
Nandang semakin tak ingin beranjak pergi dari bengkel itu. Walau ia tak kenal dengan tukang bengkel tersebut.
Tapi, menurut Nandang yang di sampaikan bapak tersebut tidaklah salah. Bahkan ia bisa banyak belajar dan mencari tau tentang apapun, sesuai tafsirannya sesama laki-laki. Nandang telah lama tak memiliki ayah, tentu cara pandang ibu dan adiknya berbeda dengan cara pikirnya. Sedangkan curhat dengan pak Bagus juga
tidak mungkin, Nandang sungkan dan hormat pada ayah kekasihnya tersebut.
“Kamu bayangkan saja, anak seorang wali kota jatuh cinta pada seorang lulusan diploma II yang kesehariannya sebagai tukang bengkel untuk menafkahi wanita yang katanya di cintai itu. Bukan hanya pro yang kami tuai, kontra sudah pasti.” Lanjutnya memberi ilustrasi.
“Apakah orang tuanya sungguh rela melepas anak mereka untuk bapak?” tanya Nandang pelan.
“Orang tua mana yang rela menyerahkan anak yang mereka lahir, besarkan dan didik dengan kasih sayang dan keuangan yang mapan. Tiba saat menikah memilih hanya dengan seorang tukang bengkel?” ujarnya pada Nandang.
“Tentu saja di awal menikah kami sering tarik ulur. Seperti kucing pindah. Nanti di minta ke rumah besar, nanti ke
kost. Hah… dramatis sekali.”
“Lalu bagaimana bapak akhirnya berhasil tetap hidup layak bersama istri?”
“Janji. Janji seorang laki-laki terhadap ayah wanita yang kamu cintai adalah kuncinya. Kepastian menyerahkan pada orang yang tepat adalah sumber ketenangan bagi ayah mertua.” Ucap bapak itu pasti.
“Jaminkan hidup wanitamu tak kurang kasih sayang saja, maka rejeki dalam bentuk apapun akan melimpah atas hidup dan kehidupan kalian.” Mata Nandang berbinar-binar. Seolah menemukan jalan keluar untuk hubungan dan perasaannya pada Naila selama ini.
“Apakah… bapak pernah menyerah?” tanyanya lagi.
“Jangankan menyerah dan putus asa. Berpisahpun sudah pernah bapak lakukan. Bapak kembalikan saja wanita yang bapak janjikan untuk bahagia itu pada orang tuanya.” Kekeh bapak itu tertawa sendiri.
“Lalu?”
“Tapi ternyata ia malah di kembalikan lagi untuk bapak. Dan di mintai pertanggung jawaban karena anak
orang sudah bapak buat hamil.” Tawanya terdengar galak dan merasa menang.
“Sejak itu, bapak tidak pernagh lagi menyerah, mengeluh apalagi mengemis. Pahit manis, sedih tawa… kami rasakan dan nikmati sendiri. Hingga anak pertama kami lahir, akhirnya bapak mendapat pekerjaan. Dan setelah istri bapak melahirkan anak ke dua, giliran dia yang dapat pekerjaan sebagai guru. Pelan-pelan taraf hidup kami meningkat, Setidaknya stabillah.” Ujar Bapak itu lagi.
“Jika mendapatkan NIP itu saat bapak memiliki anak pertama. Tidak mungkin hingga kini bapak masih pegawai golongan 2.” Nandang teliti.
“Ha… ha… kalau bapak bilang sekarang bapak adalah kepala dinas sebuah instansi di kota ini apa kamu percaya?”
__ADS_1
kelakar bapak itu dengan jenaka.
“Hah… tidak ada yang tidak mungkinbukan di dunia ini.” Sahut Nandang tidak berani menerka.
“Ah sudahlah. Tidak penting juga sekarang bapak golongan berapa dan memiliki jabatan apa? Bagi bapak bisa buka bengkel di tengah malam buta begini saja sudah bahagia.”
“Terima kasih untuk obrolannya ya pak. Oh iya, nama saya Nandang Batuah. Baolehlah nanti kapan-kapan saya mampir lagi. Walau bukan karena ban yang robek.” Pamit Nandang pada bapak itu.
“Boleh… sangat boleh dan bapak tunggu. Saya Sosongko” Ujarnya memperkenalkan dirinya juga seperti Nandang.
“Baiklah… permisi pak.”
“Sebentar. Siapa namamu tadi Batuah? Nama asal mana itu?”
“Ayah saya orang Kalimantan pak. Batuah berarti mendapat rejeki.” Jawab Nandang.
“Nama adalah doa. Itulah harapan yang orang tuamu pintakan pada Allah. Nandang artinya anak laki-laki. Kamu adalah anal laki-laki yang mendapatkan rejeki. Aminkan namamu. Imani jalanmu dan semua doamu di ijabah Allah.” Pesan pak Sosongko pada Nandang.
“Amiin. Assalamualaikum pak.”
“Walaikum sallam.” Balas bapak itu menatap punggung Nandang yang semakin menjauh dari bengkelnya.
Pagi cerah, secerah suasana hati Nandang yang akan menapakkan kakinya ke kampus. Pikirannya sudah bulat. Ingin melanjutkan kuliah magister hukumnya. Suasana rumah masih seperti biasa, rapi dan penuh wangi wangian khas laundry yang merebak seantero rumah tersebut.
Andini memang sudah sarjana, yang artinya masa perkuliahan sudah tak ada. Kembali ke mode pengangguran seperti konteks yang sering Nandang pakai. Namun itu bukan sesuatu yang smembuat Andini
berkecil hati.
“Kak Nan… mang Karman masih bisa di mintai tolong?” tanya Andini saat mereka sarapan bersama.
“Masih… mau minta tolong apa?”
“Ndin boleh merombak bagian depan kamar Euis tidak kak?”
“Untuk…?”
“Mau buat sekat ruangan. Ndin mau buka les calistung untuk anak-anak pra sekolah dan usia sekolah berjenjang.”
__ADS_1
Jawab Andini.
“Kenapa takut ngangur?”
“Bukan… takut otaknya keburu beku kayak kak Nan.” Jawabnya ketus dan kurang sopan.
“Eh… ga sopan. Kamu ga coba ikut tes..”
“CPNS… basi. Ya iyalah ikut sudah Sarjana ini.” Jawab Andini cuek.
“Ya… baguslah. Coba saja… semoga beruntung.”
“Ga dapat juga ga papa. Ga jadi PNS juga, Ndin bisa jadi guru. Walau Cuma guru les pribadi.” Sindirnya.
“Kak Nan doakan kamu dapat ya. Hari ini, kakak mau mendaftar kuliah S-2. Doakan di terima ya. Dan kak Nan dapat menyelesaikannya dengan tepat waktu. Kak Nan juga akan mengikuti PKPA supaya bisa magang di kantor advokat. Agar di depan rumah ini juga bisa di pasang plank pengacara Nandang Batuah, SH. MH.” Imbuhnya dengan penuh semangat.
“Alhamdulilah. Kak Nan nemu wangsit di mana? Tetiba pinter pagi ini.” Puji Andini merasa kakaknya sudah kembali
kejalan yang benar.
“Ketemu malaikat dan Tuhan.” Kekeh Nandang bersemangat.
“Nai… maaf soal semalam. Jika ada waktu. Sore nanti kita kencan.” Chat Nandang pada Naila.
Sampai di kampus Nandang segera berurusan. Mengisi formulir dan melengkapi semua berkas yang di minta. Bahkan hingga selesai semua persyaratan kuliah itupun. Nandang belum mendapat notifikasi balasan dari Naila.
Marahkah Naila pada Nandang?
Sesibuk apakah kini kekasihnya, yang juga sudah tidak sibuk dalam masa perkuliahan.
Nandang segera melajukan motornya ke arah rumah Naila.
Dan mendapati di sana, sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumah Naila. Dan Nandang tau, itu bukan mobil Pak Bagus. Ini pasti mobil tamunya pak Bagus. Sebab, hanya kalangan tertentu yang mempunyai mobil semewah ini.
Nandang mengurungkan niatnya untuk bertandang.
Meraih gawainya, untuk melakukan penggilan pada kontak Naila. Yang beberapa kali ia ulang, namun tetap saja.
__ADS_1
Masuk dalam daftar panggilan tak terjawab.
Berambung…