
"Udah jelas kali... aku suka kamu Nandang. Aku ga suka ada cewek lain deketin kamu. Paham?" Gadis sudah putus urat malunya. Tak ada lelahnya mengaku jika ia suka Nandang. Bahkan makin parah semakin merasa jika Nandang adalah kekasihnya.
"Aku juga sudah pernah berkata dengan jelas sama kamu, kalo aku tidak bisa menerima perasaanmu yang berlebihan itu. Aku sudah punya kekasih, sudah punya calon istri. Paham?" akhirnya Nandang juga tidak bisa memendam rasa jengkelnya pada Gadis.
Noni, sudah dapat membaca kelakuan Gadis. Maka, di malam mereka ngobrol waktu itu. Noni sudah wanti wanti, agar Nandang bersikap tegas saja dengan perempuan model Gadis. Sebab, tipe ini ga mudah menyerah dan putus asa. Bahkan bisa bertindak di luar dugaan. "Kalau kamu ga punya perasaan lebih sama dia, jangan sama sekali kasih celah dia bisa dekat, apalagi ngomong macam macam ke kamu. Yang ada dianya nekat. Apalagi sekarang kalian lagi di kampung orang. Bisa saja kamu di jebak, saat berdua duaan dengannya. KKN ga kelar, nikah mendadak iya." Begitu komen Noni malam itu, yang sangat menyadarkan Nandang.
Sejak saat itu, Nandang sungguh tak berani berdua duaan seperti biasanya dengan Gadis. Selalu ia libatkan Arman, Lyra, atau minumal Dita yang selalu standby di penampungan untuk menaninya.
Nandang lebih berani dekat dengan Dita, walau sudah berstatus istri orang, istri dosennya pula. Tapi tak ada maksud dan niat apapun untuk menjadi pebinor tentunya.
Nandang selalu senyum dan penuh keikhlasan, tiap saat Dita meminta tolong padanya untuk melakukan ini dan itu.
"Dit... sebenarnya aku kok ngerasa kaya ayah bayi itu deh. Kamunya manja banget sama aku, giliran ada pa Akbar. Dia kebagian di layanimu bukan melayanimu." Umpat Nandang saat tengah malam, Dita minta buatkan telor ceplok pake kecap untuknya.
"Ya mana aku tau... kita kenal juga baru di desa ini. Mang ngidam bisa di atur maunya apa?" tanya Dita manyun manyun.
"Mana ku tau. Kan aku laki laki, ga tau rasanya ngidam dan ga bisa hamil juga." Jawab Nandang sambil terus beraktivitas di dapur untuk Dita.
"Nandang... kamu udah punya pacar?" tanya Dita saat sepiring nasi dan telor ceplok sudah tersedia untuk Dita.
"Kenapa kamu tanya seperti itu, Dita?" tanya Nandang yang memilij duduk di depan Dita, menemaninya makan.
"Ah tidak apa-apa hanya bertanya saja. Betapa beruntungnya wanita yang akan menikah denganmu nanti, karena kamu tuh, sangat perhatian, hangat dan tidak memilih-milih orang lain untuk selalu kamu layani dengan ramah, senyum dan ikhlas. Eh, apa iya kamu benar-benar ikhlas melakukan semua ini untukku Nandang?" Ungkap Dita panjang lebar
"Kamu ini bicara apa sih Dit? Ya iyalah aku ikhlas. Sesama manusia itu, harus saling tolong-menolong bukan?" cecar Nandang pada Dita.
"Iya... iya aku percaya denganmu tapi pertanyaanku tadi belum kamu jawab kan. Kamu sudah punya pacar Ndang?" Kepo Dita kembali sambil terus menikmati nasi dan telor buatan Nandang.
"Gimana ya Dit, pacar sih belum jadian. Tapi punya lah cewek yang aku suka." Pikiran Nandang menerawang jauh, ke sosok bayangan Naila gadis pujaannya.
__ADS_1
"Oh..., Cantik ya?" penasaran Dita meningkat.
"Cantik lah, menurutku. Gak tahu kalau menurut orang lain." Senyum Nandang terkembang.
"Kuliah juga?" tanya Dita lagu.
"Iya, adik tingkat kita. Tepatnya dia adalah sahabat adikku." Jawab Nandang seadanya.
"Kenapa belum jadian, sih Ndang?"
"Aku malu dan juga aku belum menemukan waktu yang tepat untuk menjadikan dia kekasihku." Nandnag mendadak lesu, menyadari kepengecurannya.
"Oh gitu, udah lama kenal Ndang?" rentetnya makin penasaran.
"Wah, kalau kenal sih sudah dari zaman di SD kali Dit." Kekeh Nandang.
"Terus kamu suka sama dia sejak itu?"
"Ooh..., terus terus. Kenapa kamu belum jadian sama dia sampai sekarang?" Dita makin ingin tau. "Karena dulu kan kami tinggalnya di desa. Jadi ceritanya dia itu anak pak Camat, lalu kami pindah ke kota Bandung. Dan kami terpisah." Jelas Nandang.
"Oh.. Lalu bertemu lagi?"
"Iya kan dia sahabat adikku,Dit. Jadi secara otomatis kami bisa bertemu kembali. Karena mereka ternyata tidak pernah putus kontak seperti itu."
"Terus kenapa kamu nggak jadian sama dia soalnya dia ?" Nasi di piring Dita sudah habis, tapi cerita Nandang justru tidak membuatnya ingin beranjak dari tempat duduknya.
"Dia sudah punya pacar kemarin." Jawab Nandang singkat.
"Oh... kamu ditikung nih? Kasian banget sih jadi kamu Ndang. Udah nunggu sejak zaman SD, giliran bisa ketemu orangnya, eh... udah punya pacar." Tawa Dita lepas menertawakan nasib percintaan Nandang yang agak suram.
__ADS_1
"Ga gitu juga sih... tapi ya kurang lebih lah seperti itu." Ekspresi wajah Nandang datar.
"Terus, terus, terus...?"
"Apa sih terus melulu? Ntar ketemu tikungan nyunsep lho Dit." Nandang senyum tersungging.
"Aku penasaran aja gitu loh, kok kamu bilang nggak punya waktu yang tepat gitu. Jadi kamu berniat mau ambil dia? Rebut dia gitu dari pacarnya?"
"Iih... Sorry ya. Ambil pacar orang. Pas baru ketemu tuh emang dia udah punya pacar. Tapi sekarang udah putus. Dia ditinggal pacarnya mau tunangan, apa nikah gitu. Jadi dia sekarang lagi dalam rangka patah hati."
"Nah sosor daah Ndang...."
"Ya ga bisa gitu dong Dit. Ga mungkin kan akunya langsung nembak gitu."
"Iya mungkin aja kali Ndang, ga apa-apa. Wajar kok. Orang dia juga udah putus ditinggal nikah pula. Kamu takut dibilang ngambil pacar orang? Mungut sisa gitu?"
"Bukan masalah takut di kira ngambil pacar orang Dit. Soalnya kalau aku buru-buru nembak dia, takutnya dia terima aku hanya sebagai pelariannya saja. Ga bener tulus gitu terima aku." jelasnya lagi.
"Oh iya juga sih, ya. Kamu cinta banget ya sama dia?" tanya Dita lagi.
"Ga ngerti cinta juga sih akunya. Tapi selama kita di sini, dadaku mulai sakit Dit."
"Kenapa?"
"Nahan rindu lah."
"Ciee... yang udah cinta mati. Perlu ku bantu ijin sama mas Akbar niih? Biar minggu besok kamu boleh libur?" pancing Dita yang sudah mengubah panggilannya pada Akbar, sejak resmi di nikahi secara siri.
"Ga usah kamu bantu ijin juga. Emang udah waktunya aku libur kali Dit." Senyum Nandang terkembang. Membayangkan dua hari lagi, ia akan menuai sedikit rasa rindunya pada rumah beserta isinya. Juga Naila yang katanya sudah menyiapkan kejutan untuknya.
__ADS_1
Bersambung...