PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 80 : MELAMAR


__ADS_3

Nandang tak berani memarkirkan kendaraan roda duanya di garasi rumah Naila yang tampak masih menerima tamu yang tidak ia ketahui siapa. Nyalinya ciut saat melihat mobil itu benar benar mewah, bertengger di samping rumah kekasihnya.


Ia terus memghubungi Naila, tapi tetap tak di respon. Menepi saja di tempat yang sekiranya ia bisa berlindung, agar tak kepanasan saat hatinya ingin terus memantau tamu Naila.


"Main lagi Dic... Walau tidak bersama keluarganya." Ucapan Pa Bagus mengiring kepulamgan Dicky dan keluarganya.


"Siap pak. Nanti jika tidak repot dan Naila mengijinkan." Jawab Dicky sopan beralih pandang ke arah Naila yang terlihat ikut mengantar Dicky dan keluarganya pulang.


Tempat Nandang berada kini memang teduh, tapi tidak dengan hatinya. Rasa panas menjalar di relung hatinya, melihat lelaki yang ia ketahui bernama Dicky itu ada di teras rumah Naila beserta dengan orang orang yang Nandang simpul, itu adalah orang tuanya.


Mobil mewah itu sudah berlalu, Nandang membalik tubuhnya menghindar Dicky yang melintas di depannya, agar tak melihat keberadaannya kini.


Suasana rumah Naila kembali sepi. Tamunya sudah pergi. Harapan Nandang, Naila segera merspon panggilannya.


"Hallo kak Nan. Maaf, hape Nai di kamar. Jadi ga dengar panggilan dan chatt masuk " Sapa Naila tanpa menunggu Nandang membalas sapaannya. Begitu mode dering sudah berubah jadi angka detik dan menit di gawainya pertanda panggilannya sudah di terima oleh Nandang.


"Oh." Jawab Nandang singkat.


"Kak Nan mau bicara apa?" tanya Naila selanjutnya.


"Ehhm ..., tidak. Tidak ada yang penting. Hanya mau minta maaf soal responku semalam. Saat Nai bilang Dicky mengajakmu jalan." Ujar Nandang pelan.


"Oh ... Soal itu. Ga papa kak." Naila seolah tak bersemangat menanggapinya.


"Bisa ketemu di mana Nai?" Ajak Nandang memberanikan diri. Walau tak tau harus jujur atau tidak jika kini ia masih ada di sekitaran rumah Naila.


"Bisa kak. Jika pikiran kak Nan sudah jernih." Tegas Naila.


"Aku kerumahmu sekarang ya ...?"


"Silahkan." Jawab Naila singkat.


"Aku sudah di depan." Lanjut Nandang yang memang sudah berjalan ke depan pintu rumah tersebut.


Naila setengah berlari menuju depan pintu rumahnya, kaget melihat Nandang secepat itu bisa berada di depan pintu.


"Kak Nan ... cepat sekali datangnya." Respon Naila melihat kekasihnya sudah di depannya berjarak 3 langkah.


"Sesuai antrian Nai. Setelah nunggu tamu tadi pulang, baru aku berani ke sini. Ga punya nyali untuk menerobos masuk tadi." Jawabnya jujur.

__ADS_1


Naila tersenyum mendengar alasan Nandang.


"Mau jalan?" Ajak Nandang pada Naila yang ia tau pasti tak punya agenda untuk kemana-mana.


"Kamana?"


"Makan siang." Terang Nandang melihat jam di tangannya yang belum tepat pukul 12 siang itu.


Naila pamit sebentar dengan ibunya, kemudian sudah berada di atas motor Nandang.


"Nai ... Kemarin saat wisuda, ayahmu menanyakan tentang kelanjutan hubungan kita." Ujar Nandang saat mereka sudah sama sama menunggu menu makanan mereka di buatkan.


"Oh ..., Kak Nan jawab apa?"


"Belum jawab."


"Kenapa?'


"Belum tanya sama ayang Naila." Jawab Nandang menatap lekat mata kekasihnya.


"Kenapa tanya Nai ...? Tanya saja sama hati kak Nai. Apa sudah yakin ingin melanjutkan hubungan ini ke tahap selanjutnya."


"Jika hanya soal urusan cinta, aku bahkan punya seluas dunia untuk kamu Nai. Tapi ..."


"Ke tebak ya?"


"Banget. Kaya ga punya Allah saja yang bisa mengatur semuanya." Ujar Naila sambil menyambut hidangan makanan yang ia pesan.


"Nai ..., tadi tamunya siapa?"


"Dicky dan keluarganya."


"Ngapain?"


"Silahturahmi, sebelum lamaran."


"Siapa yang di lamar?" Kaget Nandang.


"Ibu."

__ADS_1


"Masa?"


"Ya Nai lah."


"Kamu bahagia bersama Dicky, Nai ...?"


"Makan aja, keburu dingin." Naila tak berminat menanggapi pertanyaan Nandang. Sampai mereka kembali ke rumah pun, tak ada obrolan selanjutnya.


"Ada tamu Nai?" Suara pa Bagus terdengar mendekati pintu rumahnya. Saat mendengar ada sudara orang bicara.


"Iya ayah, ada kak Nan." Jawab Naila menyilahkan Nandang masuk dan bertemu dengan ayahnya.


"Waah kebetulan, ayah lama ga main catur denganmu Nan." Respon ayah Naila yang selalu hangat pada kekasih anaknya itu


Seketika, takut dan canggung Nandang hilang. Ia mengira ayah Naila akan berubah setelah acara wisuda Naila. Juga atas kunjungan Dicky bersama orang tuanya tadi. Tapi ternyata tidak.


"Bagaimana usaha laundrymu, lancar?" tanya pak Bagus sambil menyusun bidak catur di atas papan.


"Alhamdulillah. Lancar." Jawab Nandang tanpa memandang wajah pa Bagus. Pura-pura sibuk menyusun bidak dan menghindar untuk bersitatap.


"Saat punya satu cabang laundry kamu berani membeli mobil. Saat menambah satu cabang lagi, kamu bahkan sudah bisa mengobati emak hingga pulih sambil membantu membiayai pendidikan Andini hingga selesai. Apalagi sekarang sudah punya tiga cabang. Apa masih ada cita-cita lain yang belum kamu capai sehingga kamu merasa belum pantas untuk melamar anak tunggal saya?" Ayah Naila mengesampingkan rasa malunya, untuk menuntut Nandang agar segera mempersunting anaknya.


"Maaf pak. Nan rasa, cinta saja tak cukup untuk melamar Naila, putri tunggal bapak." Nandang menunduk, bahkan tak berani menggerakkan bidak catur di hadapannya, walau sudah sampai gilirannya bergerak.


"Ya iyalaah. Makan itu cinta." Kekeh Pak Bagus menertawakan Nandang yang ia tau sedang dalan mode tegang.


"Lalu ... Jika cinta kamu tak cukup. Kamu mau menyerah?" tanya pak Bagus melenggangkan jalan bidaknya yang nendapat jalan untuk memukul bidak Nandang karena ia tak konsentrasi dengan permainan catur mereka.


"Tidak pak. Nan masih ingin berjuang. Nan ingin menjadi lelaki yang pantas untuk menjadi menantu bapak." Tangan Nandang mulai mengayunkan bidaknya, dan berhasil memukul bidak lawan.


"Mungkin selera bapak yang rendah atau bagaimana. Bahkan saat kamu hanya seorang anak yatim, yang masih duduk sebagai mahasiswa S-1 saja, bapak sudah senang, Naila memilihmu sebagai kekasihnya." Kalimat pak Bagus telak, ia sangat menginginkan Nandang menjadi menantunya.


"Maaf pak. Nan tidak bermaksud ingin mempermainkan Nai. Hanya Nan tidak percaya diri." Jujur Nandang pada pak Bagus.


"Kenapa ...? Masih menunggu punya NIP dulu baru merasa pantas dan percaya diri?" Pak Bagus sudah sering mendengar obrolan Andini dan Naila di sela kebersamaan mereka bersama, karena itu pak Bagus paham alasan Nandang seolah tak maju untuk meresmikan hubungannya dengan Naila.


"Tadinya begitu ... Tapi sekarang mungkin tidak pak." Jawab Nandang dengan suara agak pelan.


"Maksudnya ...?"

__ADS_1


"Bismillahirohmanirohim. Hari ini, saya Nandang Batuah meminta dengan resmi Naila anak Pak Bagus untuk menjadi istri saya, yang Insya Allah lahir dan batinnya akan saya cukupkan semampu saya." Entah dapat kekuatan dari mana. Tiba-tiba Nandang. Memberanikan diri untuk melamar Naila melewati ayahnya.


Bersambung ...


__ADS_2