“Apalagi tidak ada NIP.” Sahut Nandang cepat.


“Ah… capek ngomong sama kakak. Gila NIP.” Andini memilih menghindar dari Nandang, entah car pikir mereka yang berbeda atau bagaimana. Sehingga Andini merasa Nandang sedang tidak bisa di ajak bicara.


“Kapan mau ke rumah?” balas Nandang.


“Sekarang.” Balasnya.


“Jangan udah hampir malam. Aku saja yang ke rumahmu, ga baik cewek cantik keluyuran malam-malam.” Balas Nandang lagi.


“Oke… di tunggu.” Balas Naila cepat.


Sekejap Nandang menyiapkan diri untuk datang kerumah kekasihnya yang benar sudah lebihdari 2 tahun mereka jalani kebersamaan yang monoton. Sebab isinya hanya tentang menjaga keharmonisan dan mempertahankan


cinta satu sama lain.


“Ada apa Nai tadi mau ke rumah?” tanya Nandang saat sudah duduk di teras rumah pak Bagus.


“Sedang uring-uringan aja.”

__ADS_1


“Kenapa?” tanyanya lembut pada Naila.


“Aku keselsama ayah.”


“Tumben.”


“Iya… ayah rese deh. Masa no whatsappku di kasih ke Dicky sih.” Umpatnya kesal, Nampak sekali wajah itu sangat kesal.


“Gimana?”


“Iya… aku di chat Dicky. Ngajak jalan juga.” Curhatnya jujur pada sang kekasih.


“Kamu terima?”


“Aayang gimana sih. Masa aku jalan sama Dicky saat sudah punya kekasih.”


“Kalo aku ijinkan gimana?” tanya Nandang membuat biji mata Naila membesar mirip mata sapi.


“Aku udah ga ada dalam hati mu ya kak Nan?” tanya Naila sedih.


“Tidak, kamu tetap yang terindah dalam hatiku.”


“Lalu kenapa aku di  ijinkan jalan sama lelaki lain?”


“Jika dengan jalan dengan Dicky buat kamu bahagia, aku bisa apa?” tanya Nandang sendu.


“Ini bukan soal aku bahagia ayang. Aku hanya ingin selalu jujur padamu, ku kira kamu rumahku. Tempat aku menyandarkan semuanya, besar kecil masalahku bisa ku bagi denganmu. Maaf jika aku salah kira.” Naila lebih sendu dari Nandang.


“Maaf Nai. Bukan begitu. Terima kasih menganggapku rumah. Tapi… entahlah akhir-akhir ini aku sedang tak bisa di andalkan menjadi sandaranmu.”


“Kak Nan, kamu pernah sekuat karang menungguku putus dengan Heru. Karena kak Nan cinta sama Nai. Tapi kenapa setelah kita lama bersama, kak Nan serapuhn ini? Apa perasaan kak Nan sudah meluntur dan tidak kuat lagi?”tanya Naila sedih… sedih sekali. Merasa jika kekasihnya tak memiliki tujuan untuk berjuang bersamanya lagi. Bahkan seolah akan membiarkan ia pergi.


“Justru karena rasa cintaku yang semakin kuat, maka apapun yang buat kamu bahagia. Silahkan kamu lakukan. Termasuk jalan dengan Dicky. Jika ayahmu memang lebih suka kamu bersamanya, aku bisa apa?” bukan solusi yang Nandang sampaikan, melainkan justri konflik baru yang ia ciptakan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2