
Nandang dan Naila sudah tiba di rumah kediaman pa Bagus hampir magrib. Lumayan lama kedua insan yang baru meresmikan hubungan mereka itu menghabiskan waktu bersama.
Pak Bagus agak heran melihat anaknya baru turun dari motor yang di kemudikan oleh Nandang.
"Nan... mampir dulu. Magriban sama bapa di langgar komplek. Kalau kamu pulang pasti ga keburu." Ajak Bagus yang tidak menaruh rasa curiga apa apa, jika kini Nandang adalah kekasih putri tunggalnya tersebut.
"Oh... iya. Baik pa." Tanpa pikir panjang Nandang langsung menerima tawaran pa Bagus untuk sholat bersama di masjid.
Sementara Naila memilih masuk rumah dan tidak menggubris ke hadiran Nandang lagi.
Sebab seperti biasa, kalau ada Nandang. Ayahnya akan mendominasi waktu bersama Nandang, untuk dijadikannya lawan ngobrol.
Nandang dan Pak bagus sudah tampak Pak pulang dari langgar di komplek kediaman Nayla tersebut kedua pria beda generasi itu sama-sama masuk kedalam rumah Pak bagus.
"Nan, kamu sedang tidak keburu buru kan? makan malam di sini sajam Kita berdua lama tidak bermain catur." Ajak pa Bagus yang tak tau, Nandang bakhan sejak pagi tadi tak berada di rumah.
Ah, Nandang. Yang beralasan pulang karena rindu emak juga Andini. Ternyata hanya isapan jempol, aslinya Naila lah alasannya pulang ke Bandung.
Nandang tak punya alasan untuk menolak tawaran pak Bagus, walau badannya mulai berbau kecut, ia percaya diri saja tak ingin segera pulang.
Saat mereka berempat sudah di meja makan, dan mulai menikmatu makan malam sederhana, dadakan di rumah Naila. Pak Bagus baru terpikir untuk bertanya, tentang korelasi anak gadisnya yang pulang di antar oleh Nandang.
"Oh... iya. Ayah sampai lupa tanya dari tadi Nai. Kok, bisa Nandang yang antar kamu pulang. Bukannya kamu pamit jalan sejak pulang kuliah?" tanya Bagus apa adanya.
"Iya... ayah. Kak Nan yang jemput Nai di kampus tadi." Jujur Naila pada sang ayah.
Membuat kegiatan mengunyah Nandang sedikit tercekat di dalam rongga mulutnya.
"Kok bisa...?" heran Bagus memandang Naila dan Nandang bergantian.
"Nan dan Naila sedang saling belajar mengenal satu sama lain lebih dekat pak." Jawab Nandang dengan kata kata yanh lumayan ribet.
__ADS_1
"Kalian pacaran?" tembak ayah Naila dengan nada sedikit terkejut.
Yang di tanya hanya saling pandang, lalu menghadap ke arah pa Bagus. Kemudian sama sama mengangguk.
"Lho... kamu sudah putus sama Heru, Nai?" bu Tatik ikut bicara. Tak tau kabar terkini anak gadis semata wayangnya.
"Iya bu." Jawab Naila cepat.
"Kalian putus karena, Nandang?" lagi pak Bagus menebak asal asalan. Dengan tatapan menuduh ke arah Nandang.
"Hah...? ti... tidak." Jawab Nandang agak terbata.
"Benar Nai?" Pak Bagus memastikan.
"Tidak ayah. Nai dan Heru sudah lama putus. Kami renggang sejak ayah dan ibu Umroh." Jawab Naila mengakui tanpa malu bahkan pada kedua orang tuanya.
"Artinya kalian renggang saat kamu tinggal di rumah Nandang kan. Bisa jadi Heru salah paham dengan kedekatan kalian." Pak Bagus mengira ngira.
Dan Nandang hanya menggendikkan bahunya. Sebab merasa tak mengganggu hubungan Naila dan Heru.
"Tidak ayah... Kak Nan tidak merusak hubunganku dan Heru. Sebut saja, hubungan kami sudah rusak sebelum kami dekat." Bela Naila pada dirinya.
"Ayah tidak melarang kalian berhubungan. Ayah hanya malu jika anak ayah, membangun suatu hubungan baru dengan orang lain. Sebelum membereskan hubungan dengan yang terdahulu." Naila tertunduk ingin membela diri, tapi ayahnya terlalu curiga pada Naila.
"Maaf Pa... kami baru hari ini meresmikan kesepakatan kami. Sedangkan Nai dan Heru sudah 2 bulan lalu berakhir. Nan, kira. Nan tidak merebut atau merusak apapun dari seseorang di masa lalunya Nai." Akhirnya Nandang membantu meyakinkan ayah Naila.
"Iya... tapi apa kamu sudah putus baik baik dengan Heru? Hubungan kalian tidak sebentar lho, Nai." Sergah pak Bagus mengingatkan.
"Iya... kami putus baik baik." Jawab Naila pelan agak ragu.
Bagaimana Naila bisa dengan percaya diri mengatakan ia putus dengan baik baik, jika selama ini ia hanya membuang waktunya jalan dengan orang yang tak baik.
__ADS_1
"Maaf... boleh Nan pulang tanpa bermain catur terlebih dahulu dengan bapak?" tanya Nandang yang merasa gerah dengan pakaian yang sejak pagi tak berganti. Juga gerah mulai gerah dengan obrolan yang membuatnya ketar ketir.
Pa Bagus tidak menahan Nandang kali ini. Fokusnya masih dengan hubungan Naila yang terputus dengan Heru. Ia bukan lebih suka dengan Heru. Ia hanya takut, anaknya yang seolah berselingkuh. Atau belajar mempermainkan hati lelaki. Itu saja yang membuat Bagus agak gusar. Perihal Nandang kini jadi kekasih anaknya, tentu saja hatinya justru berkedut kedut kesenangan. Bagus sudah lama kenal kepribadian Nandang. Tapi ia tak mau terlihat terlalu nampak welcome pada Nandang. Agar Nandang tidak ngelunjak, itu yang ada dalam pikirannya sekarang.
Maka saat Nandang benar sudah pulang. Bagus kembali mendekati Naila masih terlihat menikmati puding mangga kesukaannya.
"Benar...? Kamu putus baik baik dengan Heru, Nai?" Pa Bagus terus memburu, merasa Naila masih menyimpan sesuatu darinya.
"Ayah... Nai tidak bisa melanjutkan hubungan Nai dengan lelaki yang telah siap menikah dengan wanita lain." Suara Naila lirih, kepalanya tertunduk menghadap piring kecil berisi puding tadi, yang telah kosong.
"Heru...? Heru akan menikah dengan wanita lain maksudmu?" cecar pa Bagus dengan nada tak kecil.
Naila mengangguk.
Ada sampiran sedih pada kilatan manik mata Naila. Tapi tidak ada air mata, berkacapun tidak di mata itu.
Naila tidak kecewa atas pengkhianatan yang Heru lakukan. Hanya malu juga sedih atas kebodoohannya yang terlalu lama bertahan dalam ketidaknyamanan, demi status memiliki seorang kekasih.
Itu saja yang Naila sesali.
Naila yang mau saja membuang waktu berharganya bahkan hampir melewatkan kesempatan untuknya mendapat sesuatu yang jauh membuatnya bahagia.
"Ayaaah... sudah lah. Nai sudah dewasa. Anak kita bukan lagi remaja labil. Ia pasti bisa menilai mana yang baik dan tidak." Bu Tatik merasa perlu membela anak gadisnya.
Sedikit terkejut dengan informasi yang Naila sampaikan pada mereka mengenai Heru.
"Kamu tau dari mana, dia akan menikah?" tanya bu Tatik pelan.
"Naila memergoki mereka yang sedang sibuk memilih materi persiapan pertunangan mareka. Dan Heru akan menikah dengan Elsa. Teman SMA Nai." Jelasnya pada sang ibu yang sudah menepuk punggung anaknya.
"Tuh... ayah dengar sendiri. Nandang tidak merusak hubungan mereka. Di sini anak kita justru korbannya Heru. Kira-kira. Nandang justru penyembuh luka hatinya. Benar begitu, Nai...?" pancing bu Tatik yang mulai bisa menangkap sinyal dalam hati anak gadisnya.
__ADS_1
Bersambung...