
Nandang dan Naila sudah berada di atas motor untuk kembali ke rumah. Tapi belum sampai di rumah, Naila meminta untuk berhenti di tepi jalan.
"Kak, boleh berenti sebentar ga?" ujarnya menepuk nepuk paha Nandang.
"Kenapa?" tanya Nandang serius. Dan menepikan motornya.
"Mau ketawa dulu." Kekeh Naila.
"Hah... kirain mau ngapain. Bentar kita cari tempat nongrong aja." Jawab Nandang kemudian melaju kembali. Lalu sungguh menghentikan kemdaraannya pada sebuah cafe di pinggiran kota. Memang tempatnya belum ramai, sebab itu masih pukul 5 sore. Sebab pengunjung akan lebih banyak saat matahari akan tenggelam. Dan saat bulan sungguh telah bertengger di posisi tengah bumi.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Naila.
"Katanya mau ketawa..." jawab Nandang menarik tangan Naila setelah dapat spot yang bagus untuk duduk menikmati sore jelang senja itu.
"Ya gak harus di tempat begini juga."
"Kenapa? Ga suka?"
"Bukan kak. Ayah dan ibu pergi Umroh. Masa iya, akunya keluyuran lupa magriban. Ini masih jauh dari rumah." Ujar Naila jujur.
"Kamu noleh ke kiri deh." Naila patuh dan menolehkan kepalanya ke kiri.
"Di situ ada mesjid. Kita bisa hanya dengan berjalan kaki untuk sholat, jika memang masih mau berlama lama di sini."
"Ooouuww... Nai ga liat kak." Cengirnya.
"Okee... sekarang kak Nan mau liat segimana kuatnya kamu ketawa. Ngetawain kak Nan yang di kira pencuri kan?" tebak Nandang.
Dan Naila pun langsung tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Ga usah di tutup segala."
"Takut dosa kak."
"Hah... segala takut dosa. Tetangga kamu gitu banget ya. Nyesel kak Nan menjaga kesopanan tadi. Tau gitu beneran deh, mending kak Nan ikut masuk. Lumayan kan, bisa di grebek. Nikah deh kita." Ucap Nandang penuh harap.
Naila langsung memukul bahu Nandang berkali kali.
"Hah... kak Nan mau nikah sama Nai. Hah...? Lupa Nai udah punya pacar lho." Gemas Naila memukul manjah Nandang yang hanya tertawa kesenangan.
__ADS_1
"Kan cuma pacaran, orang nikah aja bisa cerai. Laah kamu, pacaran doang ga jelas ke pelaminannya kapan." Ejek Nandang pada Naila yang jadi monyong monyongin bibirnya.
"Iih kakak. Doa in Nai putus ya."
"Ga juga sih. Eh, tapi boleh juga. Putus gih. Jadi calon istri kak Nan saja." Nandang kali ini tidak mengucapkannya dalam hati, sungguh ia katakan bersuara ke arah Naila.
"Yaaaah... habis di kasih pencerahan apa nih dari pa RT, so so an ngelamar Nai. Weeeek." Huhft Naila malah menganggap itu hanya racauan kosong tanpa isi yang berarti.
"Jangan so alergi gitu, mesjid deket lho. Kalo kakak minta sama Allah, Nai jadi istri. Terus di kabulin. Apapun rintangannya ga bakalan bisa di tolak lho Nai." Serius Nandang sambil mengusap ponselnya.
"Iih... kak Nan. Ngomongnya kaya orang mabok. Pulang yuks, kak. Sholat di rumah aja." Ajak Naila yang merasa obrolan itu unfaedah, tapi mampu membuat jantungnya nyut nyutan aneh.
"Tanggung, ntar adzannya pas di jalan kitanya. Mending kamu chat Ndin. Bilang kita pulang agak telat. Kamu taukan, mulut Ndin satu servers sama kak Ros nya ipin dan upin."
"Ha...ha... Kakak juga nonton kartun?" tanya Naila.
"Jangankan ipin upin, barbie edisi apa aja sudah kakak tonton demi nemenin emak Nai." Cerita Nandang.
"Hmm... emak memang segalanya bagi kakak dan An." Lirihnya.
"Coklat hangat, teh tawar. Sosis jumbo bakar 2, Eggrool 2 dan kuaci. Benar mas?" tanya pelayan yang sudah mendekati meja mereka berdua.
"Iya,... benar. Terima kasih mba." Sahut Nandang ramah. Dan pelayan itu pun berlalu.
"Nih via chat."
"Kakak sering ke sini."
"Tidak sering, hanya pernah. Teh tawar buat mu ya? Coklatnya untuk kakak. Kalo cemilannya kurang boleh nambah, asal ga usah yang ngandung karbo. Tapi kalo mau timbangannya ngiri aja. Kalo ga puas tanpa karbo juga ga papa. Itu pilihanmu."
"Kakak juga mau Nai kurus?"
"Ga."
"Tapi sejak kita jalan pas makan satr. Kakak tuh suka ngatur menu makanannya Nai lho."
"Oh... saran aja. Kalo memang merasa harus memenuhi tuntutan pacarmu itu. Kakak kasian liat kamu harus panas panasan lari sampe basah, demi mau ngurangin berat badan. Padahal olah raga itu hanya membentuk,
badan, mengatur pola makan lah kunci, agar berat badan ideal. Ya... maaf kalau ternyata pengaturan menu yang kakak sarankan buat kamu tersiksa. Nih daftar menu, pesan deh sesuai selera." Nandang agak serius, berharap Naila tidak tersinggung dengan pengaturannya seputar pola makan.
__ADS_1
"Ga papa kak. Naila malah senang kok. Kakak ga pernah maksa juga, Naila masih bisa menikmati makanan yang enak. Hanya ngurangi porsi nasi dan gula. Nai masih bisa makan ayam seluasnya, telur juga. Ini sungguh ga nyiksa kok." Jawab Naila riang.
"Kakak kira Nai tersinggung atau marah gitu."
"Ya ga lah kak. Makasih."
"Tapi... kalo boleh. Selama masih di rumah ga usah ketat gitu deh."
"Kenapa?"
"Kalo Nai taat, 1 bulan saja. Mungkin kakak adalah orang yang Nai mintai tolong, ngantar Nai beli baju dengan ukuran lebih kecil deh."
"Masa...?"
"Terus... pas orang tua Nai datang, kami jadi tersangka. Ga kasih makan anak orang selama di titip. Jadi, gendut saja dulu setidaknya sampai mereka tiba." Kekeh Nandang dengan senyum tampannya.
"Aah... Kakak ada ada aja."
"Nah... adzan. Yuk kita sholat dulu Nai. Nanti balik sini lagi." Ajak Nandang sembari menutup makanan mereka agar tidak di hinggapi binatang.
Selanjutnya, mereka tampak masih betah duduk nongkrong layaknya pasangan berpacaran pada umumnya.
"Kamu sering jalan seperti ini dengan Heru, Nai...?" telisik Nandang.
"Sering sih tidak, hanya beberapa kali."
"Terus, ini ga papa kita jalan berdua?" Nandang baru ingat kalau yang ia ajak adalah kekasih orang. Mana taukan tiba tiba ada yang kasih bogem mentah.
"Sudah ijin kok. Heru juga lagi keluar kota, dinas luar sampai hari minggu katanya."
"Oh... pekerja keras juga, jumat sampe minggu masih berdinas. Kamu ga curiga Nai?"
"Hah... ga. Biasa aja. Mungkin memang sudah begitu jadwalnya."
"Hati hati, di kantor banyak cewek se ksi lho. Ntar cowokmu kepincut, kamu di tinggalin deh."
"Aku malah baru tau lho, kalo kak Nan mulutnya sekompor itu. Tadi so mau jadiin Nai calon istri, sekarang malah nakut nakutin, pacar Nai lirik cewek lain. Comel banget deh." Komentar Naila kena mental Nandang. Baru sadar jika dia sudah semakin los doll saja mempengaruhi Naila.
"Hahaa... maaf. Cuma ngetes. Sepercaya apa kamu sama dia."
__ADS_1
"Bukannya percaya itu harusnya sama Tuhan saja kak?" Tawa Naila berderai meledek Nandang yang kikuk.
Bersambung...