PEJUANG NIP

PEJUANG NIP
BAB 65 : JADI PACARKU YA


__ADS_3

Saat sambungan telepon berakhir tepat di angka jarum pendek mengarah keangka 1. Dan jarum panjang di angka 12. Maka keduanya bersepakat untuk mengakhiri obrolan dengan alasan harus segera neristirahat dan tidur nyenyak di tempat yang berbeda satu sama lain. Kesepakatan untuk jalan-jalan esokpun, sudah matang. Maka sesuai dengan permintaan Nandang semalam Naila pun pamit pada kedua orang tuanya untuk pergi ke kampus ean setelahnya akan jalan-jalan bersama teman-temannya.


Izin jalan dengan teman saja yang Naila katakan kepada mereka dan izin pun diberikan.


Kedua orang tua Naila tidak menaruh curiga jika anak mereka jalan dengan Nandang, sebab Naila selama ini adalah anak yang baik dan patuh yang kemana-mana memang selalu izin. Walaupun dalam kurun waktu yang lama, tapi tidak pernah melanggar batas jam yang sudah orang tuanya tentukan untuknya.


Sampai kampus Naila resah dan gelisah, hampir dia tidak bisa fokus untuk menerima pelajaran yang diberikan oleh dosennya di kampus. Untung saja tugas kampusnya sudah ia kerjakan semalam, sehingga ia tinggal mengumpulkan saja tugas tersebut.


Pukul 9 waktu Indonesia nagian Barat mata kuliah berakhir disusul dengan pengumuman-pengumuman tambahan akhirnya pada pukul jam 9.30 akhitnya Naila benar-benar sudah keluar dari ruang kelasnya.


Nandang sudah berada di area kampus dan menunggu di Perpustakaan.


"Kak Nai, udah selesai nih. Kakak di mana?" isi chat Naola pada saat ia sudah berada di luar kelas.


"Kak Nan di Perpus. Bentar ambil motor dulu." Balas Nandang dengan cepat. Dan segera beranjak dari duduknya untuk menjemput gadis pujaannya.


Naila sudah menyiapkan pakaian, tahan panas seperti yang disarankan oleh Nandang. Walaupun tidak tau akan di ajak kemana. Maka senyum Nandang pun terkembang saat melihat pakaian yang Naila kenakan hari itu.


*Oke... sudah siap cantik." Seru Nandang menghampiri di mana Naila berdiri menunggunya.


"Kak Nan kok, sekarang aku panggil sku cantik sih?" protesnya.


"Kan emang bener cantik sekarang..." senyum tampan Nandang tercetak jelas di wajahnya.


"Baru sekarang aja? kemarin-kemarin nggak cantik Kak?" pancing Naila menanti jawaban Nandang dengan tatapan sendu.


"Kemarin cantik, sekarang cantik banget. Tapi dietnya udah aja ya, Nai. Nanti terlalu kurus, kurang bagus."


"Kan Bagus udah ada di rumah kak."


"Iissh... serius ga boleh kurus dari ini."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti kamu makin cantik." Kekeh Nandang terlihat masih betah ngobrol di tepi jalan.


"Ya... syukuur lagi kak kalo makin cantik." Jawabnya dengan perasaan hati yang menghangat.


"Jangan... ntar di ajak balik sama Heru lho." Gurau Nandang.


"Hah....!!! emang Nai mau balikan sama Heru. Maaf ya pas udah kecilan gini seleraku ga Heru lagi lah Kak." Tawa Naila melebar.


"Wooow... seleranya ganti ya? Jadi suka sama yang gimana dong sekarang?" Kepo Nandang.


"Kasih tahu nggak ya?" canda Naila pada Nandang yang penasaran.


"Kasih tau laaah."


"Kak kita jadi jalan ga sih?"


"Oh iyaa... ya. Yuk... naik." Nandang mempersilahkan Naila naik ke belakang motornya.


Seperti biasa tanpa diperintah tangan Naila sudah melingkar saja di perut sixpack Nandang. Terbayang kan bagaimana sumringahnya senyum keduanya yang sama sama sedang di landa kasmaran. Namun belum saling jujur saja.


Sementara Naila tidak sadar jika ekspresi wajahnya itu terpantau oleh Nandang yang diam diam juga berhasil membuat taman bunga di dalam hatinya.


Nandang membawa Naila agak jauh dari tempat mereka biasa jalan jalan. Tepatnya mereka ke daerah Citarum, demi menikmati jajanan es krim di sebuah kedai. Untuk tempatnya memang kecil. Disediakan tempat duduk tapi terbatas. Karena kedai itu yang lebih cocok untuk take away.


Pilihan rasa eskrimnya masih terbatas. Untuk menu yang dicoba yaitu Es Krim Pina Colada, es krim rasa vanila dengan campuran buah nanas dan biskuit. Seharusnya rasa buahnya lebih strong tapi ketutup dengan rasa biskuit dan vanila. jadi lebih terasa manis dibandingkan asam segar. (red google).


Entah karena Nandang teringat mimpi pertamanya menikmati es krim bersama Naila. Atau memang suka dengan makanan yang manis manis. Sehingga Nandang mengajak Naila ke tempat ini.


"Udah sampe Nai." Nandang menghentikan motornya di parkiran depan kedai es krim tersebut.


"Kenapa kita harus berhenti di kedai es krim Kak." tanya Nayla sambil turun dari boncengan motor Nandang.


"Karena kak Nan, lagi mau menikmati yang manis-manis aja sama kamu, Nai." Jawab Nandang menarik tangan Naila untuk ke bagian depan kedai memilih es krim yang akan mereka nikmati.

__ADS_1


"Suuuiit banget sih." Jawab Naila seadanya. Kemudian terlihat sibuk membaca pilihan rasa yang tersedia.


Walau tempatnya kecil tapi tidak berarti tak ada tempat nongkrong. Ada, tapi tak banyak juga outdoor. Sehingga memang kurang nyaman untuk berlama lama di sana. Jika ingin menghabiskan waktu untuk ngobrol yang agak serius.


"Kemarin waktu di rumah Kak Nan, kita keseringan nikmati kopi Nai. Pahit. Sepahit hati kak Nan nunggu kamu putus sama Heru." Naila mengerlingkan matanya ke arah Nandang.


"Pas KKN dapat ilmu gombal juga kak?" tanya Naila berusaha tidak kelihatan panik atau Ge-eR.


Nandang tak sempat menjawab, karena pelayan kedai sudah datang mengantar pesanan mereka.


Mereka pun menikmati dingin dan segar manjanya es krim di hadapan mereka dengan suasana pikiran masing masing yang masih menyimpan teka teki yang belum selesai di mereka selesaikan.


"Mau lagi Nai..." Tawar Nandang. Naila segera menggeleng.


"Udah kak."


"Takut gendut lagi ya?"


"Ga lah kak."


"Mau pindah tempat? di sini mulai panas." Ajak Nandang lagi.


"Kemana lagi siih kak."


" Ga jauh kok. Masih di daerah sini. Adem dari di sini. Banyak menu sehat dan mengeyangkannya juga. Tenang low karbo." Jelas Nandang lagi menarik tangan Naila, dan segera beralih menuju Lula Bakery & Cafe, masih di seputar Citarum.


Nandang lebih suka di ruangan yang ada ruang agak tertutup, adem dan suasana romantis.


"Kita makan lagi kak?" tanya Naila agak bingung melihat Nandang membaca daftar menu makanan lagi.


"Tadi kan kita cuma ngemil, ga makan."


"Tapi kan manis kak...!" serunya agak kaget.

__ADS_1


"Ga usah takut gendut. Pokoknya mau kamu kecilan atau gendut lagi. Kak Nan tetap cinta sama kamu Nai. Jadi pacar ku ya..." Ups... kalimat sakti itu akhirnya terlontar juga di sebuah pojokan cafe, di siang bolong pula. Untung saja ruangannya berAC sejuk sepoi sepoi. Jika tidak, dapat terbayang besarnya peluh Nandang yang gugup menyatakan cintanya.


Bersambung...


__ADS_2