
Nandang salah tingkah saat di tebak Andini suka pada sahabatnya. Tapi Nandang dan Andini sejak lama selalu akrab dan berbagi rasa suka maupun duka. Maka Nandang tidak merasa harus menutupi perasaannya pada sang adik.
"Segala pake taruhan. Itu haram... you know?" Nandang mencubit hidung adiknya dengan gemesh.
"Makanya ngaku dong kak. Ku bilangin ya... Nai itu, sekarang lagi di taksir seorang pengusaha yang bekerja di perusahaan tambang. Udah manager lho jabatannya. Kalo aku komporin dikiiit, jamin pasti jadian deh mereka berdua." Andini memulai bualannya pada sang kakak yang hubungannya hanya jalan di tempat.
"Masa...?"
"Makanya kalo suka, buruan tembak. Keburu ngilang dianya di embat sama orang mapan."
"Ya kalo dia milih jadian sama yang mapan, kakak bisa apa?"
"Usaha dong kak."
"Tapi kan jelas jelas saingan kakak pria mapan. Sedangkan kakak...? di ibaratkan pahlawan juga, levelan Patimura yang cuma bisa nampang di duit seribu."
"Hadeeeeh. Tempe banget sih mental kakak. Ndin bilangin ya..." Ujar Andini yang menoleh kekiri dan kekanan. Memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Mau bilang apa?" tanya Nandang agak santai tapi juga berharap agar nanti Andini segera menyampaikan sebuah rahasia yang akan membuat hatinya lega.
"Ndin cuma mau bilang, agar kakak jangan patah semangat. Kuliah kakak memang utama, sebab sudah berada di masa penghujung waktu. Tapi urusan cinta juga jangan di remehkan, masa besok wisuda fotonya cuma sama Ndin dan emak." Kekeh Andini setengah mengolok Nandang.
"Anak kecil... tau apa soal cinta." Tukas Nandang memandang Andini sebelah mata.
"Anak kecil apaan. Andin sudah punya KTP ya kak. Udah punya SIM juga. Kalo kakak lemot, jangan jangan ntar duluan Andini yang punya buku Nikah." Andini sengaja memanaskan suasana hati sang kakak.
__ADS_1
"Hah... serius kamu sudah mau nikah? emang punya pacar?" ledek Nandang yang tak pernah melihat tandabtanda jika sang adik memiliki kekasih atau teman dekat laki laki.
"Gegara nungguin kakak punya pacar niih, yang bikin calon suami Ndin ga berani menampakkan diri di rumah." Ucapnya seolah kesal.
"Haaah... kamu sudah punya pacar? Mana? Kenapa ga di kenalin ke kakak?" tanyanya dengan mata membulat besar.
"Yakin mau di kenalin? baru tau Ndin punya pacar aja, mata kakak sudah segede kelereng gitu, mau keluar. Gimana besok kalo orangnya menjelma di depan kakak." Andini selalu suka mengerjain sang kakak.
Tapi soal kekasih, Andini memang sudah lama di dekati oleh seorang pengusaha. Pengusaha yang Andini bilang naksir Naila itulah yang ia maksudkan. Karena sesungguhnya, akhirnya Naila jujur pada Andini, merasa ada yang aneh dengan perasaannya pada Nandang.
Andini ahli dalam urusan merangkai kata, baik untuk Naila juga pada Nandang. Maka keduanya sama sama tersulut. Yang satu mengira jika kini memiliki saingan berat yakni seorang pria mapan. Sedangkan Naila, ia biarkan berada dalam keyakinan jika Nandang menyukai wanita yang sempurna di bidang apa saja.
Atas info dari itulah yang membuat Naila memutar otaknya untuk berpikir. Akan melakukan apa, agar Nandang bisa beralih memandangnya sebagai wanita sempurna, bukan hanya sekedar sahabat adik Nandang.
Nandang sudah berbaju koko, akan siap menjalankan rukun Islam yang kedua bersama Andini. Namun, deru mobil terdengar mendegus di luar rumah. Membuat mereka menunda sebentar untuk mulai beribadah. Demi melihat siapa gerangan yang datang.
Rupanya itu adalah pak Bagus sekeluarga yang mengantarkan mak Puspa dan Euis yang juga ikut serta.
"Assalamualaikum." Sapa pak Bagus masuk rumah di susul bu Tatik yang terlihat berjalan bergandengan dengan Puspa.
"Walaikumsallam." Jawab Nandang ramah dengan mata berbinar melihat segerombolan orang orang itu masuk ke dalam rumahnya.
"Tunggu Nan, kami sekalian ikut sholat di sini saja." Tukas pa Bagus tanpa basa basi masuk rumah keluarga Nandang yang baginya sudah seperti keluarga sendiri. Lalu buru buru menuju belakang akan berwudhu.
"Oh... iya pak." Jawab Nandang yang fokusnya tidak pada pak Bagus. Melainkan ke arah Naila, si gadis pujaan.
__ADS_1
Naila yang sepertinya kehilangan berat badan lebih dari 5kg. Nandang taksir mungkin hampir 10 kg. Pipi chubynya mengempis, perutnya tak empuk lagi, pinggangnya lebih jelas bentuknya, juga lehernya terlihat lebih jenjang tak lagi pendek seperti bulan lalu. Apakah itu kejutan yang Naila katakan padanya. Naila gendut saja cantik di mata Nandang apalagi langsing.
Tidak sampai 15 menit semua orang dalam rumah Nandang sudah tampak siap dengan pakaian bersih, khas mereka beribadah. Kali ini, pak Bagus meminta Nandang yang memimpin ibadah mereka.
Haru dan syahdu rasa yang merayap dalam hati mereka. Terutama Nandang, tak terpikir olehnya. Saat ia bisa mengambil waktu libur, akan memiiliki kesempatan bisa sholat berjamaah.
Bahkan tidak hanya dengan Andini. Melainkan bersama emak Puspa yang sudah semakin sembuh, walau tidak semua ingatan dan cara pikirnya tidak seperti dulu. Tapi paling tidak dia sudah tau, jika ia adalah seorang ibu dari 2 anak bernama Nandang dan Andini.
Bagi Nandang itu adalah hal yang sangat luar biasa dan yang sangat ia rindukan selama ini. Puspa sudah tahu bahwa Nandang bukanlah suaminya melainkan anak beliau.
Ibadah tersebut berjalan dengan lancar dan juga khusuk, terlebih-lebih Nandang merasa senang karena tidak hanya bisa beribadah bersama ibu dan adiknya melainkan juga gadis impiannya yang beribadah dengan kedua orangtuanya.
Entah mengapa Nandang merasa bahwa Pak bagus dan Bu Tatik adalah bagian dari orang tuanya, lebih tepatnya ia berhalusinasi jika itu adalah mertuanya. Aah Nandang pun bisa sedikit gila ternyata.
Pak Bagus sebenarnya terkejut sekaligus senang, saat masuk rumah tadi. Melihat ada sosok Nandang yang sudah siap dengan pakaian kokonya akan siap melaksanakan sholat.
Karena itu setelah beribadah ia kembali mengajak Nandang yang lainnya untuk pergi keluar.
"Nan, Bapak tidak tahu kalau kamu ada di rumah. Sekarang bagaimana kalau kita keluar lagi, kita makan bersama di luar saja." Pak Bagus antusias saat melihat Nandang ada disana.
"Ah... Bapak selalu suka merepotkan diri kalau sudah melihat ka Nan." Celetuk Nandini sambil tertawa.
Sementara Nandang dan Nayla sama sekali belum saling bicara hanya lirik-lirikan dan saling melempar senyum di antara pandangan mata orang-orang yang tidak sempat melihat mereka, hal tersebut membuat sesuatu rasa merayap di dalam hati keduanya yang tak saling bertegur sapa, namun mata mereka bicara bahwa keduanya benar-benar sedang saling merindukan satu sama lain.
Bersambung...
__ADS_1