
Naila tak tau perasaan apa yang menjalar dalam hatinya. Tapi ia merasa memeluk Nandang dari belakang itu sangat nyaman. Walau ia juga tau, itu tak pantas di lakukan.
Mereka bukan pasangan halal, bahkan tidaklah sepasang kekasih. Tapi, ada apa dengan hatinya? Kenapa dengan wajahnya yang selalu tersungging dengan sendirinya. Ia tak sadar.
Dan Nandang menikmati senyum itu melalui kaca spion yang salah satunya sengaja di tuju untuk penumpang di belakangnya.
"Hari ini sampai pukul berapa?" tanya Nandang memundurkan punggungnya. Haiiiis benda kenyal itu tertempel sempurna di punggunya, secara tak sengaja.
"Cuma sampai pukul 9." Jawab Naila. Alami sekali, takut Nandang tidak mendengat jawabannya, ia semakin merapatkan tubuhnya. Bahkan mulutnya hampir di buat menempel di telinga Nandang.
Ingin Nandang usil, tiba tiba menoleh ke arahnya, tentu saja bibir Naila akan mendarat di pipi mulus Nandang . Ah, Nandang tidak mau menciptakan kecanggungan itu. Bisa boncengan saja ia bahagia, apa lagi bisa ciuman, walau hanya di pipi.
"Oke... nanti kak Nan tunggu ya. Nai juga tunggu kak Nan kalo urusan kakak belum beres." Ujar Nandang sambil mengambil helm yang di sodorkan oleh Naila.
"Oke... siap kak. Terima kasih." Jawabnya ceria.
Nandang itu modus saja ke kampus. Jadwal KKNnya sudah di kirim di dalam group WhatsApp. Ruangannya malah di gunakan oleh adik tingkat untuk belajar. Jadi, kantin adalah satu satunya tempat yang bisa ia jadikan tempat tongkrongan menunggu Naila.
"Waaaw...roman wajahmu ceria banget hari ini Naila? Ke lagi jatuh cinta." Mala menyambut kedarangan Naila yang terlihat memasang senyum sumringah saat baru masuk kelas.
"Hah... ngaco kamu. Biasa aja kali La."
"Jangan bohong. Kamu habis di lamar Heru ya?"
"Lamar... boro boro, ngajak kencan aja jarang."
"Makanya, aku rada aneh sih sama hubungan kalian. Buang waktu tau ga."
"Buang waktu gimana?"
" Ya iyalah... lama doang tapi ga berkualitas. Niat serius ga siih? Apalagi dia sudah punya kerjaan. Ga papa kali mikir ke tahapan selanjutnya, tunangan kek. Jadi ntar begitu lulus kuliah nikah deh."
"Kamu mikirnya kejauhan La."
"Kamu tuh yang mikirnya buntu."
"Hm... ga tau ah La. Kesininya kok aku sama Heru rasanya makin jauh. Kedekatan kami tuh, kayak ada jarak. Padahal, deket doang kan ga bikin hamil juga. Hahaa... haa."
"Kamu mau di buat hamil oleh Heru?"
"Ya ga gitu juga maksudnya. Dia tuh, kayak masih malu kalo deket aku La. Yang dia bahas di chat selalu progres penurunan berat badanku. Stres akunya." curhat Naila pada Mala sebelum dosen masuk membagi lembaran soal UTS
__ADS_1
"Selamat menjawab soal UTSnya ya. Semangat." Isi chat Nandang untuk Naila.
Senyum Naila sekilas melebar kekiri dan kanan, lalu membalasnya dengan cepat.
"Iya kakak. Thx😚" Ekspresi itu tak luput dari tatapan curiga Mala.
"Ehceeem." Colek Mala di pinggang Naila.
"Katanya hanya chat progres penurunan berat badan. Tapi kok bahagia gitu." Mala masih saja meledek Naila.
"Apaan siih... bukan Heru kali." Mala melotot ke arah Naila, dan tak sempat bicara apa apa, karena Dosen sudah mendekat.
"Kamu utang penjelasan ya sama aku." Bisiknya lagi sekilas sebelum serius mengerjakan tugas.
Nandang memang tidak ada mata kuliah lagi, tapi waktu kosongnya selalu ia gunakan untuk membaca. Maka setelah bosan di kantin, ia pun beranjak ke perpustakaan kampus. Untuk mencari refrensi isian skripsinya nanti.
"Kakak dimana? Nai sudah selesai." Chat Naila pada Nandang saat ia sudah berada di luar kelas.
"Di Perpustakaan, oke deh. Kak Nan meluncur ke parkiran ya." Balasnya dengan cepat dan gemuruh hati yang berdebar tak karuan.
Nandang pun sudah berada di depan Naila, menyodorkan helm dengan senyum terkembang.
"Boleh ke market dulu kak? Tadi An minta Naila masak buat siang."
"Hah? Ndin minta kamu masak. Euis ga masak?"
"Katanya gantian."
"Dan kamu mau mau saja di suruh suruh Ndin?" Agak keras suara Nandang, gemash dengan adiknya yang sok sok an memberi perintah pada tamu spesial.
"Ya wajar lah. Udah numpang gratis masa masak juga ga mau."
"Mang bisa masak?" ledek Nandang pada Naila.
"Nai ga segede ini kali kak, kalo ga hobby masak dan makan." Kekeh Naila tertawa lepas.
"Kali... anak tunggal yang manja."
"Kakak...."
"Oke... mau masak apa niih?"
__ADS_1
"Ayam teriaki aja, itu kesukaan Nai kak."
"Baiklah... kita ke pasar tradisional saja mau?"
"Boleh... Nai ga pernah juga."
"Kalo masih jam segini, pilihannya masih banyak Nai. Sayurnya juga masih segar."
"Oke deh kak."
Keduanya sudah seperti pasangan baru menikah saja, walau masih berpakaian rapi setelah kuliah. Mereka terlihat akur memilih bahan yang akan di masak oleh Naila nanti.
"Nai... nanti malam kita ngegril yuk. Ajak Andino, biar ga kita berdua saja di atas." Tiba tiba ide Nandang muncul saat melihat box daging beku dan beberapa macam sosis dan aneka baso lainnya.
"Kakak beneran mau Naila tetap gendut?"
"Yang bikin gendut itu karbo, Nai. Kalo protein ga papa. Cobain deh. Walau sampai kenyang dan berapa kali pun makan dalam sehari, tanpa karbo. Akan ke kiri timbangannya. Beneran." Nandang menyakinkan Naila.
"Aaaauuucch." Naila tersenggol oleh buruh angkut yang membuatnya kehilangan keseimbangan.
Untung saja Nandang selalu siap siaga di sampingnya. Jadi Naila hanya jatuh ke pelukan Nandang tidak sampai terjerembab.
"Maaf mbak." Ucap buruh itu sekilas kemudian berlalu.
Naila hanya terkesiap mendapati tubuhnya dalam pelukkan Nandang.
"Maaf..." Ujar Nandang melepas pelukan yang sempat menghentikan waktu beberapa detik.
"Ga papa. Makasih ya kak. Hampir aja Nai jatuh."
"Maaf... karena ajak Nai ke pasar tradisional. Jadi ketabrak deh. Udah sini kak di depan kanan. Biar ga kesenggol lagi." Nandang dengan cueknya memegang tangan kanan Naila untuk melindungi gadisnya.
Naila selalu tak punya alasan untuk menolak semua kontak fisik yang di lalukan Nandang padanya. Naila sangat menikmati kebersamaan dan kedekatan itu.
Naila sungguh merasa nyaman bersama Nandang, tidak pernah merasa di intimidasi. Tak pernah merasa malu atau rendah diri, karena ukuran dan bentuk tubuhnya.
Perasaan yang berbeda dengan Heru, yang isinya hanya menyindir kegemukannya. Bahkan, tak pernah inisiatif mengajaknya jalan jalan ke tempat umum. Apalagi mendukungnya untuk banyak makan seperti yang Nandang sarankan padanya.
"Apa aku harus pikir ulang tentang rasa cintaku pada Heru? Kenapa bersama kak Nandang aku justru merasa nyaman?" Batin Naila diam diam meresapi genggaman tangan Nandang yang erat melindunginya.
Bersambung....
__ADS_1